Kisah Singkat Basusena (Adipati Karna)

by membualsampailemas


Basusena atau yang banyak orang tau adalah Karna atau Awangga adalah putra pertama Dewi Kunti yang merupakan anugerah Batara Surya pada waktu Kunti masih muda. Saat itu, Kunti hanya iseng mencoba mantra barunya, Adhityahredaya, dan ternyata tak tahunya malah mendapatkan anugerah anak dari Batara Surya.
Basusena di besarkan oleh seorang kusir istana di Astina yang bernama Adirata. Ketika ditemukan di sungai oleh Adirata, dia sudah memakai pakaian perang lengkap dan memakai anting-anting pemberian Batara Surya. Si kusir pun gembira karena mendapat anak asuh. Adirata bersama istrinya, yaitu Radha merawat Basusena dengan penuh cinta kasih. Basusena tumbuh menjadi anak yang terampil dan tangkas. Dia bercita-cita menjadi ksatria ahli memanah di Astina, oleh karena itu, Adirata mendaftarkannya pada Resi Durna yang kala itu mengajar Pandawa dan Kurawa. Tapi Durna menolak karena Basusena adalah anak kusir dan bukan kasta ksatriya. Durna hanya mengajar para ksatriya. Basusena pulang dengan kecewa, tapi dia tidak menyerah. Dia sering mengintip Durna waktu sedang mengajar dan dia blajar secara ‘ilegal’ padanya.. Kemampuan memanah dan bela dirinya pun berkembang pesat, bahkan mampu menyaingi Arjuna.
Suatu ketika, diadakan uji tanding untuk menguji keterampilan para Pandawa dan Kurawa. Para murid menunjukkan ketrampilan masing-masing. Tiba-tiba, Basusena muncul dan menunjukkan ketrampilannya yang mengagumkan. Dia bahkan menantang Arjuna yang konon adalah murid terbaik Durna. Tapi, Resi Krepa yang melihat hal tersebut menyuruh agar Basusena memperkenalkan diri terlebih dahulu. Seketika itu Basusena tertunduk malu menyebutkan identitasnya. Para hadirin termasuk Pandawa tertawa mengejek Basusena, tapi Duryudana langsung muncul untuk membela Basusena, dia menghargai keberanian dan keterampilannya. Dia pun menawarkan persahabatan, bahkan menawarkan jabatan patih di daerah Angga, ketika dia telah menjadi raja. Drestarasta yang merupakan raja kala itu menuruti saja permintaan putra kesayangannya tersebut. Tanpa disadari, Kunti yang ada pada acara tersebut pingsan karena dia menyadari bahwa Basusena adalah putranya yang ia buang dulu, karena melihat pakaian perang yang ia gunakan.
Basusena diangkat menjadi patih (kabupaten) Angga, dan ayahnya yaitu Adirata muncul untuk menyelamati anaknya. Melihat itu, sekali lagi Bimasena tertawa mengejek pada Basusena yang merupakan anak kusir. Tapi Duryudana muncul sekali lagi membelanya..

Basusena juga dikisahkan pernah turut serta dalam sayembara memperebutkan Drupadi. Bahkan dia sanggup lolos ujian sayembara untuk mengangkat busur Siwa dan memanah burung dalam sangkar yang berputar dengan tepat. Tapi Drupadi tidak mau menjadi istrinya karena Basusena hanyalah anak kusir. Basusena mengatai Drupadi bahwa kelak Drupadi akan menjadi perawan tua karena tak ada lagi yang dapat memenuhi persyaratan sayembara lagi kecuali Basusena.
Ada juga kisah Basusena yang sakit hati dan mengatai bahwa Drupadi adalah pelacur karena bersuamikan 5 orang Pandawa saat Pandawa kalah taruhan main dadu dengan Kurawa. Puntadewa mempertaruhkan Indraprastha, Amarta, dan Drupadi serta adik-adiknya pada Kurawa. Ketika itu Drupadi hendak ditelanjangi oleh Kurawa.

