Pelajaran Penting tentang Bersyukur

by membualsampailemas


Berikut adalah tulisan lama saya di catatan Facebook. Sudah lama sekali, waktu itu saya menulis lewat HP saya, di Pati, Jawa Tengah. :)

Assalamualaykum wr wb

Alkisah, ada seorang Ustadz yang sudah tua mempunyai seorang putri yang menikah dengan seorang Guru SMP. Suaminya adalah PNS biasa.
Putri sang Ustadz sejak kecil sudah dididik dengan baik, diajari berbagai ajaran baik termasuk seorang istri harus patuh pada suami. Tak heran putri sang ustadz sangat setia pada suaminya.. Selain itu, sebagai seorang perempuan, dia tidak mau menggantungkan seluruhnya pada si suami.

Pada awalnya, kehidupan suami istri tersebut sangat bahagia, sebagai seorang PNS, wajarlah bahwa hutang mereka banyak kesana sini, hidup prihatin. Anak mereka pun lahir 1/1. hehe,ya iya lah, masa 2/2 lahirnya? cape donk.
Nah, anak-anaknya pun bertambah besar dan tak terasa sudah hampir masuk SD. Suami istri tersebut sudah punya rumah tentunya, tapi tahulah bahwa kehidupan PNS itu pada awalnya harus merintis benar2 dari bawah dan mereka masih punya banyak hutang disana-sini diantranya untuk membangun rumah, persiapan masuk sekolah anak, dan lain-lain. Gaji bulanan seorang suami PNS pun harus terpotong beberapa persen (hampir setengahnya sebenarnya) untuk melunasi hutang-hutangnya. Mereka hidup sabar dan prihatin dengan keadaan tersebut. Setiap hari makan seadanya, keperluan yang tidak terlalu penting, sementara ditahan dulu.

Suatu saat, si istri yang merupakan ‘Menteri Perekonomian’ keluarganya ini harus berpikir keras untuk menyiasati keterbatasan keluarga mereka sekarang. Si istri sebenarnya tak tahan dengan utang-utang suami yang membuat gajinya terpotong tiap bulan. Timbul niat si istri tersebut untuk membntu perekonomian keluarganya. Kala itu, sedang marak-maraknya pengiriman TKI ke Singapura. Tetangganya yang dulu menjadi TKI dan sekarang sudah pulang pun terlihat kehidupannya membaik dari pada dulu. Dia sudah punya motor baru dan bisa beli sawah sekedarnya yang dapat dikelolanya. Sementara, suami-istri tersebut, motor saja masih mtor butut yang sering dibawa si suami bekerja dan antar jemput si kecil. Sawah pun boro-boro, rumah saja temboknya belum dicat, TV msh 14”. Semua musti lebih prihatin dari tetangganya itu yang sudah pulang dari negri Jiran selama 2 tahun. Timbul niat di hati si istri untk pergi menjadi TKI agar perekonomian keluarganya membaik.
Suatu hari, si istri minta izin pada si suami untk pergi menjadi TKI..
‘Yah, Ibu punya pandangan untuk meringankan beban kita sekarang ini, Yah,. utang-utang kita kan masih banyak, anak-anak pun harustrus sekolah,’ kata si istri.
‘pandangan bagaimana Bu?’ kata si suami dengan lembut.
‘begini, Yah, Ayah tahu kan tetangga kita yang menjadi TKI di Singapur itu, sekarang saja kehidupannya setelah pulang kemarin, dia sudah bisa beli motor baru, gak cuma itu, dia juga dah punya sawah kan, Yah?’

Akhirnya, setelah si istri mengungkapkan berbagai alasan untuk menjadi TKI di Singapura, hati sang suami pun luluh walau awalnya dia tidak menyetujuinya.
‘Bu, sebenernya tanpa ibu jadi TKI, beberapa tahun lagi utang kita pasti sudah lunas kok, tapi kalau ibu tetap berkehendak, Ayah cuma bisa pasrah saja, asal jangan lama-lama, kasihan anak2.’ kata suaminya.
Singkat cerita, si istri pun berangkat menjadi TKI ke Singapur dan menjalani kontrak selama 2 taun demi pengharapan lebih baik dan benar saja, tak beberapa lama si istri sudah mampu mengrim uang ke kampung halaman. Tapi, uang-uang tersebut hanya diterima saja oleh suaminya dan tidak pernah digunakan, suami menyimpannya saja. Sementara itu, hutang tetap dipotong dari gajinya. Anak-anak sekolah dengan baik dan jarang rewel, meski kadang-kadang si bungsu bertanya
‘Yah, ibu kapan pulang?’
Ayahnya hanya menjawab bahwa sebentar lagi ibunya akan pulang.

Tak terasa sudah 2 tahun dan si istri pun pulang. Anak-anak pun senang. Ketika tahu uang yang selama ini dikirim hanya disimpan saja, si istri bertanya ‘kenapa uangnya tidak dipakai?’
‘Utang kita sudah lunas, bu, dengan gajiku, sementara uangmu ku simpan di bank, untuk keperluan mendatang di tabunganmu.’ jawab si suami.
‘Pakailah untuk membeli motor, yah, atau membeli sawah’
‘Tidak bu, Motor ku masih cukup layak untuk dipakai kok. Lagi pula itu adalah uangmu. Uangmu adalah milikmu, dan uangku milik kita’ kata si ayah. ‘mending untuk biaya pendidikan anak-anak kita kelak bu.’

Semua penjelasan suaminya agak membuat si istri kesal. tapi dia menahannya.
Beberapa bulan setelah kepulangannya, dia mendapat kabar bahwa teman2nya dulu sekarang berangkat lagi menjadi TKI untuk menambah penghasilan yang lebih banyak. Si istri pun ingin dan mintalah dia ijin dari suaminya lagi.
‘Yah, coba pikir, aku yang dulu selama 2 tahun pergi saja mampu mengumpulkan uang sebanyak itu, jika aku pergi lagi seperti teman-temanku, bayangkan mungkin kita bisa memperbaiki rumah, buka warung, atau suatu usaha yang lebih besar, Yah.’
‘tidak usah, bu, kita sudah cukup berkecukupan, rumah sudah lumayan, sekolah anak-anak sudah bisa kita biayai tanpa hutang, meski masih ada sedikit gaji terptong untuk rumah, tapi ibu punya tabungan di bank yang lumayan kan? kurang apa lagi kita?’
‘tidak yah,aku ndk ingin terbayang hutang terus menerus’
‘hutang itu wajar bu, apa lagi aku cuma PNS, semua orang juga punya hutang dan tidak serta merta dapat terlunasi. Sabar saja, pasti dapat lah kita selesaikan tanpa perlu ibu menjadi TKI lagi, lagian anak-anak kasihan kan.’
‘Yah, ijin kan aku ya’
‘tidak.’ jawab suami lembut.

dari cerita di atas, kita dapat memetik pelajaran penting.. Nah, kelak kalian-kalian ini yang cewek-cewek, pandai-pandailah mensiasati perekonomian keluarga, tapi, kalian juga harus pandai-pandai bersyukur terhadap apa yang didapat suami kalian. Begitu juga suami. DLL.

ws wr wb