Senja itu, di tanah Kuru

by membualsampailemas


Terik matahari mulai memudar, Sang Bayu berhembus mulai perlahan dan perlahan mulai terasa mengusap kulit setiap manusia yang penuh luka, luka menganga terkena senjata, mereka yang masih hidup di hamparan tanah Kurukseta. Langit di sebelah timur mulai pucat kebiruan dan lama-lama menggelap, kelam. Sedangkan di ufuk barat sana, awan perak dengan sepuhan emas siap menanti dan memeluk sang Surya kembali ke peraduannya. Sudah sebuah perjanjian, bahwa perang harus dihentikan ketika matari terbenam, dan tak ada yang boleh melanggarnya.

Aku masih berlutut dan tertunduk lemas, serasa hampa segalanya. Aku memakai pedangku untuk berusaha tetap tegak menyangga tubuhku yang mulai lemas berlutut tak berdaya ini. Makin lama, suasana makin sepi. Tertinggal beberapa orang mati di sekitar sini dan darah yang mengalir dan mulai mengering perlahan, bercampur debu dan terhembus sang Bayu. Bau anyirnya kemana-mana. Di seberang sana, mungkin ada orang yang masih bertarung pada penghabisan, mungkin masih ada orang yang sudah tergeletak mati, atau mungkin tergeletak dan masih hidup, bisa berpura-pura mati, atau memang sudah tak berdaya untuk berdiri.

Kurukseta, tanah yang suci, segala perbuatan dosa di sini akan terampuni. Tapi, itukah alasan saudara-saudara ini berkelahi? Pandawa dan Kurawa, cerminan kebaikan dan kejahatan, katanya. Dari perang itu, mereka mengorbankan banyak nyawa, berperang dengan para saudara sendiri, paman, sepupu, kakek, kemenakan, ibu, kekasih, musuh, guru, teman seperguruan, sukutu, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Mereka berperang dan itu semua karena perebutan kekuasaan? Entahlah, aku ini orang awam.

Semampuku menangkap semua itu adalah karena intrik politik di kalangan Pandawa dan Kurawa yang konon mereka menginterpretasikan kebaikan dan kejahatan. Tapi kulihat sendiri ketika aku mengawasi pertandingan ujian memanah yang dilakukan Rsi Dorna kepada murid-muridnya, para Pandawa dan Kurawa kala itu, kala mereka masih muda. lalu datang si Karna membawa panahnya lalu ingin dilatih oleh Dorna. Aku melihatnya ketika dia mengaku sebagai seorang anak kusir kerajaan dan Bima menertawakannya, lalu Duryodana membelanya segenap hati. Aku melihatnya.

Di lain waktu aku melihat ketika aku disuruh berangkat berperang melawan kerajaan kecil dari kaum pemburu, kaumnya Prabu Palguna atau Ekalya. Tentu para prajurit tiada tahu untuk apa alasan mereka berperang sejatinya, yang mereka tahu itu hanyalah mengabdi dan membela tuannya. Tapi sungguh, aku melihatnya dan mendengarkannya ketika Arjuna, sang ksatria itu hendak membunuh Ekalya. Lalu mereka berdua bertarung sampai Arjuna lah yang tumbang dan mati, tapi hidup lagi oleh Wijaya Kusuma milik Kresna. Dan mereka menghabisi Ekalya. Dengar punya dengar, Arjuna hendak memperistri Dewi Anggraini, istri Ekalya yang cantik nan setia.

Lalu peristiwa penelanjangan Drupadi di saat Pandawa berjudi dengan Kurawa. Saat Yudhistira berjudi dengan Duryodana, dia mempertaruhkan kerajaan, adik-adiknya, sampai Drupadi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak tahu, karena Baghwad Gita hanya didengarkan oleh sang Arjuna kemarin, ketika kami hendak berperang melawan Kurawa. Aku tak tau apa itu isinya. Aku hanyalah petani biasa yang mempunyai mimpi untuk dibebaskan dari pajak, dan mendapat kehidupan damai di desa, menanam palawija dan sebagainya, menanam tanaman pangan untuk kita semua, hidup bahagia dengan keluarga, tanpa perang besar ini tentunya.

Betapa sebuah ironi ketika hari ke-8, Bima membunuh para sepupunya, adik Duryodana. pada hari ke-10 sang Bhisma tewas oleh Pandawa, cucunya sendiri.

Betapa sebuah ironi, ketika Abimanyu kemarin pada hari ke-13 perang, dikeroyok oleh bala Kurawa, pamannya sendiri, hingga tewas. Abimanyu memegang pedangnya hingga patah dan roda keretanya ia gunakan sebagai perisai hingga hancur berkeping. Tapi apa daya, kepalanya di hantam dengan gada hingga pecah dan tewas.

Lalu hari ke-14, ketika Kresna berbuat curang dengan menutupi sang matahari agar terlihat seperti menjelang malam. Ah, betapa aku tak tahu jalan pikiran para politisi itu. Aku sungguh tak mengerti. Mengapa perang ini harus ada dan terjadi? Mengapa para dewata menghendaki perang ini, bahkan seolah telah disekenario dengan cakapnya. Apa nyawa kami ini, para prajurit ini, para bidak ini, tak berharga? Apa kami ini adalah tumbal dari masa ini?

Aku berusaha berdiri dan aku sangat berusaha jika kau tahu. Dengan sisa kekuatanku, ketika Surya sudah tebenam separuh, aku mencoba bangun dan berusaha berdiri. Melewati ratusan mayat yang tergeletak di arena pertempuran.

Seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Musuh? Oh, itu teman. Dia tersenyum padaku. Aku berusaha menghampirinya semampuku, berusaha berjalan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat dia mengangkat busur dan mengarahkannya padaku tiba-tiba, menarik anak panahnya dan menghilangkan senyumannya begitu saja. Aku melihat matanya dan menatapnya penuh makna sebelum ia melepaskan anak panah itu. Aku pasrah. Aku tahu mungkin ia bermaksud menyudahi penderitaanku.

Dewi Ratih terlihat di sisi timur sana, indah, bulat, putih kekuningan. Dia membuaiku, menari dan menelanjangi dirinya sendiri. Dewa Bayu memelukku erat, saat Sang Surya telah tenggelam. Panah menancap di dadaku, tapi bukan jantung. Dan entah dari mana, satu tombak menancap di punggung, pun bukan jantung. Mengapa aku tersiksa begini, mati pun tidak, hidup pun aku tak tahu apakah ini layak disebut hidup?

Aku membayangkan istriku di rumah sana. Menyiapkan makanan untukku ketika sedang berada di ladang untuk menanam tanaman pangan di ladang kami tercinta. Menanam sagu dan jagung, wortel, bawang, dan kentang. Oh, kentangnya besar-besar. Dari kejauhan anak-anakku berlarian kecil menuju kemari. Ayah di sini, nak. Di ladang pedang, di ladang mayat Pandawa dan Kurawa, nak. Jangan susul Ayah.