Basusena merupakan tokoh antagonis dalam Mahabarata, dia punya sifat yang angkuh, pamer, dan sombong. Tapi dia juga dermawan jika pada brahmana dan kaum miskin. Dia punya sifat kompleks.
Pernah juga sewaktu kejadian pusaka Kuntawijayandanu yang diberikan Batara Narada pada Basusena yang dikiranya Arjuna karena muka mereka mirip dan kala itu senja, sehingga Batara Narada dapat tertipu. Arjuna yang berhak atas pusaka tersebut dan karena hendak dipakai memtong tali pusar Gatotkaca, lalu merebutnya dan bertarung dengan sengit. Tapi Arjuna hanya berhasil merebut wrangka (sarung) dari pusaka tersebut.
Ada juga versi yang menyebutkan bahwa pusaka Kunta tersebut bukan dari Batara Narada, tapi dari Batara Indra yang kala itu menyamar sebagai brahmana dan meminta sedekah pada Basusena berupa baju perang Surya yang dikenakannya. Karena sudah bersumpah akan berdermawan pada brahmana, dia pun memberikannya. Batara Indra yang terharu memberikan pusaka Kuntawijayandanu tersebut sebagai imbalan atas kedermawanannya. Tapi pusaka tersebut hanya dapat digunakan sekali saja.

Saat Baratayudha, pusaka tersebut hendak digunakan untuk membunuh Arjuna oleh Basusena, tapi karena suatu keadaan, malah digunakan untuk membunuh Gatutkaca karena hanya pusaka itulah yang mampu membunuh Gatutkaca..

Oiya, saat hendak perang Bratayuda, Basusena didatangi Kresna dan bicara empat mata dengannya. Kresna memberitahu jati diri Basusena yang merupakan kakak dari Puntadewa, Bimasena dan Arjuna. Basusena bimbang luar biasa, tapi akhirnya dia tetap pada pihak Kurawa karena dia mempunyai utang budi pada Duryudana yang membelanya dulu. Kresna terus mendesak tapi tak dapat mengubah pendirian Basusena. Bahkan Kresna berkata bahwa ksatria tugasnya adalah memberantas angkara murka, bukan membalas budi yang utama. Tapi Basusena yang sudah tahu akan hal itu tetap pada pendiriannya. Dia berkata:

“Kakang, kawula sampun mangartos sejatinipun kawula inggih punika putra saking Surya lan Dewi Prita sarta Pandawa tiga punika adhimas kawula. Ananging, kawula lenggah wonten Kurawa punika amargi Duryudana kaliyan para Bala sageda maju perang lan supados Angkara sageda dipunsirna kaliyan adhimas-adhimas kawula. Karana namung Pandawa ingkang saged nyirna angkara murka inggih punika Kurawa, nadyan benjang kawula pejah, sejatinipun manah kawula wonten ing adhimas kawula, Kakang Kresna..”

“Kakak, aku sudah tahu bahwa aku sebenarnya adalah putra dari Surya dan Dewi Prita (Kunti) serta Pandawa tiga itu, mereka adalah adik-adikku. Tetapi, aku tetap akan disini bersama Kurawa karena Duryudana dan para saudara-saudaranya agar bisa maju perang dan agar angkara murka bisa disirnakan oleh adik-adikku. Karena hanya Pandawa saja yang dapat menumpas angkara murka, yaitu pada Kurawa, walaupun esok perang aku akan mati, tapi sebenarnya hatiku ada di adik-adikku, Kakak Kresna”

Kresna hanya pasrah dan mendoakan Basusena.
Pernah juga sewaktu di sungai, Kunti menghampiri putranya tersebut dan dibujuknya agar memihak Pandawa. Tapi Basusena memberikan penjelasan yang sama. Serta dia menyesalkan mengapa dulu dirinya dibuang. Seandainya tidak, tentu saja sekarang dirinya ada di pihak Pandawa. Kunti menangis atas jawaban Basusena tersebut dan menyesal. Basusena yang iba pada ibunya itu juga menambahkan bahwa kelak dalam Bratayuda dia tidak akan membunuh para Pandawa kecuali Arjuna (dendam kesumat)

