Pelajaran dari seorang Ekalya

by membualsampailemas


Saya ingin berbagi tentang kisah seorang tokoh pewayangan di Mahabarata, bernama Ekalya, pangeran suku pemburu, kasta terendah waktu itu, Tapi dia punya semangat yang luar biasa dalam menuntut ilmu, yaitu ilmu memanah.
Dia punya bakat yang sangat mengagumkan, bahkan kemampuan memanahnya dapat setara dan sedikit di atas daripada Arjuna.
Suatu hari, dia berniat belajar ilmu memanah kepada Begawan Durna, guru para Pandawa dan Kurawa. Dia berjalan jauh untuk berguru. Ketika dia sampai, dia memohon agar Durna mau mengajarinya, dia menunjukkan ketrampilan memanahnya kepada Durna. Melihat itu, Durna merasa jika Ekalya menjadi muridnya, maka kemampuannya dapat mengalahkan Arjuna. Padahal Durna sudah bertekad akan menjadikan Arjuna pemanah terbaik di dunia, karena Arjuna adalah anak emasnya. Oleh karena itu, Ekalya ditolak oleh Durna. Ekalya memohon-mohon, tapi tetap saja Durna tak mau. Akhrnya Ekalya pergi dengan sedih. Dia pergi ke hutan sendirian. Di dalam hutan, dia belajar secara otodidak tentnag ilmu memanah, dan dia membuat patung yang menyrupai Durna di sisinya. Dia mengalami kesulitan yang sangat dalam belajar, tapi karena ketekunan, niat dan usahanya yang pantang menyerah, dia dapat belajar sendiri disamping patung gurunya tersebut dan jadilah ia pemanah ulung.

Pada suatu versi menyebutkan bahwa suatu saat, di hutan, dia mendengar ada anjing yang menggonggong, dan tanpa dia melihat, hanya mendengar saja dia dapat memanah tepat di mulut anjing tersebut. Ktika Anjing tersebut datang ke Pandawa, maka semua terheran-heran dan bertanya kenpa ada pemanah yang begitu hebat selain Arjuna, karena yang dapat melakukan hal tersebut hanya Arjuna. Seketika itu, Ekalya muncul dan memperknalkan dirinya kembli dan membri hormat pada Durna. Durna cemas akan kemampuan Ekalya tersebut, lalu Durna menyuruh Ekalya untuk mengorbankan Ibu jari (jempol)nya pada Durna sebagai ujud kesetiaannya. Asal tahu saja, di jempol Ekalya tersebut terdapat cincin Mustika Ampal yang jika tanpa itu, Ekalya akan mati. Tapi karena kesetiaannya pada gurunya tersebut, dia rela. Dan memang, akhirnya matilah ia.

Ada juga versi yang menyebutkan bahwa Ekalya pulang dan menemui istrinya yang bernama Dewi Anggraeni. Dia sangat cantik karena ketrunan Hapasari (bidadari) dan juga sangat setia serta berbakti pada suami. Suatu saat, Arjuna pernh berkeinginan untuk merebutnya, Arjuna menggoda Anggraeni, tapi Anggraeni tak bersedia, dia mengadukan pada suaminya tentang hal tersbut. Ekalya membela istrinya tersebut dan bertarung dengan Arjuna dan Arjuna pun kalah, bahkan Arjuna tewas. Arjuna dihidupkan kembali oleh Kresna dengan kembang Wijayakusuma. Durna yang tahu akan hal tersebut meminta Ekalya mengorbankan jempolnya yang ada Mustika Ampalnya pada Durna. Lalu matilah Ekalya. Anggraeni pun karena setianya, dia mengikuti suaminya dengan pati obong karena tak mau dengan Arjuna.

Begitulah pelajaran dari cerita singkat tentang Ekalya, atau juga Ekalawya (india). Dari sini kita tahu bahwa Pandawa sebenarnya tidak murni “suci”, bahkan pahlawan pun ada sisi gelapnya. sebenarnya banyak sisi gelap dari Pandawa, tapi sudah terlanjur tertanam pada benak kita bahwa Pandawa adalah simbol kebenaran, dan Kurawa adalah kejahatan.