Mawar Taman Khayalku (cerpen part1)

by membualsampailemas


Mai cemberut karena tak mendapatkan tiket untuk nonton bioskop baru di kota kami. Kota kami kota kecil, baru ada bioskop sekitar 5 hari yang lalu, dan karena masyarakat sangat antusias karena belum pernah menonton bioskop sedekat ini dari rumah, maka tiket selalu habis on the spot. Aku yang menemani Mei ikut mengantre tiket sejak sore tadi pun memaklumi, tapi Mei terlihat kesal, belum pernah sekali pun dia menonton di dalam gedung bioskop, dan sekalinya bioskop dekat dengan rumah kami, selalu penuh. Mungkin jatahnya besok ketika orang-orang sudah terbiasa dan agak sedikit bosan dengan bioskop baru ini.

 

“Mai, sudah to, besok lagi. Lagi pula film buat minggu pertama ini ndak begitu bagus, kan.”

“aaaaaa!” dia merengek manja seperti anak kecil. “Mas ndak tahu si, nonton di bioskop itu beda, film jelek pun jadi kelihatan ‘wah!’ tau!”

“hmm, mungkin belum beruntung. Sudah no, ayuk pulang.”

“aaaaaa..emm.”

“manyun jelek lho!”

“biarin! weeek!”

Mai, Ang San Mai, itu tetanggaku, kami sudah seperti saudara. Orang tua kami itu tetangga baik sejak dulu, dan sejak kecil pun aku sering bermain dengan Mai. Saudara? Kalau dilihat sepintas tak ada yang berfikir kami itu tetangga, mungkin pacar? Aku sangat berbeda muka dengan Mai. Jelaslah, aku orang Jawa, dia keturunan Cina. Papanya penjual barang elektronik di kota kami, Mamanya itu perhitungan sekali dengan orang, tapi jika dengan keluargaku mereka sangat ramah bahkan sering membantu. Tak pelit dan tak perhitungan, kami dianggap seperti saudara saja. Ayahku dan Ibu pun demikian, mereka selalu akrab, apa lagi Ibu dan Mamanya Mai, suka ngegossip bareng, maklum ibu-ibu. Jika Ibu sedang masak enak, pasti tak lupa mengantarkan semangkuk sayur ke Mamanya Mai, juga sebaliknya. Rumah kami sebelahan menghadap timur, rumahku di utaranya rumah Mai. Kamarku berada di sebelah selatan rumahku, dan kamar Mai ada di utara rumahnya, jadi kamar kami saling berhadapan jendela. Kadang jika ada pekerjaan sekolah yang sulit, dia tanya padaku lewat jendela itu, tak terlalu jauh. Ya, aku satu tahun lebih tua darinya, karena itu dia bertanya pada ku selalu tentang pelajaran sekolahnya, buku-buku pelajaranku pun sering kupinjamkan padanya. Apa lagi kini dia kelas 3 SMA, aku baru semester pertama kuliah, di Jogja.

Mai, gadis ceria keturunan Cina, dia sangat elok, anggun, dan cukup semampai, cantik pula. Kulitnya kuning langsat, halus, dan rambutnya agak merah bergelombang, aslinya tak bergelombang, aslinya lurus rus, hanya saja dia itu selalu ingin tampil beda. Aku selalu menganggapnya tak lebih dari adikku. Tak tahu dia sudah pacaran dengan orang yang sering dia ceritakan padaku atau belum. Tiap dia bercerita, aku mendengarkan. Kadang bercerita tentang pelajaran, itu yang paling sering, tapi yang kedua paling sering adalah tentang teman laki-lakinya, siapa entah namanya, si Toni atau Soni, atau Doni, lupa aku akan namanya. Atau tentang keluarganya atau apapun.

 

“Mai, kamu norak banget pakek kaos hijau begitu.” kata ku sambil jalan.

“uuuhh! ngapain to pakek komentar ke baju Mai?! Bukan urusan Mas ya. week!”

Aku cuma tersenyum mendengar Mai.

“Lho, bukan urusan gimana? Yang lihat kan aku.”

“Lihat? ngapain to lihat-lihat? naksir Mai lhoh! hahaha..”

“week, gak yoh! Maksudku to kamu yang pakek bajunya, orang lain yang ngelihatnya, norak tau.”

“biarin to.. aaaa!” Mai merengak lagi dan menepuk nepuk pundakku.

“kamu masa sama sekali belum pernah nonton di bioskop? Aku aja udah lhoo.”

“pamer aah.. yang kuliah di Jogja.. biarin week!”

“ke Jogja noo, mau?”

“mauuu!!!!” Mai menarik lengan bajuku.

“hasssyh! apaan to pakek narik-narik segala. Ya kalo mau tunggu noo sampai liburanmu.. wee..! hahaha”

“uuummm” manyun.

“hahaha, ndak usah manyun to.. kamu kan dah kelas 3, belajar dulu yang rajin. Kalau besok waktu UTS kamu dapat peringkat 10 besar, aku ajak wes ke Jogja. Mau??”

“hah? beneran lho! Aku tak bilang ke Mama ntar, kalo sampai Mas bohong, biar dijewer Papaku! week!”

