Bahasa Jawa

by membualsampailemas


Assalamualaikum.

Saya terangkan dulu, sebenarnya saya lebih suka menggunakan kata “saya” dalam blog ini, bukan berarti bahasanya baku, bukan, tapi cuma sekedar ingin menginterpretasikan saja kedalam bahasa persatuan yang agak benar dan tidak terlalu “gaul” agar mudah dipahami ke semua umur.

Kebetulan sekali saya adalah orang Jawa, dan saya Muslim (pemeluk Islam), jadi maklumilah jika setiap artikel tertulis “Assalamualaikum”, bukan berarti apa-apa, hanya saja saya memang muslim.

Cukup dulu. Kali ini artikel ini termasuk dalam Uncategorized, bukan Sajak Getir, apa lagi Pewayangan. Karena semua ini akan membahas Bahasa Jawa menurut pandangan saya yang terilhami dari Pak Seno Gumira, salah satu penulis favorit saya.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang umum digunakan oleh para penghuni pulau Jawa kebanyakan, yaitu Suku Jawa. Di pulau Jawa ini, tak hanya Suku Jawa saja, melainkan banyak juga suku-suku lain. tapi mayoritas penduduk pulau ini menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-harinya.

Bahasa Jawa sendiri menurut saya adalah bahasa pengengkangan, karena ini adalah bahasa yang berbeda-beda yang digunakan berdasarkan tingkatan kasta, umur, atau golongan tertentu. “Kasta” yang saya maksud adalah dari golongan biasa, sampai piyayi, lalu ke golongan Kraton di Jogja dan Solo, itu beda. “Umur” yang saya maksud adalah dari usia muda jika berbicara kepada yang lebih tua baiknya (harus) menggunakan bahasa Kromo, “mbasakake” istilahnya, atau membahasakan dalam istilah Indonesianya. sedangkan dari Tua ke Muda itu bebas, boleh ikutan berbahasa Kromo, boleh pula berbahasa Ngoko (Kasar).

A. Bahasa Jawa Ngoko

Sedari dulu, hingga sekarang, bahasa Jawa dipengaruhi oleh bahasa dari negeri seberang, yaitu India, terlihat ada beberapa kata yang sama, salah satunya Dunya (Dunia). Akar dari bahasa ini adalah Sanskerta. Mungkin yang mengilhami bahasa Jawa ada beberapa tingkatan ini adalah dari penggolongan Kasta jaman dahulu. Bahasa ngoko biasa digunakan di kalangan pedesaan, antara sesama umur, teman sebaya, teman akrab, yang tua kepada yang muda, yang muda terhadap yang lebih muda dan sebagainya. Menurut saya, Bahasa Ngoko sendiri itu digunakan pada dasarnya ada dua sebab, yaitu untuk keakraban, dan untuk “merendahkan”, tergantung konteksnya. Merendahkan yang dimaksud bukan dalam artian sebenarnya tentunya. Sebagai contoh, jika anda adalah orang jawa, anda akan berbicara bahasa ngoko kepada teman sebaya anda (keakraban), dan kepada yang lebih muda dari anda (merendahkan). Tapi untuk Jawa modern ini, banyak pengecualian. Jaman sekarang ini sudah termasuk Kalatidha, menurut saya, jadi ada saja yang muda kepada yang tua berbahasa Ngoko. Tidak salah memang jika dilihat dari konteks kebiasaan. Tapi akan berbeda halnya jika anda dalam lingkungan dekat Kraton. Modernisasi ini membuat hampir setiap manusia menginginkan yang serba praktis, termasuk dalam berbahasa, mulai dari yang gaul hingga kasus “ketidakpraktisan” Bahasa Jawa. Sebagai contoh, pernah saya melihat dan membaca sebuah tulisan Seno Gumira, tentang Bahasa Jawa, bahwa jika anda berbicara ngoko kepada orang tua anda, itu artinya adalah anda menganggap orang lain terhadap orang tua.

Sedangkan ngoko sendiri, di jawa ini masih dibagi-bagi lagi. Ngoko adalah bahasa rakyat, yang paling berkembang dan paling beragam antar daerah. Dari suku Jawa yang berada paling ujung barat hingga timur banyuwangi sana, anda akan menemukan beragam bahasa jawa ngoko yang kosakata serta logatnya berbeda-beda, tapi mayoritas kosakatanya masih dapat dipahami oleh orang jawa meskipun bukan berasal dari daerah tertentu tersebut. Mulai dari ngoko gaya Tegal, Banyumasan, Jogja, daerah Pantura, lalu ke Jawa Timur mulai dari Ngawi, Malang, Kediri, Blitar, Banyuwangi, Tengger, dan sebagainya, mempunyai logat yang berbeda-beda, kosa kata pula berbeda. Contoh yang nyata adalah kata verbal “makan”, jika anda pergi ke daerah Banyumasan, mulai dari Cilacap sampai ke Purwokerto lalu Kebumen barat,  anda akan menemukan kata “madhang”. Bahasa Jawa daripada “makan” itu pun banyak ragamnya, mulai dari yang madhang, mangan, maem, mbadhog (kasar), dhahar, nedha, dan lain sebagainya. itu baru satu kata, belum kata yang lain.

