Maaf,.

by membualsampailemas


Wanita butuh kepastian, itu yang aku pelajari dari hidup ini, dan yang ingin aku pertanyakan, kapan wanita butuh kepastian? ketika dia sudah dekat dengan kita? Belum tentu.

Aku memiliki seorang teman dekat, namai saja dia dengan Lastri, kami dekat sejak pertama kali kami bertemu di sekolah. Awalnya aku tak tahu apa-apa tentangnya, hingga suatu kali kami bercerita tentang diri masing-masing, mulai saat itu juga, ada perasaan aneh di dada. Seolah ada bubuk mesiu yang tersulut api. Percikan-percikan kecil itu berubah jadi rasa suka. Aku mulai suka pada caranya berbicara, caranya tiap kali memandangku, caranya bercerita ini dan itu, aku hanya sekedar suka. Dari situ pula lama kelamaan aku memendam rasa yang lebih aneh, seperti ada udara terperangkap di dalam dada dan tak bisa dikeluarkan, dan lama-lama udara itu membesar lalu meledak. Kurasa aku jatuh cinta, tanpa sepengetahuannya, dan kami pun masih saling bercerita bersama. Aku sering mendengarkan, dia pun, aku sering menasehati, dia pun, aku sering bla bla bla.. Dan aku suka caranya tertawa bahkan tersenyum padaku.

Suatu ketika ku mendapatinya menangis, aku tak tega. Tanpa sepengetahuannya, aku mencari tahu apa masalahnya, ternyata itu pun yang membuat aku patah hati juga. Dia menangisi pacarnya. Aku pun tak tahu awalnya bagaimana, karena ternyata sudah lama jauh sebelum aku hadir di kehidupannya. Aku ingin sekali besanding di sebalahnya, menenangkan dia selagi dalam keadaan sedih adanya. Tapi apa daya, aku tak berani, aku terlalu pengecut. Padahal aku paling tak suka melihatnya terlalu bersedih, aku pun menerapkan prilaku tak acuh padanya beberapa saat.

Seiring berjalannya waktu, karena aku terlalu acuh, mungkin dia juga merasa ada yang renggang diantara kami berdua. dia mencari tahu alasan aku berbuat seperti itu padanya. Sampai aku mengutarakan apa yang kurasa, tapi tak langsung, hanya lewat temannya, aku takut aku akan memperburuk suasana. Sejak itulah kami terdiam satu sama lain sampai tahun ajaran itu hampir selesai, dan aku pun tak ingat lagi kapan itu dan kapan aku mulai dekat dengan dia.

Aku selalu ingat, dia tertawa, tersenyum, bagaimana caranya “ngeyel” dan bagaimana dia berjalan, terlihat lucu, dan aneh tentunya. Tapi aku suka. Aku pun tak tahu kenapa aku bisa sebegitu memperhatikannya saat-saat aku dekat dengannya, mulai saat itu juga aku bertanya, apakah ini cinta?

Selalu kutepis pikiran yang membuatku lemah, aku tak tahu apakah itu akan melemahkanku atau tidak, tapi semenjak itu pula aku selalu “menggarami luka” dan hanya bisa gigit jari jika dia pergi bersama pacarnya. Aku hanya memandanginya, memandang rembulan yang tertutup awan. Dia menari di atas sana, aku pendek tiada guna berloncat menggapainya. Sedari itu aku sadar, aku ini hanyalah pengganggu diantara mereka.

Sampai suatu ketika, aku diperdekatkan lagi kepadanya dalam organisasi, kebetulan pun kami dekat, karena mungkin kakak-kakak kelas melihat kami cukup bagus untuk bekerja di satu tim. Aku pun satu tim dengannya. Mulai saat kami dilantik, aku berjanji dalam hati, aku akan sedikit menjaga jarakku dengan dia, agar aku tak pernah mengganggu dia punya hubungan. Kami pun menjalani hari-hari berorganisasi dengan penuh canda tawa, suka maupun derita. Ya, derita karena aku harus selalu berpura-pura, hanya melihat dari kejauhan mata, bagaimana dia bersikap, dan aku sadar aku tak dapat lagi seperti dulu dengannya.

