Bambang Sumantri dan Sukasrana

by membualsampailemas


Assalamualaikum.

Nah, teringat sesuatu kemarin sewaktu di dalam bus dalam perjalanan kembali ke kost, kisah nya dari Ramayana yang mengisahkan gara-gara seorang wanita, pria dapat jatuh kapan saja. Adalah putra dari Resi Wisanggeni yang bernama Bambang Sumantri dan adiknya Sukasrana. Sumantri orangnya gagah, ksatria dan genteng serta sakti dan adiknya tak kalah gantengnya, dia pendek, item, punya semacam kelainan fisik lah pokoknya, mukanya seperti buto. Buto bajang lah kira-kiranya. Tapi walaupun begitu, Sukasrana dan Sumantri saling mengasihi satu sama lain. Mereka punya sifat-sifat yang baik dan senang berdharma karena anak resi. Khususnya si Sukasrana ini.

Konon, suatu hari Sumantri dan Sukasrana ini jalan-jalan ke tengah hutan untuk refreshing nih ceritanya. Karena kecapaian, Sukasrana minta berhenti dan istirahat sejenak, yaudah deh, mereka nyari tempat buat berteduh. Dan tidurlah si adik, sedangkan si kakak berjaga-jaga.

“duh, panas-panas gini, capek juga yah. Mana molor nih orang” kata Sumantri. Tiba-tiba ada sekelompok raksasa alias buto yang mendatangi tempat mereka hendak mengganggu dan memakan mereka. Sumantri kaget. Sebelum bertarung dengan para buto, dia memindahkan adiknya yang lagi molor itu ke tempat aman. Setelah itu baru dia bertarung sampai titik darah penghabisan. Sempat kwalahan juga si dia, tapi karena lumayan sakti, dia akhirnya bisa mengalahkan raksasa kelaparan itu. Selain itu, dia juga dapat senjata baru, namanya panah cakrabaskara. Wuih, panahnya itu saktinya bukan main.

Nah, ketika perang usai, Sumantri mau membangunkan adiknya yang tadi diumpetin. Dia heran banget tuh sama keadaan, karena si Sukasrana itu ternyata dikelilingi binatang2 buas. Bukan mau makan, tapi binatang2 itu mau melindungi si Sukasrana.

“astoghfirullohaladziim…!! waduh, adik gue di kerubutin binatang buas men!” kata sumantri terkejut banget.

“jangan kuatir mas Sumantri! Ini mereka sahabat gue kok” si Sukasrana menenangkan.

“oh, gitu ya dik? Aneh amat. Kok bisa kayak gitu sih?”

“ya itu karena gue selama ini kan gak pernah membunih hewan sekecil apa pun mas, jadi mereka sayang ama gue”

“pentesan, gue aja kemarin dikerubutin nyamuk, neplok sana-sini, eh loe nya malah diem aja. Yaudah, ayuk kita pulang ke papa Wisanggeni!” kata sumantri.

“oke bro!”

Seingkat cerita, mereka kembali ke padepokannya bokap. Di sana, si Sumantri menceritakan kejadian yang mengesankan itu. Nah si Resi Wisanggeni mengangguk-angguk dan berkata

“wah, adik kamu itu spesial Sum, dia itu titisan batara Dharma, pantes aja dia gak bakal diserang binatang karena perbuatannya baik terus. Nah, kamu tadi juga spesial lho, karena udah dapat senjata paling ampuh yaitu Cakrabaskara Sum.” Kata resi

“ohh.. gitu ya pa? aku pengen mengembara ni pa. Pengen mengabdikan kekuatan ku ke raja yang kemampuannya diatas aku tentunya.”

“hmm.. okelah kalo begitu anakku. Baiknya kamu mengabdi ke Prabu Arjunasasrabahu. Dia itu masih sodara jauh papa. Yah dia itu cucu keponakan pakdhenya mbahnya kakak ayah mu ini.”

“hah?!” kata sumantri plonga plongo.

“tapi inget jangan berbuat kurang ajar ya ntar kalo mengembara. Eh itu si adik kamu apa kamu bisa bawa dia sekalian. Pasti dia pengen banget ikut nak.”

“wah, pa, aku pengen ngajak pa. tapi.. yah papa tahu sendiri lah, aku gak enak sama dia kalo nantinya dia malah jadi bahan ejekan di istana. Bukannya aku malu, tapi ntar aku kan juga perang, masa bawa adik. Kasihan dia pa”

“kalo begitu terserah kamu. Gimana caranya itu adik kamu biar gak nangis ntar2nya.”