Pada perang Baratayuda, dia bertarung dengan gagah berani, bahkan pada saat peristiwa Abimanyu yang dikawal oleh pandawa (kecuali Arjuna) untuk masuk ke formasi perang Cakrawyuha, dia pernah mengalahkan Pandawa, tapi tak sampai membunuhnya karena terikat janji pada Kunti.
Saat perang, dari pihak Kurawa menunjuk Bhisma sebagai panglima. Bhisma yang menjadi panglima tak mau Basusena ikut karena dia sombong dan terlalu pamer. Basusena pun tak mau jika panglima perangnya adalah Bhisma. Saat Bhisma kalah karena tertancap ratusan anak panah ketika perang, Basusena datang dan melihat keadaannya, dia mengungkapkan rasa simpatinya pada Bhisma yang sekarat. Bhisma pun minta maaf telah mengatainya, karena sebenarnya dia tak mau Basusena berperang melawan Pandawa yang merupakan adik-adiknya sendiri. Bhisma sendri tahu hal tersebut dari Batara Narada.

Dulu, Basusena pernah mendapat kutukan dari brahmana. Yang pertama adalah ketika dia berguru pada Parasurama (Avatara Wishnu sebelum Ramawijaya dan Kresna). Dia pernah menahan rasa sakit ketika dia menjaga gurunya tersebut tidur agar tak membangunkannya. Pada awalnya Basusena mengaku bahwa dia adalah brahmana, tapi Parasurama sadar bahwa ternyata Basusena bohong karena yang dapat menahan rasa sakit tersebut adalah hanya ksatriya. Dia dikutuk bahwa kelak ketika menghadapi musuh terbesarnya, dia akan lupa segala ilmu yang pernah dipelajarinya.
Kutukan kedua dari brahmana yang sapinya pernah tertabrak kreta Basusena, brahmana itu mengutuk kelak roda kretanya akan tenggelam ke dalam lumpur ketika dia menghadapi musuh terbesarnya.

Basusena menjadi panglima perang jika tidak salah pada hari ke 18 perang. Setelah Bhisma dan Durna yang menjadi panglima perang dari pihak Kurawa sebelumnya tewas. Basusena sendiri tewas oleh adiknya sendiri yaitu Arjuna. Sejak dulu Arjuna dan Basusena memanglah tak akur.
Kematian Basusena kala itu sungguh tragis, dia yang dikusiri Prabu Salya (kakak dewi Madrim) dalam setiap perjalanan, Salya selalu sakit hati terhadap ucapan Basusena yang “nylekit”, dan Arjuna yang dikusiri Kresna bertarung. Arjuna hampir tewas ketika senja tiba, tapi berkat Salya yang memberi isyarat khusus pada Kresna bahwa Basusena hendak menembak kepala Arjuna. Kresna menggeser kretanya sehingga anak panah tersebut hanya mengenai mahkota Arjuna.
Kala itu hari sudah senja dan Matahari sudah tenggelam. Sesuai perjanjian perang bahwa jika matahari tenggelam, maka perang harus ditunda. Tapi Arjuna dan Basusena tetap bertarung. Kereta Basusena sesuai kutukan pun terperosok rodanya pada lumpur. Basusena turun dan meminta agar pertarungan ditunda sejenak sampai membenarkan kereta nya. Arjuna pun menunggu, tapi Kresna mempengaruhi Arjuna. Dia mengingatkan bahwa dulu Basusena juga terlibat dalam pengeroyokan Abimanyu, anak Arjuna yang tewas dikeroyok pihak Kurawa. Teringat itu, Arjuna marah dan melanggar aturan perang. Dia mengambil busurnya dan menembakkan panahnya ke leher kakaknya itu ketika sedang membenarkan Roda Kretanya. Basusena yang tahu akan hal itu berusaha menghindar tapi dia lupa ilmunya (kutukan Parasurama). Akhirnya Basusena tewas seketika tak berdaya oleh adiknya sendiri.
Yang agak saya tidak suka adalah Arjuna dan Kresna yang bertindak kurang “fair” pada pertarungan tersebut.

Nah, itulah sepenggal kisah Basusena serta kecamuk antara perannya sebagai antagonis yang berhati pada Pandawa. Semoga bermanfaat untuk melestarikan budaya kita. :)