Sampai suatu waktu pula, ketika itu aku melihatnya menangis tersedu dan aku belum pernah melihatnya menangis lebih dari itu, dia sungguh sangat sedih entah kenapa, dan kuselidiki lagi tanpa sepengetahuannya, ternyata ada pula masalah dengan kekasih hatinya. Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam, aku tak dapat mendekatinya, aku takut akan memperkeruh suasana. Mungkin, dia butuh teman bercerita, tapi bukan padaku. Aku pun tak tahu mengapa dia seperti enggan bercerita tentang hal itu padaku. Dan aku pun suatu hari bertanya padanya, dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku suruh dia bercerita tentang masalahnya. Aku terdiam dan terdiam merenungi ternyata dia punya rasa setia tinggi, makin kagum aku padanya. Tapi melihat dia menjadi sedih, kenapa dia punya kekasih tega menyakitinya? ku bertanya, apakah aku bisa memiliki hatinya.

Titik balik dari ringkasan cerita ini adalah ketika akhir tahun ajaran kedua, ketika itu kami bersama-sama mengurus sesuatu, dan itu pula malam-malam, aku mengajaknya makan berdua di suatu tempat yang aku pun agak lupa, dia di sana bercerita tentang kekasihnya, aku selalu berpura-pura menasehatinya, padahal aku tersiksa, sungguh tak terduga dia akan bercerita seperti itu. aku tak tahu harus bagaimana. Dan setelah itu semua, tiba-tiba aku melihat dia punya mata mengalirkan air yang cukup deras, dia menangis tersedu, lebih parah dia menangis daripada waktu itu. aku tak tahu. malam itu jua, aku menghadapi kekasihnya, istilanya tersidang oleh pacarnya. Aku merasa sangat tak enak, ternyata aku benar adanya, aku adalah pengganggu yang nyata, karena aku mencintai kekasih orang lain, dan kini aku merusak hubungan mereka. Aku selalu menyalahkan diriku, kenapa ini bisa terjadi? kenapa dulu aku seperti itu, kenapa rasa itu muncul.

Dan kusadari, aku mengambil janji pada kekasihnya, aku akan menjaga jarak dengan orang yang kucintai, pacar dari orang lain. Saat itu jua aku selalu terdiam memikirkan apa yang kelak akan kuperbuat. Aku pun terpaksa berbohong pada kekasihnya bahwa aku tak ada apa-apa dengan si X, dan perasaanku pun hanya sebagai teman biasa. Tapi itu semuanya bohong, demi dia. karena jika aku jujur malam itu, semua akan bertambah runyam adanya, mungkin dia akan memarahi si X, karena sekarang saja si X sedang menangis tersedu-sedu sampai suaranya pun tak terdengar, aku sangat kesihan, aku ingin mendekapnya dan bilang “sudahlah,. jangan menyiksa diri.”, itu hanya angan belaka.

Semua tetap berlanjut, aku agak berjarak padanya, tapi dia pun masih sering bercerita tentang apa-apa di kehidupannya, hanya aku agak jarang bercerita balik padanya. dia pun tak tahu apa-apa yang terjadi padaku, yang aku rasakan dan aku alami. Lalu aku berpikir, sebaiknya dia tak tahu tentang semua ini. Salahkah itu? Ya, mungkin itu salah besar. Aku terlalu pengecut untuk menceritakan semuanya, mungkinkah aku menyiksanya? Kurasa tidak, dia pun terlihat bahagia dan seperti biasa, dia masih berjalan seperti itu, tertawa seperti dulu, “ngeyel seperti dulu”, aku hanya senyum-senyum saja.

Suatu ketika, aku mendapati berita, dia putus. Aku yang paling merasa bersalah atas kejadian itu semua, karena aku berpikir, aku lah satu-satunya laki-laki yang punya kedekatan emosional dengan dia selain dia dengan kasihnya, aku sangat merasa berdosa. Apakah aku akan dapatkan karma? Aku takut,.. Aku berdiam diri dan merenung, Apa salahnya padaku, kenapa aku mencampurinya, kenapa aku tak mau mengerem perasaan ini padanya? Kenapa aku membuatnya begini? Tak kuasa aku meneteskan air mata tanpa tangis, hanya menetes begitu saja.

