Api Berpedang

by membualsampailemas


Seorang tua muncul dari belakang panggung pertunjukan sirkus malam minggu itu. Dia tua, tapi siapa sangka dia masih sekuat muda dulu. Tak ada yang benar-benar tahu tentang masa mudanya, ada yang bilang dia adalah mantan algojo kerajaan, ada yang bilang dia adalah mantan pasukan rahasia kerajaan yang bertugas melindungi raja dan menjadi mata-mata, ada juga yang bilang dia adalah panglima besar pemimpin batalyon 17 yang berisi orang-orang yang pengendalian apinya tingkat 4.

Sejauh yang diketahui orang-orang, tak ada yang benar-benar dirasa benar tentang cerita masa lalunya, karena dia sekarang hidup tanpa musuh, tak ada yang pernah mencarinya, bahkan terlalu ramah untuk mantan orang kuat dulunya yang pastinya didendami oleh banyak orang, badannya pun tak kekar. Mungkin karena sudah tua, kekekarannya hilang. Tapi dia sama sekali tak gendut atau membuncit.

Pekerjaannya sehari-hari adalah seorang penyedia penerangan api untuk sirkus, tentu dia adalah pengendali api, tapi bukan sesuatu yang hebat seperti kata orang-orang, karena dia juga bukanlah pemain sirkus itu sendiri, bukan pelatih, hanya seorang yang menyalakan obor dan lainnya untuk keperluan sirkus, kecuali dia menyembunyikan kehebatannya itu. Adapun kehidupan masa lalunya adalah hal yang tak penting lagi, yang penting kota kami aman, dan dia bukanlah suatu ancaman besar.

Yang menarik untuk diceritakan tentang dirinya adalah keramahannya pada siapa saja, baik pada penduduk kota ini, maupun bagi para pendatang. Hampir semua orang mengenalnya atau palin tidak tahu dia siapa, sifatnya yang bijak dan tak mudah marah membuat dia mudah kenal dengan siapa saja. Kota kami adalah kota pelabuhan, terletak di barat daya negara api. Banyak kapal-kapal singgah untuk sekedar beristirahat atau menitipkan barang dagangannya di sini. Ini kota bukanlah kota dagang, tapi merupakan kota transit kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia untuk menuju ke pusat perdagangan kerajaan bumi. Secara teknis, kami lebih dekat dengan kerajaan bumi daripada dengan pusat ibu kota negara api. Maka dari itu, orang-orang di sini sebenarnya tidak hanya para orang-orang negara api, tapi banyak juga dari kerajaan bumi yang bertransmigrasi kemari. Bisa dibilang ini adalah kota perbatasan.

Yang kutahu, orang tua itu tak punya nama, dia sering dipanggil “paman” atau sekedar “hey, orang tua!” dan itu tetap membuatnya tersenyum pada siapa saja yang memanggilnya. Suatu saat, aku pernah mendengan pengetahuannya tentang pengendalian api, dia tahu kelebihan dan kekurangannya, titik lemah dan titik kuat, tapi sejauh ini dia tak pernah mempraktekkannya, olehkarenanya dia juga sering disebut pembual, dan dia tetap tersenyum. Aku pernah dibuali tentang kelemahan jurus keluargaku, jurus turun-temurun yang diajarkan hanya di klanku. Klanku semuanya memiliki belati agak panjang yang sedikit melengkung, gagangnya dari kayu jati yang kuat, penempanya pun adalah dari klan kami sendiri, belati yang tajam di satu sisi, dan sisi lannya melengkung ke dalam, tak terlalu tipis, tapi tak juga tebal, berat? Iya. Jurusnya terkenal di seluruh kota ini, itu dia sebagian dari klan kami menjadi penjaga barang transit yang dititipkan di gudang-gudang pelabuhan ini, tapi aku tidak. Namanya adalah belati api.

Itu adalah satu-satunya di kota ini, yang lain adalah pengendali api biasa. Kemampuan untuk mengalirkan tenaga dalam ke dalam belati yang membuat belati panas dan menyala api bisa dipelajari setiap pengendali api, tapi hanya klan kami yang mempu menggunakan tekhniknya dengan baik.

Suatu hari aku pergi ke pelabuhan, untuk membantu pamanku, Luthant, mengangkut barang dagangan dari utara negara ke selatan, mungkin ke kerajaan bumi, dia bilang itu barang berbahaya, tidak boleh ada pengendalian api dalam jarak 10 meter dari barang itu. Aku harus menjaga agar tidak ada yang bermain dengan pengendaliannya di radius 10 meter. Cukup mudah, karena di sini ada peraturan bahwa setiap warga yang berkunjung ke kota ini dilarang menggunakan pengendalian selama tidak ada perlu atau hanya bermain-main, kecuali untuk bekerja. Tidak ada yang boleh berkelahi di sini. Tapi aku harus tetap waspada pada siapa saja. Mungkin barang yang kami jaga ini adalah kembang api, atau bom, atau sesuatu yang mudah meledak lainnya. Meski aku bukan seorang penjaga, tapi kebetulan pamanku mengejakku ke sini untuk membantu, dan aku bukanlah orang yang tak bisa menjaga.

Aku hanya mengawasi saja, tak ikut membawa dan mengangkut barang itu ke dalam kapal. Sampai aku didatangi pria gemuk yang mengenakan rompi tanpa dalaman. Dia terlihat separuh baya, dan selalu menggigit rumput di mulutnya, seperti kambing saja.

“hei, kau!” katanya.

“iya tuan.”

“siapa namamu?”

Aku diam saja karena waspada.

“kau tak punya nama, heh?”

“saya keponakan paman Luthant.”

“iya, aku sudah tahu itu, kau muda, dan penuh semangat, aku ingin mengajakmu berkelana. Mau? Paling tidak sampai di kerajaan bumi nanti untuk mengantar kembang api ini.”

“kembang api?”

“iya, sebentar lagi ada festival di sana, mereka butuh sesuatu yang meriah, bukan hanya ledakan biasa, tapi ini yang luar biasa. Huahahahaha!” tawanya menggelegar, tapi seolah tak ada yang pedulu akan tawanya itu.

“apa saya dibayar?”

“tentu, tapi kau harus melalui ujian dulu, aku tak mau mengajak sembarang orang ikut mengawal daganganku. Aku telah memilih beberapa pemuda di kota ini untuk diadu kekuatannya nanti malam, karena lusa aku berangkat. Aku dengar dari pamanmu, kau cukup hebat, nak. Apalagi kau ini klan belati api?”

“tak semua hebat di klan kami, tapi kalau tuan tanya kehebatan saya, saya bukanlah orang yang mudah menyerah.”

“huahahahaa” tawanya menggelegar lagi.

“baiklah, nanti malam saya akan datang kemari.”

“syukurlah, makin banyak peserta, makin banyak orang kuat. Tapi tak di sini, anak. Kita berkumpul di bukit sana.”

“baiklah.”

Orang itu melempar senyumnya, dan berlalu. Tapi setelah beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik.

“aku harus memanggilmu apa, anak?”

“tanpa nama.”

“bauklah, tanpa nama.” Dia berlalu.

Dalam hati, aku merasa bukan hal yang berat untuk duel kekuatan. Aku pasti menang. Apa lagi diantara orang-orang seusiaku, aku akan menang mudah. Dengan belati apiku, aku akan memenangkan hal itu. (bersambung)

Iklan