Api Berpedang 2

by membualsampailemas


Sampai hampir semua barang terangkut dan karena sudah senja, langit sudah menyala-nyala, dan matahari separuh tenggelam, semua dihentikan. Pemandangan matahari tenggelam adalah hal paling menjual di kota ku, mungkin ini juga salah satunya yang membuat kota ini makin ramai. Pasangan muda-mudi berrangkulan sambil memandang matahari itu perlahan tenggelam, tidak di pelabuhan, tapi di balkon-balkon sebelah utara yang bukn pelabuhan, karena di pelabuhan suasana tak lagi romantis, bahkan tak ada yang peduli tentang keindahan matahari tenggelam karena itu sudah sangat biasa.

“semua, terimakasih atas bantuannya, kami akan mengupahi besok ketika semua sudah terangkut ke kapal, kembalilah esok pagi.” Kata seorang berbadang kurus yang juga memakai rompi tanpa dalaman seperti pria gemuk tadi.

Aku heran, dalam satu kapal, bisa ada dua orang yang berbeda, yang satu gemuk, yang satu kurus seperti tak pernah makan. Teringat dengan orang tua yang ramah itu, dia juga agak kurus. Tapi sangat ramah, tak seperti para pelaut itu. Bagaimana ada orang kurus di kapal, sedangkan untuk menarik tali kapal saja harus orang yang benar-benar kuat. Bukankah semua harus bisa menarik tali kapal? Buat apa jadi pelaut jika tak bisa itu. Aku juga ragu kalau si gendut tadi adalah seornag perenang yang baik.

Semua bubar dan kembali ke rumah atau penginapannya masing-masing. Aku berjalan di atas papan kayu perlahan sambil melihati para pedagang kacang yang mulai memasang gerobaknya di tempat-tempat strategis untuk berjualan malam-malam nanti. Aku melihat orang tua itu sedang membeli kacang.

“hei paman,!” sapaku. Dia menoleh.

“halo, keponakan Luthant!” seperti biasa, sambil tersenyum. “mau kacang?”

“tidak, terimakasih”

“aku tak bernah melihat kau di sini, kenapa kau di pelabuhan? Mengangkut barang?”

“tidak, hanya mengawal.”

“oh, kau seorang pengendali hebat, klan belati api, pantas untuk mengawal kembang api.”

“bagaimana paman tahu kalau aku mengawal kembang api”

“hahahaha, hanya klan belati api yang boleh mengawal kembang api di sini, karena mereka membuat besi menjadi panas, bukan mengeluarkan jilatan api ke udara. Hahaha”

“benarkah? Aku bahkan tidak tahu tentang hal itu, paman.”

“mau kacang?”

“tidak.”

“kau mau mengembara?”

“bagaimana paman bisa tahu?”

“semua orang di sini pasti pernah mengembara, dan kau pasti juga akan mengembara, dulu pamanmu itu juga mengembara, ke kutub utara, nak. Haha. Dia kedinginan di sana. Hahahaha”

Aku kadang menduga dia ini agak gila, di kutub utara jelas saja dingin. Bahkan aku tak pernah dengar cerita ini dari paman Luthant.

“benarkah? Aku belum pernah dengar?”

“belum? Hmm,mungkin dia tidak mau menceritakan hal itu. Dia dipermalukan di sana, jadi mungkin tak mau menceritakannya.”

“sepertinya paman ini banyak tahu?”

“tentu. Mau kacang?”

Untuk ketiga kalinya dia menawariku kacang. Dan aku tetap menjawab.

“tidak!”

“hahahaha, ini kacang enak sekali. Kau membutuhkannya untuk tenaga nanti malam.”

“bagaimana paman bisa tahu?!” aku mulai sebal, karena dia seolah tahu segalanya tadi.

“hahahaha, semuanya tahu,nak!”

Tertawanya membuatku kesal.

“sudahlah, aku mau pulang” kataku. Dan aku berlalu saja.

“tunggu, nak! Sepertinya kau belum siap berkelana. Pengendalianmu harus lebih dilatih lagi. Saranku, jangan gunakan belati itu nanti, percuma, nak. Pertarungan pengendali api sebenarnya adalah pertarungan jarak menengah, bukan jarak dekat seperti jangkauan belati mu itu. Jangan tergantung padanya.” Katanya sambil tersenyum

“tahu apa paman tentang klan ku? Bahkan paman sendiri bukanlah pengendali api yang hebat.”

