Waktu itu dan Waktu itu.

by membualsampailemas


Suatu pagi di sore hari, aku bermain dengan beberapa waktu. Beberapa waktu mendatangiku lalu mengajakku bermain bersama. Kala itu aku masih berumur 50 tahun, dan beberapa waktu sudah berumur, yah, berumur berapa ya? kira-kira aku pun tak tahu mereka berumur berapa karena mereka yang menentukan umur. Toh, siapa yang peduli dengan umur? Saat ini saja aku masih bisa bercanda dan bermain seperti ketika aku masih kecil, aku masih sama lincahnya dengan anak umur 10 tahun, masih bermain “sundamanda”, “gobaksodor”, “dinoboy” dan lainnya. Waktu-waktu itu datang menghampiriku secara bersamaan di sore dalam pagi, lucu memang, bagaimana mungkin mereka meninggalkan dunia dan alam seisinya dan memilih bermain denganku? Aku hanya dapat berkata “waow!”. Dan yang aku herankan, mengapa sore di dalam pagi tidak ikut kemari, dan mengapa aku masih berumur 50 tahun kala itu? dan siapa waktu yang mengayomiku dan beberapa waktu lain? Kala itu?

Ada 2 waktu yang datang padaku, mereka berdua tampak berbeda, yang satunya berwujud kebiruan, dan yang lainnya berwujud keemasan. Warna yang indah, dan aku hanya dapat tersenyum mengagumi keindahan mereka. Tampaknya juga aku jatuh cinta pada yang berwarna keemasan, karena dia sangat indah, bagaikan bidadari yang turun dari atap gedung pencakar langit, mungkin. Dan ternyata dia itu perempuan, berambut hitam tebal yang panjangnya sepundak. Kini aku dapat melihat perwujudan dari si waktu itu. Hei, tampaknya aku sering melihat dan mendengar cerita tentang si waktu yang cantik ini.

“Hei! kamu ini sepertinya saya kenal dengan baik?” kataku sambil menyodorkan tangan dan berusaha menjabat tangan waktu.
“Tentu. Aku adalah Senja Sore” katanya tersenyum manis.

Waow! dan lagi lagi Waow! dia memang seindah ketika aku melihatnya di bibir pantai, di puncak gunung, di dataran rendah, di tengah sawah dan di manapun di seisi bumi kecuali di dalam goa, segala keindahan itu menyatu dan membentuk dirinya, seorang wanita cantik nan anggun. Ah, andai saja aku dapat meminangnya dan kujadikan istriku, aku akan memiliki suatu waktu di kala itu.

Dan yang satunya adalah si biru, siapakah dia? Tampaknya aku kurang mengenalnya, yang berwarna kebiruan itu waktu apa? Malam? Pagi? Siang? Petang? Subuh? Oh, mungkin dia si Subuh.

“Dan kamu, pasti kamu si Subuh kan?”
“Iya, aku Subuh.”
“Ayo kita bermain!” ajak si Senja Sore.
“Main? bermain apa?” kataku.
“Kita bermain lompat tali! Bagaimana?”

Aku tentu akan kalah, lagi pula aku tak pernah bermain lompat tali, apalagi dengan 2 waktu yang datang menghampiriku itu. Mereka tentunya dapat menghentikanku seketika karena aku berada dalam waktu.

“Kalian serius ingin main lompat tali?”
“Tentu, kami serius.”
“Tapi aku tak bisa.”
“Ayo laaah, coba. Ini mengasyikkan!”
“Tapi aku benar-benar tak bisa.”
“Kenapa menyerah sebelum dicoba? Pernah mencoba sebelumnya?”
“Tentu, dan aku jatuh! Maka dari itu aku takut.”
“Kapan?”
“Waktu aku kecil,”
“Sekarang sudah tua kau ini, masih juga takut?”

Tua? Ya aku memang sudah tua, tapi tua itu adalah sesuatu yang didasarkan pada waktu, dan sekarang, waktu sedang bersamaku, jadi?

***

Aku membuka bajuku dan ikut antri di barisan yang sangaat panjang. deretan antrian paling kisruh, tapi masih dapat disebut sebagai antrian. Di ujung antrian sana, ada orang yang disemprot dengan selang air seperti kompresor mobil, sangat kencang, begitu kencang. Dimandikan. Ya, kami akan dimandikan dengan itu, dengan air dari selang bertekanan tinggi, seperti memandikan hewan saja? Apa kami ini hewan? Aku mengukur kepalaku dan mengacak-acak rambutku, lalu tiba-tiba aku masuk ke ruang waktu yang lain, kali ini sewaktu aku masih kecil. Lalu aku bertepuk tangan dengan gembiranya.*

*RSJ Sumber Waras.