Anda akan mengkeret otaknya jika ingin mempelajari Sastra Jawa dari nol, Sastra Jepang pun yang diidola-idolakan kawula muda sekarang ini akan kalah jauh. Anehnya, anak-anak muda jaman sekarang jarang yang tertarik dengan biodiversiti (keragaman) Jawa nya, padahal itu adalah budaya paling rumit menurut saya, jika di Jepang ada tingkatan huruf, mulai dari kanji, hiragana dan sebagainya, di jawa ada huruf jawa pula, belum aksara kuno lain yang sekarang mungkin sudah hampir punah. Oke, saya hanya akan membahas Bahasa Jawa saja.

B. Bahasa Jawa Madya

Penuturnya adalah orang-orang kalangan menengah tentunya, yang tahu sedikit tentang budaya Kraton, dan masih agak campuran antara bahasa ngoko (kasar) dan kromo (halus). seperti kata “makan” tadi, antara “dhahar” dan “nedha” itu sebenarnya beda tingkatan, “dhahar” merupakan bahasa madya, belum terlalu kromo. Tapi kebanyakan manusia jawa sekarang, hampir tidak tahu dan sulit membedakan mana yang termasuk madya mana yang termasuk kromo, dan kadang menganggap bahwa dia sudah berbicara kromo, padahal masih madya. Ketika anda menggunakan bahasa ini dalam konteks waktu sekarang, anda akan dihadapkan pada kenyataan bahwa anda sudah berkata halus pada seseorang, tapi guru bahasa jawa yan baik di sekolah-sekolah menengah dan dosen-dosen yang baik di universitas-universitas manapun yang tahu itu bukanlah suatu hal yang istimewa. Sepertinya memang budaya itu berbanding terbalik dengan modernisasi, karena modernisasi sendiri itu merupakan proses terbentuknya sebuah budaya baru. Jadi sebenarnya kita tak bisa menyalahkan anak-anak muda sekarang sepenuhnya, karena memang arus modernisasi tak dapat dibendung dan akan terus mengalir membentuk budaya baru, membentuk bahasa baru dan akan selalu membayangi budaya yang sudah ada sebelumnya. Tapi alangkah baiknya memang, jika anak muda jaman sekarang terus mempertahankan budaya asli jawa dan warisan leluhur. Contoh nyata dari modernisasi adalah bahasa Madya dan Ngoko yang banyak terpengaruh dari kata-kata melayu yang lazim. Ada beberapa kata yang sekarang ini bagi orang jawa sendiri tidak relevan atau mugnkin dia sendiri sulit untuk mengatakannya atau mencarinya dalam kosakata jawa, seperti saya sendiri, saya tak tahu apa itu bahasa jawanya “mempertanggungjawabkan”, “tanggungjawab”, “sesuai”, “cocok”, dan sebagainya. Jika anda merupakan orang jawa anda tentu juga akan malu menghadapi kenyataan bahwa anda bukan jawa seutuhnya.

C. Bahasa Jawa Kromo

Penuturnya itu paling sedikit, biasanya dari kalangan Kraton, atau jika anda pernah menghadiri pernikahan ala Jawa, maka sang MC akan membawakan acara dengan bahasa ini, sudah tingkat tinggi, kadang juga para dhalang wayang kulit pun menggunakan ini. Masyarakat awam pun sulit mengerti dengan bahasa ini, cenderung Kawi (Bahasa Jawa Kawi= jaman abad pertengahan). Pengetahuan saya tentnag bahasa Kromo pun terbatas, beberapa karya seperti Serat Centhini, dan beberapa kitab dari zaman pertengahan di pulau Jawa menggunakan bahasa yang tidak teridentifikasi oleh masyarakat awam jaman sekarang. Mengapa? itu karena arus modernisasi. Masyarakat awam yang dapat berbahasa kromo sekalipun, itu dapat dihitung jumlahnya pada setiap desa awam di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak tahu dengan Jogjakarta, mungkin banyak penuturnya di sana, karena banyak abdi-dalem Kraton yang tinggal di sana dan memang menggunakan bahasa ini.

Seperti yang saya bilang, bahasa jawa merupakan bahasa pengekangan, kita dituntut untuk menggunakan kosakata dan tindak tanduk yang pas denagn lawan bicara kita. Bukan tidak mungkin dalam subuah forum, orang-orang akan menggunakan lebih dari 1 tingkatan bahasa jawa, misalnya jika dalam rapat RT di desa-desa awam, anda akan menjumpai orang-orang mengunakan bahasa ngoko kepada teman sebelahnya, tapi ketika dia mengutarakan pendapat, anda akan melihat bahasanya sudah berbeda. Bukan berarti saya menjelekkan Bahasa saya sendiri, bahasa jawa yang baik dan benar, tapi saya ungkapkan realitanya sekarang yang sedang berlangsung di sekitar kita.