Sore, Senja, lalu Malam. Membual.

by membualsampailemas


Sore. Banyak cerita-cerita berawal dari waktu sore. Aku pun bingung kenapa. Mungkin pengarangnya sedang duduk terdiam dan merenung memikirkan cerita yang hendak diceritakannya itu di waktu sore. Sore yang indah yang berwarna keemasan di ufuk barat sana. Awan-awan mengiringi sang surya kembali ke peraduan. Sementara di sisi timur sana, langit tampak membiru legam bertaburan ketombe yang banyak sekali di kulit kepala bumi, bintang.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Seno Gumira, sang sastrawan yang aku kagumi itu saat dia mengarang cerpennya yang pernah dimuat di harian Kompas tahun 90-an itu. Judulnya “Sepotong Senja untuk Alina”, cerpen yang sangat menginspirasiku membuaka dan mengeksplorasi alam sekitarku, dan yang menginspirasi jutaan jiwa muda yang sedang mabuk kepayang karena hal yang merah jambu warnanya, termasuk aku. Cerpen kesukaanku itu pun diawali dengan latar sore hari yang indah yang akan “dipotong” oleh tokoh Aku dan dibawa pergi untuk diberikan pada kekasihnya, Alina.

Sore hari pula, aku menulis ini, aku tak tahu kenapa suasana sore mampu menghipnotis banyak orang untuk melakukan perenungan. Di saat manusia lelah, saat manusia kotor karena badannya dipenuhi debu yang menempel karena aktivitasnya seharian, saat manusia sedang lapar-laparnya karena kerjanya, saat manusia istirahat di dalam tidurnya atau duduknya sambil menikmati secangkir the atau kopi panas, saat manusia membaca berita dari media yang berisikan peristiwa seharian, saat manusia kembali pulang pada keluarganya dan bercengkrama dengan mereka semua, mengobati lelah seharian, yaitu sore hari yang indah, yang banyak sastrawan menggunakannya sebagai awal dari sebuah cerita.

Bumi berputar begitu lambat, matahari diam dengan keperkasaannya tanpa pernah mengurangi panasnya yang dia pancarkan kemana-mana, termasuk bumi. Sore hari merupakan waktu dimana bagian bumi yang mengalaminya sedang diantara menghadap dan membelakangi matahari.

Saat musim penghujan, sore adalah sama dengan siang, mendung menghalangi sang lazuardi dan mengaburkan pandangan manusia yang bernaung di bawahnya untuk melihat sang waktu. Hujan menambah kebutaan manusia terhadap waktu, hanya sinar yang semakin redup menjadi petunjuk bahwa para manusia harus segera kembali ke peraduannya. Sementara itu, di sisi lain bumi, sore merupakan gerbang menuju malam yang merupakan dunia lain bagi makhluk nokturnal. Kelelawar, burung hantu, bahkan mungkin hantunya sendiri akan keluar di malam hari dari gerbang sore.

Oh, sang sore, sang senja, engkau sungguh memikatku dengan segala keindahanmu, segala keunikanmu, dan segala bencanamu. Entah apa yang akan terjadi jika kelak tidak ada sore hari lagi, bagiku maupun bagi manusia di seluruh belahan dunia. Dengan segala keunikanmu dan indahmu, aku bersyukur pada Tuhan karena sang sore yang merupakan bagian dari sang waktu melewati hari-hariku di dunia ini. Karena ada sore, aku dapat melihat ketombe bertebaran di kulit kepala bumi di malam hari nanti. Karena sore, aku dapat beristirahat dalam dekapan erat sang malam yang membuat aku dan keluargaku dalam tidur. Karena sore, aku dapat berfikir. Rahasia di balik sang sore, anak sang waktu sungguh memikat. Dan kelak, akan ku curi kau dan kuberikan pada kekasihku seorang seperti halnya yang dilakukan tokoh Aku dalam cerpen kegemaranku, karena sore lah milik aku dan kekasihku seorang.