Seperti biasa, setelah itu aku bertemu dengannya sehari-hari, dia selalu tertawa dan tersenyum seperti dulu, aku tahu sebenarnya dia rapuh waktu itu, dan dia menyembunyikannya di balik tawanya, aku hanya bisa miris dalam hati, aku tak dapat berbuat apa-apa. Pun tak tahu apa yang dia rasakan padaku. Kadang aku merasa dia menyukaiku, kadang aku merasa dia tak acuh padaku, kadang aku merasa dia sangat jauh dariku. Apa ini yang terjadi?

Sampai kami pergi studytour ke Pulau Bali, aku sempat perang batin di dalam kendaraan karena satu bus dengannya pula, aku selalu “berpathetic” ria, kupikir tanpa sepengetahuannya, karena waktu itu aku tak tahu apa-apa lagi tentangnya. Sampai di Pulau Bali, aku melihat dia dan kekasihnya kembali akur, apa aku salah dengar berita? Dalam hati aku cemburu buta, aku agaknya marah dan mendiamkannya pula, aku hapus dia punya fesbuk, dia mempertanyakan itu pula, tapi aku bertega padanya tanpa menjelaskan maksudku apa.. Bagaimana aku akan menjelaskan ini? Semuanya bahagia di pulau Bali, mungkin hanya aku yang diam-diam merasa ini semua tak adil, aku pun menyesali ku punya sikap hari itu, kenapa aku sebegitu kekanakannya cemburu buta. Lagi pula, aku bukan siapa-siapa. Mungkin sebenarnya aku senang dia putus? Tapi aku tak senang dia menangis karena putus dengan kasihnya. Secara tak sengaja, pun aku pernah tahu bagaimana kasihnya mencintainya, dan dia mencintai kekasihnya. aku tak tahu apa apa setelah itu. Aku cemburu.

Setelah beberapa jam aku menenangkan diriku, aku kembali ke jalan yang benar, dalam perjalanan pulang, kususun kata-kata penjelasan padanya, dan aku mengumpulkan segenap keberanianku dan itu tidaklah mudah, aku masih berpikir ini itu kedepannya, aku pun mempertanyakan pada diriku apa tujuanku bersikap seperti ini, apa aku ingin dia jadi pacarku? Apa aku ingin dia punya perasaan padaku yang sama, aku berpikir aku ini terlalu egois jika demikian. Ya, aku memang egois. Apa tujuanku? Tapi dengan mengabaikan itu pula, aku sudah cukup memperoleh keberanian berkata, aku duduk di sebelahnya, memandanginya sebelum bekata, “aku suka padamu”, tapi aku tak berani bilang “aku cinta padamu”. Aku bercerita tentang perasaanku padanya selama ini, aku bercerita ini dan itu, tapi aku seolah tak kuat, aku takut. Entah apa yang aku takutkan. Mungkin aku memang pengecut. Aku terlalu banyak berpikir, aku terlalu memikirkan bagaimana kedepannya, aku terlalu munafik untuk semua ini. Aku menyayangkan pada diriku sendiri.

Dia pun menanggapinya, dan dia pula bercerita, tapi tak semuanya, aku pun lupa dia berbicara bagaimana,. Aku ragu ketika ingin berkata “jadilah pacarku”, aku takut. Aku enggan membebaninya dengan perasaanku, aku takut jikalau aku ini dikata perebut kasih orang, padahal memang begitu adanya.

Suatu ketika pun dia berkata, memang telah putus adanya, dan kini hanya hubungan teman dekat biasa, kakak-adik?, tak lebih dengan mantan kasihnya, dan dia masih sayang padanya, sehingga aku pernah dengar dia mengambil janji akan tidak berpacaran selama satu tahun. Kurang lebih seperti itu, apa aku salah dengar? Aku mendengar itu pun keget, bisa-bisanya? Sejak aku ungkapkan perasaanku, dan itu tak semua perasaanku karena waktu itu pun tak cukup, aku berusaha menjauh sejauh-jauhnya darinya, aku berusaha menutup lembaran ini meski sebenarnya aku tahu ini takkan mudah. Aku menjauh sampai dia mungkin bingung dengan sikapku, aku menjauh dan dia mungkin menganggapku mencampakannya, mencampakan teman dekatnya sendiri. Maafkan aku. Seandainya waktu itu aku lebih berani berkata, aku akan berkata “aku mencintaimu, maukah jadi pacarku?”, tapi aku tentunya bukan tipe orang yang berani megungkapkan perasaan dalam dada seperti itu, dan itulah kesalahanku. Aku selalu mengutarakan perasaan diwaktu yang tak tepat pula, seolah aku mendesaknya. Aku tak mau membuatnya sedih.

