Maaf,. 2

by membualsampailemas


Selalu kuhibur diriku jika aku rindu padamu, A, kubayangkan saat-saat dimana kita sering bersama, bercerita ini dan itu dan segalanya tentang hidup ini. Aku selalu memandang wajahmu penuh makna, tanpa kau sadari itu semua tentu, entah kau sadar atau tidak aku pun sebenarnya tiada tahu. Suatu ketika di akhir semester, aku pernah sangat merindukamu, tapi aku canggung, so awkward, untuk sekedar menyapamu lewat sms, karena sama sekali aku sudah jauh darimu sewaktu itu, aku hanya bisa membuka laptop, lalu melihat masa-masa dulu yang terekam dalam bingkai layar laptop ku, foto-foto teman-teman jaman dulu, dan itu mengingatkanku akan hampir semua kejadian yang pernah ku lalui bersama atau tanpamu, saat-saat dimana aku cemburu, saat dimana aku rindu, saat dimana aku senang dan sebagainya terekam jelas di otakku.

Tapi apa daya, semua itu hanya meringankan, bukan mengobati. Kau tahu, yang namanya cemburu sering sekali menghampiriku setiap waktu, sejak kedekatanmu dengan dia yang lain, awalnya aku tak menaruh rasa cemburu, memang, tapi lama-kelamaan memang rasa itu muncul lagi. Aku tak tahu mengapa, kurasa kau sudah tahu jawabnya.  Sampai sekarang, aku mencoba untuk meredam segala kerinduan dan kecemburuan dengan caraku sendiri, mengalihkan perhatianku pada hal lain, termasuk pada sosok lain, tapi itu lagi-lagi memang hanya meringankan, bukan mengobati, dan rasa ini selalu kembali entah sampai kapan. Apa ini yang namanya cinta? Butuh pengorbanan perasaan? Kau tahu, setiap orang pasti pernah menyakiti hati orang lain, mungkin dulu aku juga pernah menyakiti hati orang lain sampai-sampai Tuhan memberiku rasa ini untuk membalasnya, mungkin? Lewat dirimu. Mengapa aku mencintai sesosok orang seperti mu? Aku pun tak tahu, melainkan yang aku tahu adalah “jika seseorang ditanyai alasan mengapa dia mencintai, maka orang itu takkan pernah bisa menjelaskannya, itu adalah sebuah chemistry alami”.

Yang aku permasalahkan adalah cara mengobati rasa rinduku dan meredam semua perasaanku, selagi aku menunggumu, tapi iblis di dalam dada ini selalu mempertanyakan ku, apakah aku bisa? Jika kau tau, aku selalu mencoba hingga akhir. Aku menunggu. Berarti aku mengharap berakhirnya kisahmu yang sedang indah itu, ya aku berharap dan aku sekarang ini sedang egois. ya kan? :) A, apa yang harus kuperbuat? Kau selalu bilang banyak wanita selain dirimu, kau memerintahku untuk mencari yang lain? Tega. Kenapa kau tak memintaku untuk menunggumu?

Apa dulu kau itu cuma sekedar bercerita? Tiada lebih? Mungkin memang dulu awalnya aku lah yang salah karena terlalu mengharap lebih. Kala itu, kau sedang menjalin kisah indah, dan aku hadir merusaknya, lalu kini kau menjalani kisah indah lagi, dan aku berharap itu akan berakhir, lalu berawal bersamaku dengan kisah lain, dan aku berharap itu yang terakhir kalinya untukmu dan untukku.

Kau ingat, dulu aku pernah memboncengmu dengan sepeda motor, sewaktu kita masih dalam satu organisasi kesiswaan, aku selalu memikirkan inikah terakhir kalinya aku mengendarai motor bersamamu? Aku rindu saat kita bercerita di atas sepeda motor kala sore itu dari Kaligesing, untuk apa ya? aku pun lupa. Bagaimana kalau sewaktu-waktu kita ulangi lagi “keromantisan” itu? :)

Atau saat kau tertawa karena meledekku, lalu aku berpura-pura memasang muka sebal, sebenarnya aku memperhatikanmu kala itu dan aku menikmati masa-masa itu. Saat kau bersandar di punggungku saat kita sama-sama kelelahan karena mengkader para penerus organisasi, dan kau tampak sangat kelelahan, tapi kau malah menawarkan aku pundakmu padaku karena kau melihatku lelah juga, padahal kau tahu aku lebih tinggi darimu, mana bisa aku bersandar di pundakmu. :D

Aku pernah membuatmu marah dan menangis karena memperlakukanmu tidak semestinya, mungkin waktu itu aku memang sedang sebal dan emosi, maklum lah, abg labil, aku “memukulmu” di pundak, maksudku adalah ingin sedikit menepuk, tapi mungkin terlalu keras, kau pun menangis dan aku meminta maaf berhari-hari padamu, entah kau masih ingat itu atau tidak. Seakan kau lupa semua yang telah kita lalui bersama, atau kau memang sengaja memendamnya karena sekarang sudah lain zamannya. A, aku merindu, kapan aku bisa memotong senja untuk mu?*

*)Sepotong Senja Untuk Pacarku