“tapi aku tahu yang terbaik dari tekniknya.”

“untuk apa? Sirkus?!”

“hmm, tentu. Hahahaha”

Aku berlalu saja, seandainya dia berceloteh lagi, aku tak akan berhenti.

“ingat, nak, para pembuat belati menempa besi dalam keadaan panas! Hahahaha”

Malamnya, aku berjalan ke atas bukit, tak jauh dari pelabuhan. Terlihat dari jauh nyala api yang meredup dan kadang menyala-nyala. Seperti ada yang kebakaran saja. Aku sudah bisa menduga, pertandingan sudah dimulai. Aku sengaja datang agak telat, supaya tidak bertanding pertama. Licik. Memang. Teringat lagi kata orang tua itu, pembuat belati menempa besi dalam keadaan panas. Maksudnya agar aku jangan menggunakan belati itu nanti? Aku pun bukannya tidak tahu bahwa besi panas akan lebih lunak daripada besi dingin, tentu. Tapi aku tetap bisa mengendalikan aliran panasnya, tidak akan terlalu panas, lagi pula, inti dari jurus ini adalah bielati sebagai media penyambung tubuh untuk membuat api.

Cahaya kemerahan semaikn dekat, ternyata banyak juga orang yang menonton, atau mereka semua ikut bertanding, aku tak tahu. Aku melihat banyak orang mengerumuni dua orang yang sedang bertanding, tak tahu siapa mereka, aku tak kenal. Tapi memang benar kata orang tua itu, ini pertarungan jarak menengah, mereka yang sedang bertarung tidak memakai senjata, hanya tangan kosong. Apa ini pertandingan tangan kosong dan hanya menggunakan pengandalian api? Tapi tadi orang gendut yang menawariku tahu bahwa aku adalah klan belati api.

“hei, incar kakinya!”

Seorang dengan ikat kepala merah yang tak lazim di kota kami itu tersungkur karena tendangan yang mengeluarkan api dari lawannya. Sepertinya lawannya penduduk kota ini, aku sering melihatnya, berjenggot tipis dan rambutnya dikuncung, sekarang rambutnya sudah berantakan, keringat bercucuran karena kelelahan bertarung dan karena panasnya api. Arena bertanding ini adalah lapangan tempat anak-anak sekitar bermain yang diberi rotan untuk batas, berbentuk persegi yang memanjang, agak panjang.

“nak, kau hendak ikut?” kata seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berkulit cokelat tua, terlalu banyak terbakar matahari. Sinar obor yang menerangi membuat kulitnya seperti lelehan cokelat panas.

“iya, bapak.”

“majulah!”

Dia mendorong ku ke tengah lapangan seketika, aku kaget dan hampir saja jatuh.

“hei, dia rang belati api! Kau mau pakai senjata nak!?” teriak orang kurus yang kulihat tadi sore. Aku Cuma menganggukkan kepala. “kalau begitu, lawanmu adalah dia!” sambil menunjuk pemuda yang berbaju hitam dan punya dua pedang di punggungnya, pedang yang melengkung dan tajam di sisi lengkungan luarnya.

Aku agak gugup, karena ini adalah pertarungan pertamaku dilihat banyak orang. Aku mencabut belatiku dan memegangnya terbalik, tidak seperti memegang pedang. Aku mulai mengalirkan pengendalianku ke belati itu. Besi itu mulai panas dan mengeluarkan api. Aku memasang kuda-kuda.

Lawanku pun sudah mencabut pedangnya. Aku sekarang tahu, yang memakai senjata akan dipasangkan dengan yang memakai senjata pula. Siapa yang menyangka aku akan berhadapan dengan pemuda yang sering kujumpai di pasar dan suka mengangkut teh dari kota pedalaman sana. Dia tak kukenal, tapi aku hafal wajahnya itu dan aku tak menyangka bahwa dia bisa memainkan pedang, pedang lengkung pula. Mungkin dia bermain pedang untuk menjaga barang bawaannya yang selalu diantarnya tiap selasa sore itu.

