ABABO (cerpen)

by membualsampailemas


Ah, pulang sore lagi, seperti biasanya di hari kerja. Kupikir tak semua guru SMA akan seperti aku ini, pulang menjelang maghrib. Ya mungkin cuma aku? Di SMA yang agak terpencil ini? Suatu pekerjaan berat menjadi guru biologi, banyak sekali hafalan yang aku hafal. Tentunya semua guru akan belajar sebelum mengajar, apa lagi yang masih baru seperti aku, materi masih sering lupa, padahal ya selalu diulang-ulang tiap tahunnya. Biologi, dulu aku begitu menyukainya, tapi sekarang lama-lama aku bosan.

Sampai pada suatu hari, aku mempunyai cerita yang cukup membekas. Tentang murid-muridku di kelas XI, waktu itu sedang menjelaskan tentang golongan darah manusia, A, B, AB, O.

“Sekarang kita bermain soal ya, jika seorang bergolongan darah B menikah dengan seorang bergolongan darah O, maka kemungkinan anaknya akan mempunyai golongan darah apa?” kataku melempar pertanyaan. Semua anak tampak masih agak kebingungan, kudengar di SMP dulu pelajaran ini pernah diajarkan, tapi dasar, anak-anak jaman sekarang pelupa, mungkin(?). Ku tunggu beberapa saat hingga ada yang menjawab,

“B saja atau B dan O, pak!”

“Hmm, yak, benar! Siapa yang belum mengerti?”

“Pak, saya tanya!” Anak yang bercukuran cepak di belakang, mengangkat tangannya. Mukanya khas orang jawa desa.

“Yak!”

“Kalau golongan darahnya AB menikah dengan O, apa mungkin anaknya AB juga?”

“Ndak no..”

“Tapi kok saya AB pak? Bapak saya O dan ibu AB”, tanya Parto dengan polosnya.

“Ono sek melu urun kwi! (ada yang ikut nyumbang itu!)” sahut suara lain, temannya.

Kontan semua siswa ngakak mendengarnya. si parto juga ikutan tertawa. Masa, apa dia benar mengecek darahnya?

“Mungkin hasil test darahmu salah, to” kata ku.

“Wah, masa di prodia kok salah? Baru kemarin ini waktu jatuh dari motor itu lho pak.”

“Ya, siapa tahu kan? Coba besok kamu ajak bapak sama ibumu buat test darah.”

“Wah, bapak saya takut sama jarum, pak!”.

Lalu semua tertawa lagi.

“Lho? kalau takut, darimana kamu bisa tahu bapakmu itu darahnya O?” kataku.

“Bapak yang bilang sendiri”

“Yo kamu to belum lihat hasil testnya langsung? Bapak sama ibumu tahu to kalau kamu AB? Lha kok ndak ngecek dari dulu?”

“Ya bapak sama ibu kan orang desa, mana tahu pelajaran biologi kaya gini, pak.”

Semuanya tenggelam dalam gilak tawa.

Sepulangnya, aku memikirkan si Parto tadi? Ada yang urun? Ah, masa? Apa mungkin salah ya di laboraturiomnya? Atau ketuker di rumah sakit? Ya ndak no ya?

Tiba-tiba, aku jadi kangen rumah, ingin bicara sama bapak dan ibu

“Halo, assalamualaikum!” kata suara di seberang sana.

“Waalaikumsalam, pak. Pripun kabare (gimana kabarnya)?”

“Waduh, anakku lanang tilpun ki, apik-apik, le, koe piye nang Sragen? Udan terus to kaya nang kene? (waduh, anak laki-lakiku telpon, baik, nak. Kamu bagaimana di Sragen? Hujan teruskah seperti disini?)”

“Alhamdulillah, wonten mriki sae pak, niki mboten nate jawah malah (di sini baik kok pak, di sini jarang hujan malah)”

“Wooh, beda no karo kene. Piye mulang e, le? (beda donk dengan sini. Bagaimana mengajarmu, nak?)”

“Pangestunipun bapak, lancar, nanging muleh sore terus niki. Eh, pak, ibu pundi? (Karena restu bapak, lancar, tapi pulang sore terus ini. Eh, pak, ibu mana?)”

“Oh, sik tak undangke simbokmu.(oh, bentar, bapak panggilkan)”

Dari seberang terdengar, “mbok e, ki lho anakmu tilpun(bu, ini lho anakmu telpon)”

Sampai aku berbicara pada ibu, lalu iseng aku tanya,

“Bu, bapak kaliyan ibu golongan darah e punapa to?(bu, bapak dan ibu golongan darahnya apa si?)”

“Walah, kok ndadak takon barang, ana apa le?(walah, kok pakai tanya segala, ada apa?)”

“Boten punapa, bu. Niki benjang ajeng ngajari lare-lare bab niku(tidak apa, bu. Ini besok mau mengajar anak-anak tentang itu)”

“Oh, dak kira ana apa. Bapakmu ki karo ibu podo, O. Wit cilik rung ngerti to ya koe, le(oh, ibu kira ada apa. Bapak dan Ibu sama, O. Dari kecil dulu belum tahu to kamu, nak)”

“Oh, njih.. Eh, bu, niki wonten tamu, cekap semanten njih, bu.. salam alaikum. (oh, iya bu, ini ada tamu, sudahan dulu ya, bu)”

Dadaku berdebar mendengar jawaban ibu, karena aku bergolongandarah B. Siapa yang urunan? Atau aku tertukar?