Bahasa Jawa (2)

Standar

Beberapa waktu lalu pernah saya ungkapkan bahwa Bahasa Jawa adalah sebuah “pengengkangan”, bukan berarti apa-apa, maksud saya adalah bahasa yang memisahkan dan bertingkat-tingkat untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama orang Jawa. Baik, itu semua sudah di setujui dan dimaklumi bahkan sudah dilestarikan sampai sekarang tentang bahasa itu. Mungkin itu juga yang membuat banyak sastrawan asal Jawa yang menulis dalam bahasa Indonesia, bukan dalam Bahasa Jawa, atau mungkin mereka sudah terbiasa dengan Bahasa Indonesia, bahkan bahasa inggris. Jika anda membaca cerita tentnag Jawa, anda akan membacanya dalam bahasa Indonesia, bukan? Itulah satu kelemahan kita dalam melestarikan budaya. Kita sudah seharusnya memperlakukan budaya kita sendiri, baik jawa maupun yang lainnya, selayaknya kita memperlakukan bahasa Indonesia. Bukan berarti ini menjunjung tinggi suku tertentu, tapi alangkah baiknya jika yang berasal dari suku itu melestarikan budaya suku itu sendiri. Yang dari Jawa, lestarikan budaya Jawa, paling tidak bicaralah jawa dalam konteksnya, mengerti unggah-ungguh, begitu pula Sunda, Betawi, Madura, Bali, Batak, Melayu, Bugis, dan sebagainya.

Manusia Indonesia itu gila pada tren, tren sekarang adalah bahasa asing. Iya, itu memang benar, bahasa asing itu penting untuk masa sekarang, bahasa Inggris, Jepang, Cina, Arab, itu adalah bahasa-bahasa mendunia. Tapi kapan kita berpikir bahwa bahasa kita, baik itu Indoensia maupun daerah akan menjadi bahasa mendunia? Nenek moyang telah mewariskan budaya yang begitu agung, begitu besar, begitu luhur, mereka menemukan bahasa jawa dari sanskerta, huruf-hurufnya pun begitu.

Pernahkah melihat Opera Jawa? Film yang tak diedarkan di Indonesia, tapi ada di youtube.com sekarang. Anda akan melihat suatu kerangka cerita Ramayana dalam sebuah Opera Jawa yang difilmkan, sampai dialog-dialognya pun menggunakan dialog nyanyian jawa. Gerakan-gerakan diiringi tarian, namanya juga opera. Itu adalah suatu bentuk kebanggaan pada budaya daerah, budaya kita sendiri, bagaimana kita melestarikan suatu bahasa yang tertuang dalam sebuah film, menggunakannya dalam sebuah film besar.

Beberapa kata dalam bahasa Jawa Tengahan (solo-jogja) yang sekarang jarang digunakan oleh kebanyakan orang dalam percakapan sehari-hari antaranya adalah ‘yen’ (kalau), ‘nalika’ (ketika), ‘sira/sliramu,slirane’ (kamu), ‘tuladha’ (contoh), ‘dene’ (sedangkan), ‘kanthi’ (dengan) dan sebagainya, kata-kata itu lama kelamaan akan hilang, diganti dengan kata-kata serapan dari bahasa Indonesia. Adapun beberapa kata dari bahasa Jawa Banyumasan adalah suatu keniscayaan tersendiri dari sebuah bahasa yang besar seperti bahasa Jawa ini, kosakata ‘teyeng’ (bisa), ‘kencot’ (lapar), ‘dhisit’ (dulu), ‘rika’ (kamu), ‘kuwe’ (begitu), ‘kiye’ (begini) dan sebagainya. Jika digali, maka bahasa Jawa mempunyai penjelasan yang panjang lebar karena memiliki banyak budaya yang antar wilayah berbeda tapi masih dalam konteks ‘jawa’. Pun bahasa Bali yang mempunyai akar budaya yang sama yaitu kala Majapahit, sehingga beberapa kosakata sama, juga Sunda.

Mempelajari budaya sendiri adalah sebuah pilihan, jika budaya itu hilang tergerus waktu adalah suatu keniscayaan akibat pengguna budaya itu yang tak bangga atau kurang berkenan pada budayanya sendiri atau karena ketidaktahuan, keterbatasan sumber, dan sebagainya.

One thought on “Bahasa Jawa (2)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s