Saat aku jauh dengannya, aku rindu bagaimana dia bercerita tentang kehidupannya, tentang apapun, tentang sms-nya, yang dulu biasa sms, eh sekarang tiba-tiba tidak sama sekali, yang dulu biasa bicara, sekarang sangat canggung dan jarang. Tapi jauh dari semua itu, perasaanku masih sama, bahkan makin menggebu, tapi kuusahakan meredamnya karena ada ujian dan aku ingin berkonsentrasi padanya, aku merasa aku berhasil menjauhinya. Sampai kudapati dia punya teman dekat leki-laki lain yang mana adalah sahabatku pula sendiri, aku selalu berpikiran dia tak ada apa-apa, sempat aku bercemburu, tapi aku melihat itu tiada apa-apa. Dan aku makin jauh padanya sampai aku tak tahu apa-apa lagi tentangnya. Aku ingin seperti dulu, aku merindukan dia yang dulu, kuputuskan menunggu satu tahun sebelum mengutarakan perasaanku lagi padanya. Aku selalu berpikiran bagaimana kedepannya jika begini, bagaimana jika begitu? Aku pun masih goyah dalam menggapai cita-cita yang bulat tekadnya, tapi yang akhirnya ku tahu itu tak dapat kuraih dan aku tak ditakdirkan pada cita-cita itu, tapi setidaknya aku mendapatkan masa depan lain yang lebih dapat kupastikan bagaimana masa depanku, aku mulai yakin dan bersyukur tentang semua yang menimpaku, karena aku yakin di kampusku sekarang aku akan lebih baik daripada jika aku meneruskan cita-citaku yang tak kesampaian itu. Mulai saat itu pula aku ingin mengatakan sekali lagi perasaanku. Tapi aku masih takut.

hah, dasar penakut!

siapa penakut? tentunya aku.

Dan memang, aku tak tahu apa-apa tentangnyanya, sampai akhirnya aku patah hati, karena dia sudah punya kekasih hati, dan dia adalah orang yang bisa kuduga adanya. Aku membuatnya jauh, dan kini aku ingin dekat seketika? egois benar aku ini?

Dan memang patah hati itu lagi, entah sampai kapan yang jelas aku masih lama akan memendam perasaan ini, mungkin sampai aku melihat ada wanita lain yang mampu menghapus segala luka dan membuatku lupa, ah suatu saatkah?, karena aku tak mencari seorang pacar sejak awal mula, aku mencari calon pendampingku kelak yang pernah kupikir adalah dia, si X. Dan aku hanya bisa menyesali itu semua.

Dapatkah aku kembali ke masa lalu? Aku selalu berpikir tentang konsep mesin waktu. Dapatkah dia jadi milikku? Aku selalu berharap, tapi aku takut pula berharap, aku takut akan merusak hubungannya pula. Dan kini aku mencoba lebih bijaksana, tanpa mencampuri urusannya pula lagi, seperti dulu.

Dan jika engkau adalah si X. Maafkan aku. Setulus-tulusnya maaf, aku yang paling tulus mengucapkannya.

Aku menyesal, bukan menyesal karena mencintaimu, tapi menyesal karena aku adalah pengecut. Lebihlah bahagia daripada dulu, jangan menangis lagi seperti waktu itu, jangan pernah bersedih lagi karena siapapun, apalagi kasihmu, bahkan aku?

Mulai sekarang aku akan berpikir, mungkin kamu akan lebih baik jika bersamanya, bukan denganku. Datanglah padaku kapanpun kau mau, ceritalah lagi sesukamu, aku akan jadi pendengar yang baik.

Sekian dulu, X. Aku terlalu pengecut untuk menelfonmu, atau berbicara langsung padamu, mungkin agak sedikit tidak kuat melihat matamu itu.

Aku menanti hal lain sebagai penyejuk hati.