Pelajaran dari Dewi Gendari, sosok ibu Kurawa

Standar

“Dewi Gendari namanya, putri dari Prabu Subala, dari kerajaan Gandhara di utara India. Dewi Gendari berupa cantik sebenarnya, tapi ia tak terpilih tuk dijadikan istri oleh Pandudewanata, malahan dia diberikan pada Drestarata, kakak Pandu yang tertua dan buta. Awalnya Gandari jijik dan menyesal kepadanya, tapi akhirnya dia menerima apa adanya sang Drestarata. Dewi Gendari adalah sosok setia pada itu suaminya, setelah menikah bahkan selalu menutup mata, agar dia merasakan penderitaan suaminya yang buta.
Pada awalnya, ketika hamil muda, ia diramalkn oleh Begawan Abysa, bahwa akan mempunyai anak 100 jumlahnya, dan memang benar kemudian adanya. Hanya ada seorang putri daripada anaknya, dialah bernama Dursala. Dan sisanya pria antagonis di Mahabarata semua.
Walau demikian keadaannya, Gendari selalu mengasihi anak-anaknya, dia slalu menasehati agar mereka selalu berdharma.

Tapi karena pengaruh Sengkuni, para Kurawa brtabiat jahat hingga mati. Sengkuni adalah adik Gendari, dialah paman Kurawa berarti.

Ketika permainan dadu Puntadewa dan Duryudana, yang akhirnya berakhir dengan kekalahan Pandawa, lalu oleh karenanya Istana Indraprastha atau Amarta, serta Drupadi pun menjadi milik Kurawa, semua itu karena taruhan tiada guna, hasutan Kurawa. Dewi Gendari, ibu Kurawa, tahu keadaannya, dia menolong Pandawa dengan menyuruh Duryudana, agar mengembalikan semua taruhannya. Walau jahat adanya para Kurawa, tapi Duryudana dan saudara-saudaranya itu patuh dan sayang pada ibunya. Tapi pada akhirnya, pengaruh Gendari kalah dgn Sengkuni angkara murka.

Ketika perang Bratayudha, melihat anak-anaknya terbunuh di medan laga, Gendari sangat sedih keadaannya, ingin lindungi dia punya anak-anak, tapi tak kuasa. Ia hanya dapat membri kekebalan kepada Duryudana, lewat Gendari punya pancran mata. Tapi pula, ada begian tubuh yang tak tersinari cahaya mata, yaitu bagian paha, dan kemaluan Duryudana, itulah kelemahan ia.

Ketika perang usai, Gendari menemani sang suami, untuk bertapa di hutan mengasingkan diri. Lalu mereka mati, karena terbakar oleh Drestarasta punya api suci.”

Sepenggal prosa buatan saya untuk sosok Gendari, sosok ibu Kurawa yang dapat kita ambil hikmahnya.

Ibu adalah sosok tiada bandingan bagi masing-masing insan. Beliau senantiasa mengasihi kita walau apa pun. Oleh karenanya, jangan pernah buat kecewa ibu kita, jangan lah buat ia menangis, khawatir, kesal atau apapun.
Ketika seorang bayi di dalam kandungan ibunya, ia senantiasa seperti dalam sorga, bernaung di antara air ketuban yang membuatnya nyaman, karena siklus pergantian air ketuban dalam rahim ibu, rahim yang begitu lembut membuai bayi, plasenta (ari-ari) yang memberi nutrisi, aliran darah ibu yang begitu hangat membuai, bayi terpejam dalam mimpi indah di dalam itu semua.

Tapi ketika lahir, semua harus dehadapi oleh bayi, suasana menjadi begitu asing dan tak senyaman rahim, menangislah ia akrena nikmatnya berakhir ke dunia. Dan setelah itulah ibu, yang membimbing bayi untuk mengenal dunia luar satu per satu, beliau mengajarkan, mengasihi kita, membimbing kita sampai kita dapat menjadi seperti sekarang, berdiri atau duduk membaca tulisan. Sabda Rasulullah ‘Ibu,.. ibu,.. ibu,.. ayah’. :)

“Whenever the rain comes down and it’s seems there’s none to hold me
She’s there for me, she’s my mom” – Sheila on 7

just for my mom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s