Mawar Taman Khayalku (cerpen part2)

by membualsampailemas


Hari itu datang, aku akan pergi ke Jogja, dan bersama Mai. Sebenarnya Mai tidak masuk 10 besar, dia hanya sampai pada peringkat 13. Angka sialnya ternyata buatku. Papanya Mai memintaku untuk mengajakknya ke Jogja, Ibu ku jadi tak enak dan menyuruhku pula. Kabarnya Mai merengek minta ke Jogja, tapi Papanya tak menyanggupi karena banyak urusan dagang, akhirnya aku yang disuruh. Ibu juga sok sok an menyuruhku untuk mengajak Mai, padahal ibu yang tadinya paling khawatir kalau aku dan Mai jadi pergi berdua.

 

“kenapa senyum-senyum?” kataku.

“hehe, kan mau diajak ke Jogja.” si Mai ‘nglendot’ padaku manja.

“haassyyh! dasar..”

“sudah to, nak. Ndak apa-apa lah pergi sama Mai, jaga yang bener-bener itu anak orang.” kata ibu.

“tuh kan, ibu mu aja nyuruh kamu buat njaga aku, mas. week!”

“iya, bu. Nanti tapi aku turunin di tengah jalan nih si centil!”

“aaaaa!” Mai menabok-nabok lenganku.

“sudah-sudah, ndak usah digoda gitu noo.. kasihan si Mai.”

“tuh, tuh.. dengerin.. week!”

“asem.”

“nanti kalau sudah sampai Jogja, sms ya, nak.”

“nggih bu..”

 

Motor ku hidupkan, dan mulailah kami dalam perjalanan. Di Jogja nanti harus ke rumah bulek dulu, tak bisa membawa perempuan ke kostku. Ini yang merepotkan, rumah bulek agak jauh dari kampus.

“Asik, nonton bioskop!”

“asik di kamu, nggak asik di aku.”

“kan sudah janji noo..”

“aku janjinya kan kalau kamu masuk 10 besar, mesti kamu njuk nangis-nangis to di rumah, terus minta ke Papa mu buat ke Jogja.”

“uh, tau aja. hahaha.. manjur juga ya.”

“wooh, bohongin orang tua dosa lhoh.”

“siapa yang bohong? kan aku cuma mengungkapkan keinginan.. haha”

“hassyh! pokoknya ini cuma seminggu lho, ndak lebih.”

“iya, iya.”

“cuma nonton bioskop lho..”

“hah? aaaaah!!”

“lhah? kan aku janjinya cuma nonton bioskop to dulu..?”

“ini kan ‘out of promise’, konteksnya kan ini bukan janjinya mas, tapi permintaan Putri Mai.. haha”

“Putri?!”

“iya.. Putri yang cantik jelita, sehingga semua orang terpesona padanya”

“haik! apa-apaan?! putri? aku gak terpesona lhoh.”

“iya ndak terpesona, yang udah punya mbak Ani.. ciyyeh”

“apa to?!”

“alaah, jadi salting gitu to.. haha.. awas ngendarain motornya yang hati-hati, jangan kebayang mbak Ani terus, kan ada Mai di sini, kebayangnya Mai aja.. haha”

“hassyh! ribet bener to kalo ngajak kamu!”

 

Kebayang Mai? apa-apaan ini anak. Aku tak perlu kebayang kamu, orang sering lihat kamu dari dulu. Ah, aku menghabiskan perjalanan bersama Mai terasa singkat karena diajak ngobrol terus. Walaupun tak bisa ngebut karena diajak ngobrol, setidaknya jadi tak sepi.

 

“Aku pernah ke Jogja, tapi ndak ke Bioskop”

“siapa?”

“aku!”

“siapa yang tanya, maksudnya..”

“aaaaaaaaaa!”

“hahaha.. nontonnya besok ya, besok malem.”

“lhoo? kok lama banget to?”

“katrok, kalau nanti malem ya capek, Mai.”

“aah, tapi aku pengen.”

 

Mai ini memang gadis termanja yang pernah aku temui. Dia tak ragu untuk bersikap sok manis pada siapapun demi mendapatkan apa yang diinginkan, meski keinginannya tak ‘neko-neko’. Selalu saja dia memukul-mukulku atau mencubit atau merengek atau apapun lah. Tapi kadang dia juga bisa mandiri dan tegar. Aku ingat, dulu Mai pernah ditinggal sendirian di rumah waktu orang tuanya harus ke Semarang. Tak punya pembantu, Mai bisa masak. ya, dia bisa masak dan bersih-bersih rumah. Ibu ku sendiri yang melihatnya, karena dulu Ibu yang menemaninya kalau malam sewaktu ditinggal sendiri.

“pengen ya pengen, tapi kalau nanti malam, besok-besoknya kamu mau ngapain di rumah bulekku?”

“nonton lagi… atau ke parangtritis, atau kaliurang,.. hehehe”

“astoghfirulloh.”

“Mai yang bayarin wes.. Mau?”

“endak!”

“mentang-mentang mau ketemuan sama mbak Ani, kan..?”

“lho..lho?”

“aku tahu lho.. aku bilangin ibu mu lho, mas”

“ibu udah tahu, week!”

“ya tahunya itu karena aku yang bilang.”

“aku kok yang bilang duluan.”

“iih, aku!”

 

 

Sesampainya di rumah bulek, kami disambut hangat. Bulek sudah tahu kami akan nginap di sini seminggu karena ditelfon ibu. Bulekku ini sudah sendirian, suaminya, paklek ku minggat entah kemana beberapa tahun lalu, anaknya baru kelas 2 SMP dan 3 SD. Kadang aku berpikir, kok taga-teganya Paklek itu minggat, untung Bulek bekerja jadi guru, jadi tak ‘hopeless’.

“duh, ponakan e bulek dah datang, ini to yang namanya Mei?”

“bukan Mei, bulek, tapi Mai.”

“oh, Mai.. aduh, cantiknya.. sini-sini, bulek antar ke kamarmu, nduk.”

Mai cuma senyum-senyum jaim saja. Kalau saja bulek tahu aslinya si Mai. Cantik? ya, Mai memang gadis yang cantik. kadang aku juga merasa dia itu menarikku, dan aku tertarik padanya, tapi mungkin hanya perasaan saja. Si Mai saja yang terlalu manja.

 

Ani belum menelfonku lagi. Jika aku yang menelfonnya, aku yang malu. Malu? aku malu untuk mengungkapkan perasaanku padanya dulu. Malu jika ketahuan. lalu untuk apa nanti bertemu? aku pun masih bingung.