Aku maju dan berlari menyerangnya, belatiku sudah merah karena terpanggang api, dan selalu mengeluarkan jilatan api yang memanjang dari belati itu. Secepat kilat dia menghindar dan menangkis belatiku dengan pedangnya, sama sekali belum mengeluarkan pengendalian api.

Aku tertunduk malu dan berjalan pulang. Malu, karena aku sudah dikalahkan oleh seorang tanpa pengendalian api, yang hanya mengandalkan senjata. Sedangkan aku adalah orang yang menggunakan keduanya. Semua menonton, aku tak punya muka untuk pergi ke pelabuhan lagi, semua sudah tahu. Sungguh pengalaman yang memalukan, tapi dari sinilah semua itu berawal, sesuatu yang mengubah hidupku secara keseluruhan suatu saat nanti.

Pembaca yang budiman, kita selalu berkonsentrasi terhadap keinginan terbesar kita, tapi kadang kita lupa, masih ada takdir yang terlah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Sewaktu aku dikalahkan oleh pemuda pengantar barang itu hanya dengan pedang kembarnya, aku sangat malu, tapi kini aku berterimakasih padanya. Hal yang tak ingin aku jalani, yang tak terbayangkan, sudah terhalau oleh kalahnya diriku. Sungguh aku tak menyangka bahwa semua itu akan terjadi, bagaimana jika tidak, mungkin aku akan terlibat perang yang tak berkesudahan ini.

Kita kembali ke masa lalu itu, setelah aku terkalahkan oleh pemuda yang belakangan ku ketahui namanya adalah Vansky, orang dari utara sana yang mengembara sampai ke selatan sini untuk mencari penghidupan dengan bermodalkan ilmu pedangnya, tanpa pengendalian, aku tertunduk malu dan berjalan pulang sambil membawa belatiku yang patah karena sabetan pedang yang sangat tajam, tapi karena belati itulah, nyawaku terselamatkan. Entah dari apa pedang kembar itu terbuat, yang jelas itu bukan besi sembarangan. Berulang kali aku menyabet pedang itu dengan belati panas, yang ada hanya percikan api tanpa goresan pada pedangnya itu, berulang kali aku mencoba menyerangnya, tapi nihil, dia terlalu mahir bermain pedang, yang ada belatiku semakin terluka karena sama saja tertempa lagi, sampai akhirnya dia menyabetkan sisi tajam pedangnya ke arahku, lalu aku menangkisnya dengan belati api ku dan itu membuat belatiku patah, seperti teriris sesuatu tajam.

Bagaimana bisa sebuah pedang setajam itu, suatu saat aku pun akan mengetahuinya. Tapi malam itu aku benar-benar tak sempat berpikir demikian, yang ada di pikiranku adalah rasa malu telah terkalahkan oleh seorang tanpa pengendalian api. Semua orang terdiam melihat aku teracungi pedangnya, lalu dia pergi berbalik keluar area pertandingan. Tak ada alasan untuk menyerangnya dari belakang ketika dia berbalik badan, semua nanti akan mempermalukanku. Semua sudah tahu bahwa dialah yang menang dan aku yang kalah.

Aku tertunduk dan duduk di emperan daerah pertokoan, tampat paling jauh dari pelabuhan, hari sudah gelap, dan bulan hampir purnama. Semua sudah tutup, hanya aku dan kucing-kucing liar yang ada di luar. Saat itu juga aku mendengar dekap langkah mendekat, tapi aku tak peduli, palng hanya gelandangan. Sampai dekap langkah itu terhenti di dekatku. Ternyata itu adalah orang tua yang tadi sore.

“pulanglah,nak.”

“apa pedulimu, paman.”

“hari sudah gelap, tidak baik jika kau berada di luar sini.”

Aku berdiri, tanpa menghiraukannya, lalu pergi menjah darinya. Dia pasti mengolok-olokku dalam hatinya, karena dia benar, dan aku salah. Mengapa orang tua itu selalu bijak? Mengapa tiada anak muda yang berpikiran sebijak dia? Atau mungkin ada, tapi dia tertelan bumi tanpa suara, Cuma bisa berpikir tanpa mengutarakannya. Aku bukanlah anak muda seperti itu, mungkin aku memang salah, tapi aku sudah berjuang dan berusaha dengan kemampuanku. (bersambung)