“kalo kamu 10 besar.. tapi kayaknya gak mungkin. haha”

Aku yakin dia tak kan masuk 10 besar, selama ini paling cuma ranking 17 atau paling bagus 15. Tak terlalu bodoh lah, sedang-sedang saja.

“Enak aja, besok aku buktiin lho ya. Awas lho kalau ndak jadi! haha.”

“bioskop di Jogja itu bagus, ndak kaya di sini itu,belum ada apa-apanya.”

“yeeh, aku juga tau noo.. emangnya aku se ndeso itu apa?”

“lha itu, belum pernah nonton bioskop.. week”

“aaaaa! tak tabok lhoh!” katanya sambil manyun.

“hahaha, gak bakal bisaaa!!”

Aku lari biar dia mengejarku, dia pun mengejarku.

Sore itu pun seperti sore-sore sebelunya di kota X, tak terlalu ramai, tapi sangat indah. Aku berkejar-kejaran dengan si Mai sampai ponselku berdering, telfon. Lalu aku berhenti berlari.

 

 

 

“Pak, itu lho, anakmu mau ngajak si Mai ke Jogja kalau Mai jadi 10 besar besok ujiannya.”

“Oh, bagus noo, ndak masalah to?”

“ndak masalah gimana, jogja kan jauh pak.”

“ah, cuma 2 jam an dari sini kok. Kayak ndak pernah muda aja to bu.”

“bapak ini, mereka itu kan yo sudah besar, sudah bukan anak kecil lagi, kalau ada apa-apa gimana?”

“ada apa-apa gimana?”

“ndak baik lho anak dah besar kayak mereka pergi berdua jauh-jauh ke jogja.”

“hmm.. ndak apa-apa bu, mereka suruh nginap di tempat adikmu wae, ndak bakal ada apa-apa insyaAlloh”

“aah, bapak ini,”

“mereka itu cocok kok bu.”

 

 

“Pa, si Mai mau diajak Setyo ke Jogja itu lho.”

“Ma, udah to, ndak apa-apa. Mereka to udah besar, bisa jaga diri sendiri, dah tau mana yang baik mana yang ndak.”

“Tapi pa.. kalau ada apa-apa gimana?”

“nanti Papa ke rumahnya pak Pram”

“ah, ada-ada aja itu si Satya”

“sudah to, Ma.. lagian kan mereka udah kayak kakak-adik to.”

“kakak-adik gimana? kan mereka sudah besar, Pa”

“kalau pun pacaran ndak pa pa to, Ma”

“nah itu, kalau mereka pergi berdua itu bahaya.”

“hahaha.. insyaAlloh ndak apa-apa, si Satya kan dah tau agama to.”

 

 

Ani menelponku kemarin sore, dia mengajak bertemu setelah sekian lama.Belum terlalu lama sebenarnya, baru 3,5 bulan saja mungkin sejak kelulusan SMA kemarin. Tiba-tiba saja dia mau bertemu, ada apa gerangan? Ani, yang aku cintai sejak kelas 2 SMA dulu, apakah ini pertanda? aah, mungkin kalau memang jodoh itu tak kemana, buktinya, Ani pengen ketemu. Tapi kok mendadak ya? Apa dia yang mau mengatakan? Mengatakan apa? hahaha.. aku sudah terbuai oleh telfonnya kemarin, jarang-jarang aku mendapat telfon, dari seorang wanita pula. Kuliahnya di jogja juga, tapi belum pernah bertemu selama aku di sana dan kebetulan 2 minggu lagi kalau si Mai dapat peringkat 10 besar, aku ke Jogja. Kalau tidak pun, aku akan ke Jogja sendirian, dan sepertinya aku akan sendirian, jadi lebih bebas.

Ponselku berdering lagi, SMS.

“buka jendela”. Dari si Mai, sudah kuduga. Kalau ada SMS pasti si Mai. Lalu aku buka jendela.

 

“Mas, udah aku bilangin sama Mama lho.. hayoo!”

“Aku juga dah bilah sama Bapakku kok.”

“Bagus deh. Awas ya, hati-hati aja besok kalau ndak jadi.”

“Kalau kamu dapet 10 besar lho ya, kalau ndak, ya brarti ndak aku ajak. wek!”

“Aku bisa lho ya.”

“Buktikan, Mai sayang.. week!” lalu aku menutup jendela.

“Eh, eh, kok ditutup!?”

Aku tahu dari seberang sana, pasti si Mai cemberut. Biarkan saja ah. Lalu ponselku berdering lagi, SMS, dari Mai pasti.

“aah, jahat, kok ditutup to. :(“, lalu ku balas

“ciyeh, kangen aku ya? hahaha”

“buka donk… :(”

Aku pun membuka jendela ku lagi.

“ada apa to kok suruh buka jendela lagi?”

“hehe.. aku cuma mau bilang, Makasih udah ditemenin tadi sore.”

Dia berusaha tertawa sok imut. “astoghfirulloh, jadi cuma mau bilang itu? haassyyh!” lalu kututup jendelaku lagi. `Pasti sekarang dia tertawa cekikikan di kamarnya. Pasti.