“oke pa” kata sumantri.

Singkat cerita, pagi2 buta sebelum matahari menampakkan keperkasaannya, sumantri sudah siap2. Smentra itu, adiknya masih tidur, dia Cuma bisa pamitan lirih supaya tidak membangunkan adik tersayangnya itu

“bro, gue mau pergi nih, jangan nangis ya. Jagain papa ya. Hiks2x” katanya sedih. “oke, sekarang gue cabut aja dah”

Dan pergilah dia ke istana untuk melamar sebagai prajurit. Karena anak gunung, dia itu pakaiannya masih awut-awutan. Dan gayanya slonong-boy gitu dah. Sesampainya di area ibu kota. Dia itu tingkahnya ndeso banget. Namanya juga anak gunung. Slonang-slonong sana-sini. Sampai-sampai para prajurit itu heran. Oh iya, mukanya si bambang ini miripnya minta ampuun sama si prabu Arjunasasrabahu. Jadi, kebanyakan prajurit yang lihat tingkahnya itu takut buat menegur, karena takut jangan-jangan tuh orang adalah raja mereka yang lagi menyamar. Jadi mukanya si Sumantri sama Prabu Arjunasasrabahu itu miripnya bagai pinang dibelah silet lah.

Sampai suatu ketika, ada seorang perwira yang memberanikan diri tanya ke Sumantri apa maksud dan tujuannya datang kemari. Sumantri menjelaskan bahwa dia mau melamar kerja jadi abdi dan mau ketemu Prabu. Si perwira itu mengantakannya menemui prabu.

Singkat cerita lagi, si Sumantri ini ketemu sama sang prabu di istana. Para punggawa kerajaan terheran-heran melihat muka keduanya yang begitu mirip. Cuma yang satu pakaiannya raja, yang satunya ala slonong-boy itu lah.

“Duhai sang Prabu, hamba kesini mau melamar kerja, mau mengabdi pada Prabu. Hamba ini putranya Resi Wisanggeni.”

“oke, tapi kamu bisa apa?”

“hamba bisa perang, Prabu. Hamba sakti, insyaAlloh”

“kalao begeto, tolong kamu buktikan. Kerajaan ini lagi diganggu sama seorang Raja dari negeri seberang yang namanya Dharmawisesa sama adik-adiknya yang namanya Joggirupaksa dan Jonggurba. Mereka mau ngerebut dewi Citrawati, calon istri gue.”

“sahaya prabu.”

“bawa pasukan armada kerajaan gue ya. Sana!”

Nah, Sumantri pun melaksanakan tugasnya. Dia membawa pasukan yang banyak dan siap membasmi musuh rajanya itu. Dia sangat PD banget kerena dia punya senjata ampuh yang namanya Cakrabaskara. Selama panah cakrabaskara itu dia tembakkan, pasti minta korban terus sampai si empunya menariknya kembali. Nah, disingkat lagi nih ceritanya, akhirnya setelah beberapa hari, dia berhasil menumpas musuh. Si Jonggirupaksa sama Jonggurba itu tewas karena panah saktinya. Prabu Dharmawisesa ketakutan tuh. Dia minta break time bentar buat bertapa.

Waktu bertapa, dia minta keadilan Dewata,

“dhuh Dewata, kenapa jadi kayak gini sih? Kok dia sakti banget. Gak adil ah ini. Dia punya senjata mahadahsyat itu. Gue nggak.:(“

Batara Narada turun dengan segera dan, wuzzz…

“hai Dharmawisesa! Dah, baiknya kamu mundur aja. Gak ada gunanya. Kamu bakal kalah.”

“aduh batara, jangan begitu donk. Sodara hamba udah pada tewas di lapangan. Kepalang tanggung nih. Apa gak ada senjata yang lebih ampuh dari Cakrabaskaranya si Sumantri?”

“gak ada nak. Tapi kalo kamu maksa gitu, aku berikan senjata, tapi kemampuannya masih dibawahnya Cakrabaskara.”

“gak papa batara, kapalang tanggung, kalo pun mati, ya mati aja dah”

“dasar keras kepala!” dan batara naraba pun menghilang. Wuzzzz…

Keesokan harinya, Dharmawisesa nantang si Sumantri buat duel satu lawan satu. Pertarungannya seru banget tuh. Hampir imbang. Dharmawisesa mencari2 celah buat nembak Sumantri sebelum dia melepaskan Cakrabaskaranya. Nah pas ada sedikit celah, beneran dah dia nembak.

