Kinanti (2)

by membualsampailemas


Masih tentang gadis keturunan cina itu, yang namanya Kinanti itu, yang kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam kemerahan lebat dan sangat lurus, yang matanya tak terlalu sipit seperti orang kebanyakan, tapi mungkin dia agak sedikit kurus karena kurang makan. Cantiknya ia jika ia tersenyum melihat kearahku, walau tak menyapa, tapi aku tahu dia mengenalku dan aku mengenalnya. Dia lebih tua dariku, tapi aku sangat menyukainya. Mungkin kali ini aku lebih tepat dibilang penguntit? Karena aku selalu mengikuti kemanapun dia pergi.

Oh, Kinanti, tak selayaknya kau hidup di kampung dengan orang pribumi seperti kami ini, kau ini keturunan cina, banyak orang-orang cina di kota seberang sana berjualan tak kenal lelah, tapi kau ini malah di kampung yang lusuh ini, setiap hari membantu ibumu di dapur dan mengantar nasi untuk ayahmu di sawah sana. Tapi aneh, kulitmu tak kunjung terbakar matahari seperti aku, yang kian hari kian hitam ini.

Suatu hari dari pelataran rumahku, aku melihatnya sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Sambil menyapu halaman dengan lidi, aku mencuri pandang dan melihatnya sedang membaca, entah apa. Siapa sebenarnya kau ini, Kinanti? Tak pantas kau ini di kampung, kau itu pantasnya di kota sana, memakai daster khas cina yang biasa dipakai noni-noni sepertimu, bukan memakai daster lusuh seperti itu, apalagi lebih sering kau pakai kebaya, sungguh kau berjiwa pribumi dan ragamu ini entah darimana aslanya, cantik.

Sesekali pula dia memandang ke arahku, mungkin ke arahku, tapi aku mengelak dan memalingkan muka, malu. Tapi aku segera memberanikan diri untuk mencuri pandang kepadanya, dan saat mata kami bertemu, dia tersenym, dan aku berusaha bersikap biasa dan terus menyapu, tersenyum.

Oh, betapa manisnya senyumanmu, Kin. Lalu aku memalingkan muka, lagi.

Terkadang aku berusaha seromantis mungkin untuk menjadi pengagum rahasia, aku petikkan beberapa tangkai bunga dari pelataran belakang rumah, lalu aku ikat seadanya dan aku letakkan di depan pintu rumahnya. Kadang ibunya yang mengambil bunga itu, kadang pula Kinan. Tapi jika ayahnya yang mengembil bunga itu, dia langsung membuangnya ke pelataran sebelah rumahnya. Tak apa lah, yang penting aku berusaha memberinya. Sempat terpikir, sampai kapan aku akan begini? Mengagumi tanpa diketahui?

——————————————————————————————————————-

Aku mengambil cangkulku dan hendak ke sawah untuk membersihkan tanggul sawah milik bapak. Pagi-pagi sekali, dan aku tak lupa memetik 3 tangkai bunga merah, entah bunga apa namanya. Lalu kuikat seadanya dan ku bawa ke depan rumah Kinan. Kuletakkan di bawah pintu yang pelatarannya masih tanah itu. Betapa terkejutnya aku ketika merunduk meletakkan bunga lalu tiba-tiba pintu dibuka dari dalam.