Mimpiku dan Kamu

by membualsampailemas


Ku tulis tengah malam ini, untukmu..
Ingat kah kau ketika kita pulang bersama, lalu kita bercerita satu sama lain tentang keinginan kita di masa yang akan datang. Aku selalu mendengarkanmu, sungguh, dan aku berharap akan mewujudkannya. Kau pernah bercerita bahwa kau hendak menjadi “penolong umat”, kan? yak, dan terjadilah itu sekarang. Sebenarnya jauh sebelum kau bercerita, aku sudah menentukan apa itu arti dari sebuah cita-cita, yak, aku sudah bercita-cita dan mematangkannya sedemikian rupa, sampai aku seolah sangat berambisi untuk menjadi dokter. Memalukan kah aku? Orang sebodoh ini hendak jadi dokter.Tapi waktu itu aku benar-benar yakin akan cita-cita ku itu, aku yakin bahwa itu akan terwujud kelak. Aku selalu membayangkan jika aku menjadi dokter, kau pun juga, kita sama-sama bekerja.Siapa sangka setelahnya, aku tak berhasil menggapai hal itu, lalu kau pun nyaris berhasil. Siapa sangka bahwa hidupku begitu mudah ditebak jadinya, mungkin. Siapa sangka bahwa aku akan jadi calon orang dengan rutinitas tinggi.
Aku akan bercerita tentang dulu, yang pernah kualami dan kurasakan bersamamu. Saat matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Saat aku masih sangat suka bercerita padamu dan mendengarkanmu, bukan seperti sekarang.
Sewaktu itu, sebermula aku belum mau mencari apa yang dinamakan cita-cita, jati diri, dan apa pun sebagainya. Sesuatu yang besar terjadi dalam hidupku, yang mungkin ini memang berpengaruh besar buat kehidupanku selanjutnya kala itu, dan baru aku sadari sekarang. Semula ketika anak kelas 6 SD, yang sedang dalam masa memulai nalar, yang sedang dalam masa perpindahan dari seorang anak menjadi seorang remaja. Tak pernah terlintas dipikirannya untuk berbuat hal apa dalam hidupnya kelak ketika dewasa. Maklum, masih anak-anak. Lantas suatu hari menjelang ujian kelulusan, dan benar-benar diuji, tak hanya oleh pendidik, tapi juga oleh Tuhan. Ayahnya tiada. Sebenarnya itu bukanlah suatu ujian buatnya saja, tapi juga buat keluarganya. Sejak itu pula, ia mulai sadar dan memikirkan apa itu masa depan, dan apa itu kerja. Sebenarnya ini adalah sebuah “pemaksaan” kedewasaan pada seorang anak. Ya, aku “dipaksa” menjadi dewasa oleh Tuhan, mungkin karena Tuhan punya rencana tertentu. Sejak itu lah aku menjadi sadar bahwa hidupku ini bukanlah sia-sia, aku yakin itu, dan bahwa aku ini punya beban yang harus ku tanggung. Mungkin aku yang merasa saja.
Lalu aku mulai cemas akan masa depan, dan aku menemukanmu. Kau bercerita tentang apa yang hendak kau inginkan terjadi. lalu aku berpikir hendak apa jadinya aku kelak? Aku terus merenung dan merenung. Apa jadinya aku kelak?
Kau tahu, cita-citaku adalah menjadi dokter. Aku memperoleh cita-cita itu bukan tanpa alasan, bukan tanpa pertimbangan, dan bukan hanya asal-asalan. Kau tahu itu semua, kan? Lalu aku belajar dengan giatnya, tapi apa daya, aku tetap tak bisa. Nyatanya sekarang? Kau pun begitu.
Jika saja waktu dapat diputar ulang, ha! tapi itu tidaklah mungkin. Kini sepertinya kau telah menemukan kehidupanmu, tentu bukan bersamaku, kan? Ya, bukan. Mulai sekarang juga aku belajar bagaimana untuk merelakan semuanya yang telah terjadi, merelakan cita-citaku itu, dan merelakanmu. Seolah aku kehilangan 2 hal penting kemarin dalam hidupku. Cita-cita, dan Kamu. Lalu aku muali merenung lagi. bagaimana selanjutnya ini? Aku yakin kau takkan pernah mengetahuinya meski ini kutulis. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih.
Kau tahu, aku menemukan sosok lain yang aneh, dia aneh, lebih aneh dari mu, kukira. :) dan dia belum pernah bersosok nyata bagiku. Lalu aku diliputi dilema luar biasa.