“haha.. itu dia,! Mati loe Tri!” dan Dharmawisesa pun menarik pelatuknya,. Dor!!!

“eitz.. gak bisa,!” kata Sumantri sambil menarik pelatuk Cakrabaskaranya juga. Dan Dhorr!!

Anak panah mereka saling beradu. Zzzzuzuuuuuiiiit….! Wuzzzz! Waktu bertumbukan, angin2 sangat ribut dan ricuh.. sehingga semua pada taktu yang nonton. Tapi pemenangnya sudah bisa ditebak. Cakrabaskara melaju dengan kencang dan merusak senjata Dharmawisesa dan meneruskan melesat ke leher Dharmawisesa. Matilah ia.

Nah, setelah itu, dia menjemput Dewi Citrawati untuk rajanya itu. Akan tetapi, sesampainya di tempat sang Dewi, mulailah yang namanya wanita menunjukkan sifatnya yang aneh-aneh, begini ceritanya

“dik Sumantri?” kata si Dewi

“iya Dewi,”

“kamu berperang bagus sekali”

“matur numun.”

“tapi….” Kata dewi membuat penasaran

“tapi kenapa Dewi?”

“kok gak Prabu Arjunasasrabahu saja sih yang njemput aku? Kan aku calon istrinya. Masa malah nyuruh orang lain?”

“ya, namanya juga Raja, Dewi. Saya kan anak buahnya, masa Raja langsung turun tangan selagi masih ada anak buah yang bisa disuruh.”

“iya ya, tapi ini kan menyangkut aku, calon istrinya.”

“Sang Prabu Arjunasasrabahu tahu yang diperbuat, Dewi”

“iya, aku tahu. Cuma… aku jadi agak ragu gitu loh..” kata Dewi dengan polosnya.

“hah? Ragu gimana?” tanya Sumantri penasaran

“ya kamu tahu sendiri kan Man, dia itu sakti, katanya sih, kalau sakti kan bisa langsung mengalahkan musuh-musuhnya tanpa nyuruh orang segala. Tanpa mengorbankan pasukan gitu.”

Mendengar itu, Sumantri jadi berpikir “iya juga yah”

“Beliau itu titisan sang Wisnu lhoh, Dewi” kata Smantri membela

“nah, apalagi itu, seharusnya kan kalau udah ketauan saktinya kalau maju sendiri kan gak masalah? Kok malah nyuruh-nyuruh kamu. Ya maaf-maaf ni ya, bukannya aku ngerendahin kamu Man,”

Sumantri akhirnya terpengaruh omongan dewi Citrawati itu. Dia pun jadi ragu terhadap kekuatan Arjunasasrabahu. Mengingat, menimbang dan menelaah bahwa dirinya hanya akan mengabdi pada orang yang kemampuannya berada di atasnya (lebih kuat), dan karena dipengaruhi Dewi Citrawati, dia jadi kalap mata. Jadi ragu gitu deh sama sang Prabu. Mengira kalau sang Prabu itu sebenarnya gak kuat-kuat amat, dia memboyong Dewi Citrawati tapi tidak langsung membawanya ke istana. Dia berhenti di Kamp tempurnya dulu. Dan menghubungi sang Prabu, jika sang Prabu mau Dewi Citrawati, dia harus adu tanding lawan Sumantri dulu.

Mendengar kabar itu, sang Prabu Cuma mesam-mesem (senyam-senyum) saja. Dia mendatangi Kamp Sumantri dengan keretanya. Dan terjadilah adu tanding.

Mereka berdua berdiri berhadapan. Para prajurit lainnya heran, ini orang kok mirip banget ya. Bagai pinang dibelah duren dah..! yaudah, Sumantri melepas cakrabaskaranya yang ampuh tiada tandingan dan mengarahkannya pada sang Prabu Arjunasasrabahu, dan DOooRRR!! Melesatlah panah itu meminta darah. Melihat itu sang Prabu cuma diam dan kena deh. JEDhuEEERrr!!! Debu-debu bertabaran sana-sini dan semuanya takut pada kesaktian Sumantri dan Cakrabaskaranya. Takut kena.

