Pembualan itu

by membualsampailemas


Kau tahu, membual itu ada batasnya, ada pencapaianya. Ketika seseorang membual, dia berpikir akan membual apa selanjutnya setelah berbual tentang sesuatu tertentu dan akan berpindah pada topik bualan selanjutnya. Jangan berpikiran bahwa para pembual ini tidak pernah berpikir dalam berkata-kata, salah! Itu salah besar! Mereka selalu berpikir bagaimana agar bualannya tidak mudah habis dan akan terus berlanjut. Bagaimana agar bualannya tidak menjemukan. Bagaimana agar bualannya dapat diterima di otak pikiran orang yang sedang “dibuali”. Aku tak pernah memaksa seseorang untuk mendengarkan bualanku, dan aku selalu berpikir agar orang yang aku “buali” mendapatkan apa yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Apa yang harus kuperbuat agar dalam membual, orang yang menyimakku itu tidak bosan, tidak malas, percaya dan tertarik pada bualanku yang ternyata memang hanya bualan belaka.
Bualan adalah sesuatu yang berkonotasi negatif –bahkan orang yang membual sepertiku pun berpikirian bahwa sesuatu yang diperbuat pembual adalah cenderung negatif- sehingga banyak orang yang tidak suka pada para pembual. Apa itu membual? Hanya membodohi saja. Hanya membuang waktu saja untuk melewatkan hidup yang panjang dan begitu sibuk ini. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan daripada hanya sekedar membual dan atau mendengar/menyimak bualan orang lain. Lalu apa yang kalian lakukan sekarang?
Aku yakin se yakinnya bahwa tak akan ada orang yang selesai dan menyeluruh membaca bualan ini. Aku yakin! Mengapa? Karena ini semua membosankan. Aku sebagai si pembual pun merasa bosan, apa lagi yang di buali seperti kalian ini? Tidak bosankah? Walau aku berpikir agar bagaimana caranya supaya kalian tidak bosan, tapi aku hanya berpikir, mungkin usaha yang tak sampai, buktinya kalian tidak selesai membaca bualan ini. Aku pun tak yakin ada orang yang akan sengaja membaca tulisan ini.
Aku tergila-gila pada hal membual karena dalam suatu bualan, mengandung makna yang sangat halus dan mungkin hampir tidak terlihat, yang akan secara tidak langsung menyerang pemikiran seseorang yang dibuali itu. Ini adalah senjata rahasia para pembual yang selalu menyisipkan belati pikiran yan akan memutus suatu ikatan di otak para pendengar atau penyimak bualan. Sampai akhirnya orang yang dibuali akan kehilangan akalnya, akan terserang pikirannya, akan gila! Tapi sayangnya aku hanya bercanda akan hal itu.
Aku selalu mendambakan dan mengagumi cerita yang tiada akan pernah habis. Cerita yang endless, yang selalu berulang pada suatu titik tertentu untuk mengulang seluruh cerita dari awal hingga akhir tapi lalu pada titik akhir itu juga merupakan titik awalnya juga, sehingga ada saat-saat terakhir itu kau akan kembali membaca cerita dari awal lagi dan mengulang seluruh cerita sampai tuntas tapi kau tiada akan menemui akhir yang sebenarnya.
Adalah sebuah cerita yang rumit yang pembualnya selalu membelokkan waktu di dalam cerita, sehingga para ‘aktor’ dan ‘aktris’ cerita tiada akan pernah beristirahat. Si pembual akan terus menerus memaksa para tokoh untuk berperan mengulangi kejadian demi kejadian yang dialaminya sampai cerita itu terulang kembali. Sangat menyiksa, tapi mengasyikkan. Siapa peduli pada nasib para tokoh maya itu? Waktu dapat dibelokkan di dalam cerita, dapat di majukan semaju-majunya, dan dapat di putar ulang ke belakang sebelakang-belakangnya. Atau bisa juga dihentikan sehenti-hentinya, juga bisa dilambatkan atau dicepatkan sejadi-jadinya. Hebat kan? Itu baru dari segi waktu, belum dari segi kejadian, tempat, tokoh, pesan moral dan tetek bengek lainnya. Habatnya jadi seorang pembual, tapi itu hanya berlaku pada cerita bualannya saja. Dia akan meaningless  di dunia nyata fana ini.
Saat kau bisa membolak-balikkan kata demi kata dan kau bisa memainkan seluruh kata yang kau kuasai di dunia ini, kau adalah seorang pembual, tak lebih dari itu. Tanpa kita sadari, setiap hari kita membual tiada habisnya, dan tiada hentinya, bahkan dalam mimpi pun. Tapi tiada seorang pun yang mau mengakui dan memaklumi bualan itu.