Kematian dan Kenyataan

by membualsampailemas


Kematian seseorang merupakan jalan lain bagi orang tersebut, merupakan pintu menuju kedewasaan bersikap bagi orang yang ditinggalkan. Sebuah jalan kemenangan bagi orang yang beramal, dan sebuah akhir memilukan bagi orang yang berbuat dosa terlalu banyak, mungkin. Toh, siapa yang tahu kehidupan sesudah kematian selain Tuhan dan beberapa orang yang pernah mati, lalu hidup lagi. Kita semua belum pernah mati, kan? hanya mendengar cerita ini itu tentnag kematian dan kehidupan setelahnya, hanya mempercayai apa yang kita percayai sebagai sebuah kebenaran, tapi kita sendiri belum pernah secara langsung merasakannya.

Jika seandainya anda mati sekarang, orang-orang terdekat anda akan sangat pilu karena anda begitu cepatnya meninggalkan mereka, anda adalah kesayangan bagi mereka. Diantara mereka akan ada yang bertanya “mengapa kamu cepat sekali meninggalkan kami?”, “mengapa Tuhan secepat itu mengambilmu?” dan lain sebagainya pertanyaan yang akan mereka ungkapkan dalam kepiluan, atau mereka sembunyikan saja di dalam hati. Diantara mereka pula ada yang menjawab, “Ini sudah takdir yang telah diatur Tuhan untuk dia, bersabarlah”, “Ini adalah yang terbaik buat dia, daripada dia hidup tapi akan seperti itu”, “Sudahlah, ini memang jalannya, lihat, dia mati pun tersenyum”. Selain anda tersayangi oleh orang-orang itu, anda punya beberapa musuh atau orang yang membenci anda, mingkin, jadi mereka akan mengamini kematian anda seketika itu juga, meski itu hanya dalam hati. Terpikirkan kah anda bahwa ketika anda sudah berada pada ujung umur anda, siapakah orang-orang yang berada di sisi anda ketika itu, siapa yang menuntun syahadat (bagi yang muslim) bagi anda, siapa yang akan menunggui anda, atau mungkin akan terbiarkan karena tiada yang mengenal anda? Jika anda mati sekarang, anda mungkin merasa belum siap, mungkin diantara kita ada yang akan bilang, “wah, baru saja ak berbuat maksiat, masa udah mau mati?”. Mungkin beberapa diantar kita ada yang merasa belum siap seperti itu, atau ada juga yang merasa siap, ingat, cuma merasa. Kembali lagi seperti yang di atas, kita itu tak tahu seperti apa kehidupan setelah kematian itu sebenarnya, kita hanya tahu itu dari cerita yang kita yakini kebenarannya, dari ajaran masing-masing agama atau kepercayaan yang kita anut. Sekarang, mau seperti apa anda ketika mati esok kelak? Anda ingin Khusnul Khotimah (bagi yan muslim), mati dengan damai, atau mungkin ingin syahid, atau mungkin ingin keren, atau apa saja lah, itu dapat anda usahakan sendiri bagaimana “gaya” anda dalam menemui kematian. Tapi sejatinya itu semua sudah tergaris dalam takdir, bahwa anda akan mati pada waktu apa. Bagaimana orang-orang sekitar anda bersikap, bagaimana Ibu, Ayah, Adik, Kakak, Saudara lainnya akan mengiringi anda di saat yang terakhir, orang yang menyayangi anda akan menangis pilu, orang yang pernah berbuat kesalahan pada anda akan menyesal karena belum sempat menebusnya. dan sebagainya. Anda akan mengetahui, mungkin setelah anda mati meninggalkan mereka, bahwa ternyata orang yang selama ini anda tak sangka-sangka ternyata mengucapkan “kamu adalah yang paling baik dulu buat saya”, padahal selama anda hidup, dia bersikap biasa-biasa saja bagi anda.

Sekarang jika anda pada posisi orang yang masih hidup, anda mengetahui bahwa ayah atau ibu anda meninggal dunia, (mungkin beberapa orang merasa tersinggung, maaf) anda akan menangis sebisanya, anda akan meraung dan mengatakan , mungkin dalam hati , “Ini tak adil!”. Orang tua, kekasih, adik, kakak, teman dan lain sebagainya, jika salah satu dari mereka meninggal, tentu kita akan pilu, sangat pilu. Apa lagi kita ketahui bahwa ternyata dia itu sangat baik, dermawan, lucu, dan tak ada yang dapat menggantikannya. Apalagi baru saja kita bertemu beberapa jam lalu dengan dia, lalu tiba-tiba kita mendapat kabar bahwa dia meninggal. Beberapa diantar kita akan ada yang bilang “baru saja tadi aku bercengkrama dengan dia”.

Mempersiapkan kematian, adalah hal yang paling sering kita dengar, mungkin, dalam khotbah-khotbah. Rasanya sudah bosan mendengar ceramah itu. Seakan-akan kita sudah tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan kita perbuat. Sekarang akan saya balik, kita mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk kematian, bagi diri kita, dan orang yang tiada kita sangka-sangka. Tiap anda bertemu dengan seseorang, anggaplah itu adalah pertemuan terakhir anda, maka anda akan berbuat sebaik mugkin yang dapat anda berikan untuknya, untuk mereka. Entah siapa yang akan mendahului berpulang diantara kalian, entah anda, atau salah satu dari mereka, tapi yang jelas anggaplah itu pertemuan terakhir. Mari sedikit kita flashback pada beberapa kejadian di masa lalu, bagaimana pertemuan terakhir kita dengan orang yang sekarnag sudah meninggal, bagaimana raut wajahnya? Apa yang anda katakan dan perbuat padanya di saat terakhir itu? Jika dapat anda ingat semua itu, anda akan merasa bahwa dunia ini begitu singkat, bukan? Betapa anda tak dapat berbuat banyak pada saat bertemu terakhir kalinya dengan dia, betapa dia sungguh lain dari biasanya saat anda bertemu dengannya, mungkin.

Segala peristiwa di dunia ini sudah ditakdirkan sedemikian rupa sehingga anda akan menjalani hidup yang seperti ini, anda akan bersikap seperti ini, anda akan berpikiran seperti ini. itu semua karena takdir, dan salah satu yang membentuk diri anda, pandangan, sikap, serta takdir anda sekarang adalah takdir orang lain, yaitu mungkin adalah kematian orang lain. Dengan kematian orang lain, kita yan masih diberi nikmat hidup di dunia, sejatinya mendapat teguran dan peringatan, sejatinya mendapat ilmu baru, yaitu sebuah pemakluman, pendewasaan terhadap diri sendiri. Meskipun anda terkadang tak menyadarinya, bahwa dengan kematian ornag terdekat anda, anda akan menjadi lebih mandiri, lebih peka, lebih pintar, atau apapun. Tapi ada juga yang menjadi lebih buruk dari sebelumnya, mereka adalah orang-orang yang tak dapat menerima kenyataan. Berdoalah pada Tuhan, agar kita dapat menerima kenyataan.

Iklan