Tapi e e tapi, ternyata setelah Debu-debu turun, ternyata sang Prabu masih Berdiri dan sekarang tubuh sang Prabu Arjunasasrabahu membesar. Dia bertiwikrama, berubah menjadi raksasa mengerikan yang sangat tangguh. Semuanya tambah takut. Melihat itu, Sumantri langsung bersimpuh lutut dihadapan sang Prabu, dia juga takut karena Cakrabaskaranya tidak mempan. Dan dia tak kan meragukan kekuatan beliau lagi. Atas kelancangannya, dia dihukum oleh sang Prabu. Tapi Arjunasasrabahu sendiri bingung mau mneghukum apa. Akhirnya Dewi Citrawati punya ide yang nyleneh. Dia minta taman Sri Wedari yang di kahyangan untuk dipindahkan ke bumi sebagai hukuman. Sumantri tentu saja tidak bisa. Setelah menerima hukuman, dia bingung bagaimana memindahkannya. Lalu dia pun pulang untuk minta petunjuk pada sang Papa, Resi Wisanggeni.

Oh iya, masih ingat tentang adiknya si Sumantri? Si Sukasrana itu lho. Gini, saya ceritakan sebentar sepeninggal Sumantri ke Istana dulu. Pagi-pagi, adiknya itu sudah bangun, dia yang biasa tidur baren kakaknya itu terkejut melihat kakaknya sudah tiada di tempat. Kok cepet amat bangunnya? Tumben. Lalu dia pergi menemuai sang ayah dan bertanya. Ketika diberitahu bahwa kakaknya meningalkan padepokan dan pergi ke istana untuk mencari kerja, si Sukasrana bingung, dia juga ingin ikut. Dia pun langsung pergi ke istana menyusul. Sewaktu di hutan sendirian, dia kecapekan dan istirahat sebentar di bawah pohon. Ketika itu batara Narada tiba-tiba muncul. Dia memberikan sebuah pusaka sakti yang hanya bisa di gunakan titisan batara Dharma, namanya ajian Cakrabirawa. Dengan itu, Sukasrana dapat berhubungan dengan dunia ghaib dna dapat kekuatan yang ajaib dan mustahil dengan nalar.

Nah, sewaktu dia itu menyusul, tiba-tiba dia terkejut karena melihat kakaknya, si Sumantri berjalan sempoyongan dan awut-awutan, maklum, slonong-boy geto dah.

“weeehh… lha itu siapa.. hahaha” kata Sukasrana.

“lho? Dhek? Kowe ngopo rene2? Cah cilik ki lho..” kata Sumantri terkejut

“owalah kakang, kakang,. Aku ini nyusul kamu, mau ikut ke istana, lha kok malah kamu balik to?”

Sumantri lalu cerita tentang pengalamannya di istana, mulai dari bertemu Prabu Arjunasasrabahu, berperang, sampai dihukum Dewi Citrawati untuk memindahkan taman Sri Wedari dari kahyangan. Sukasrana menengarkan degan seksama. Setelah mendengar semuanya, dia mesam-mesem. Penasaran dengan tingkah adiknya itu, sumantri bertanya

“e e ealah.. ki bocah malah guya-guyu dhewe.. ”

“hehehehe, owalah kangmas, kangmas. Kalo masalahnya Cuma begeto si aku bisa bantu. Aku punya ajian sakti, namanya Cakrabirawa, bentar ya, aku mau coba pindahkan taman itu. Eh, tapi pindah ke mana ya?”

“ini alamatnya, pindahin ke situ ya boy..!”

“sip..” kata Sukasrana sekilas. Lalu dia menggunakan ajian Cakrabirawanya yang super sakti itu, anugerah dari Batara Dharma. Mulutnya komat-kamir, matanya ia pejamkan, tangannya berkerak ke atas semua lalu membentuk huruf U pada badannya, lalu turun dan bersideku di depan dada. Suasana mendadak menjadi panas dan menegangkan. Sumantri yang melihat adiknya menjadi seperti itu menjadi tercengang dengan kesaktian adiknya..

Krik..krik..krik..

