Kinanti (1)

by membualsampailemas


Aku ingin bercerita tentang seseorang gadis keturunan cina di seberang rumahku. Namanya Kinanti, nama cinanya aku tak pernah tahu, bahkan dia punya nama cina atau tidak, aku pun tak tahu. Tapi biasanya orang keturunan cina yang kutahu punya nama cina. Ah, tapi aku tak tahu pasti, apakah dia punya atau tidak, lagi pula apalah arti sebuah nama cina untuknya, toh dia dipanggil “Kinan” setiap harinya oleh orang-orang. Kadang juga dipanggil “Anti”, atau “Cin”, dari kata “Cina”, karena wajahnya memang berbeda daripada orang-orang sekitarnya. Sebenarnya aku sebal juga dengan orang-orang yang memanggil dia begitu, mengejek sekali mereka pada kaum minoritas?

Rani Kinanti namanya, antara pendiam dan tidak pendiam orangnya, antara cerewet dan tidak cerewet orangnya, antara cantik dan tidak cantik orangnya, tapi kuakui sungguh manis memang, tak membuat orang yang memandangnya bosan-bosan. Ya itu lah keistimewaan orang yang manis, tak mudah membosankan meski omongannya membosankan, termaafkan oleh kemanisannya. Tapi Kinan bukan wanita yang membosankan omongannya, dia cerdas, hanya saja kurang kaya untuk seorang cina, tidak seperti orang-orang keturunan cina lainnya di kota-kota besar yang membuka usaha dagang elektronik atau apa lah. Orang tuanya hanya petani biasa, punya sawah, bukan buruh, jarang ada orang cina di jawa ini yang bersawah, tapi itu keistimewaannya, mungkin karena bapaknya menikah dengan orang jawa, jadi dia bersawah, atau mungkin itu yang membuat kehidupannya jadi seperti itu sekarang.

Kinan lebih tua dari ku, dulu setiap pagi dia pergi bersekolah di SMU Negeri di kotaku, dan aku selalu berangkat setelahnya, mengayuh sepeda di belakangnya, mengamati dia dari belakang sampai dia masuk ke pelataran sekolahnya. Tapi sekarang sudah berbeda keadaannya, dia cuma menganggur mungkin di rumah, membantu ibunya di dapur dan menunggu pemuda desa meminangnya. Aku. Ya, aku menaruh hati padanya secara diam-diam. Apa salahnya kawin kelak dengan orang keturunan? Toh sama-sama makan nasi kita di sini.

Tapi mimpiku itu jadi pupus, suatu hari Kinan itu mati, jatuh dari sepeda karena diserempet truk yang berjalan di jalan desa, untungnya dia tidak tertelindas sehingga jasadnya tidak rusak, hanya saja memang luka di kepalanya, mungkin itu yang menyebabkan dia mati. Mati..