Setelah 100 tahun (hiperbolik) menunggu adiknya menggunakan ajian saktinya itu, Sumantri cuma bs plonga plongo liat adiknya yang lg menjalani ritual aneh nya itu.
‘dik? udah an blum? wes ngoyot ki aku!’ kata sumantri.
sukasrana membuka mata, dia tatap si kakaknya itu.
‘wah, bro.. taman itu lumayan gede buat dipindahin..’
‘yaah,brarti gagal duonk? :(‘
‘tenang aja, berhasil kok, tamannya, tapi gue gak berhasil mindahin bidadari yg ada di dlm nya. hahaha’
‘waaa?! :D jadi berhasil ni?!
sukasrana mesem sambil manggut. emang, mereka sodara yang akur, si adik senang liat kakaknya senang.
‘oke, kalo gitu thanks berat deh dik.. eh kmu mending blik aja ke tempat papa, di istana bahaya, dik’ kata sumantri menasehati.
‘ah,gak ah, gak mau, aku pengen bareng mas aja ke istana. lop you pul dah’
‘jangan, ntar papa marah.’
‘papa udah ngijinin kok, lagian,kan aku bru bntu mas e mindahake taman guedhi’
‘ojo!’ bentak sumantri.
‘ben!’ kata sukasrana smbil mesem, dia mengira kakakny cm becndain dia soalnya. lalu dia berjalan mendkati kakaknya.
‘dibilangin jangan ya jangan!’ bentak sumantri,tp adiknya tetep ndeketin dia. alhasil, sumantri kesel, dia cabut panah cakrabaskaranya dan mengacungkan sama adiknya buat nakut2in..
‘hayo lo,. awas lo!’kata sumantri. tapi adiknya itu teu2p mendekat smbil mesam mesem.
‘owalah, dhasar bocah edan.. -_-a’ kata sumantri lagi. dia msh tetep mengacungkan panahnya itu ke adiknya. tapi adiknya makin dan makin dekat dgn kakaknya.
‘mas aku… masyaAlloh!’ tiba-tiba ternyata waktu brjalan mendekati panahnya si kakak, sukasrana yang tadinya pengen memegang panahnya,tapi kesandung akar pepohonan dan jatuh gak sengaja tertncp di ujung panah yg panjang itu. mak JREEB!!
‘Adik ku!! tidaaak!’ teriak sumantri keras2.
‘sukrasana pun tewas karena keganasan cakarabaskara kalo udah nyium darah. tapi sebelum mati, sukasrana smpet melihat kakandanya, dan brkata lirih ‘mas, bsok aku bkal jmput lo di perang lawan raja Alengka, lo tunggu aja gue mas, kita bkal bersatu lgi.. EEeerhh, aahhh’. dan mati lah sukasrana.
Sumantri sgt brsdh atas kjadian itu, dia terus menyalahkan dirinya. Tapi dia sgra sadar dan kmbli ke istana. dia gak berani crta kjadian sbnrnya bhwa yg mindahin taman Sri Wedari adl adiknya ke prabu Arjunasasrabahu.. sang Prabu pun merekrutnya jadi patih, Dewi Citrawati cuma seneng-seneng liat keinginannya trpenuhi. Sumantri larut dlm penyesalan, membuat dia terus ingin perang buat ngelupain kejadian itu, dan setiap peperangan, dia selalu menang,. dari cerita diatas, dpt ditarik kesimpulan bhwa jangan main senjata berbahaya kalo lg sama adiknya ya. hehe. eh maksudnya, Sumantri itu gak bener2 jahat seperti yg diceritakan dalang2 pada umumnya,. itu cuma faktor ketaksengajaan aja. dia sudah memenuhi tugasnya pada sang prabu, walau dgn bntuan adiknya yg tak sengaja tertewaskan oleh senjatanya sendiri. Dewi Citrawati ini orangnya gak terlalu saya tonjolkan malah ya, jadi gara2 dia itu, pake menghasut sumantri buat gak percya pada sang prabu yg brakibt hukuman, dah gt hukumannya mlh dri D.Citrawati sndiri pula. nah, mengenaskan.
Sumantri diceritakan adl sbg patih yg sangat kompeten, dia juga panglima perang besar dan terampuh pada zamannya, karena mukanya juga mirip sama sang prabu,kadang kalo ada rapat kenegaraan dan sang prabu lg gak pengen iktn, dia nyuruh sumantri buat ikt rapat dan mendandaninya supaya persis sang prabu. dia pantang khianat, dan P.arjunasasrabahu suka dgn loyalitasnya itu.. Sampai saat itu pun tiba,saat invansi mendadak dari prajurit raksasa alengka ke kerajaannya sumantri, waktu itu Sang PRabu lg mudik ke tempat istrinya, jadi gak da di kerajaan. dan sumantri yg gantiin itu merasa brtanggung jwb atas serangan itu, hrus diredakan!
E e tapi, ternyata diluar dugaan, prajurit Alengka sangat bnyk dan trlalu kuat, cakrabaskara mampu menghabisi, tapi saat ktmu rahwana, ternyata takluk juga, sumantri pun tewas ketika berperang mempertahaokan negaranya..

Iklan