Ketika Suatu Peristiwa Terjadi (didedikasikan untuk semua teman saya dari berbagai agama)

by membualsampailemas


Bismillahirrahmanirrahim..

Ketika sesuatu peristiwa menyentuh hatimu

Aku menulis ini hanya untuk menyadarkan kita saja, apakah cara kita berpikir itu terlalu picik?

Belakangan ini, sejak aku menjumpai sebuah millenium baru, di tahun 2000 silam, banyak sekali bencana yang aku lihat, dimana pun, di belahan dunia mana pun. Masing-masing dari bencana itu ada yang murni kesalahan dari manusia, ada yang bersumber pada alam. Mulai tragedi 9/11 di Amerika, Tsunami di Aceh, Lumpur Lapindo, Gempa di Bantul silam, Gempa di Haiti, kelaparan di negara-negara Afrika dan pergolakan politik, perang yang tak kunjung usai di sana hingga antara Israel-Palestina. Agak akhir-akhir ini yaitu dari awal tahun 2010, gempa di Haiti, negara yang mayoritas berpenduduk kulit hitam itu diguncang gempa besar, tak kurang dari ratusan ribu korban meninggal, lalu di tahun 2010 ini sendiri di negaraku, Indonesia, Banjir Wasior, Tsunami Mentawai, Tragedi Merapi, lalu meloncat ke negara tetangga, Australia, banjir di Queensland. Jika kita sebutkan satu per satu sejak tahun 2000 saja, di hampir setiap belahan dunia ada saja cobaannya.

Dalam hati aku berkata, Ya Allah Tuhanku, apa ini adalah akhir dari dunia ini?? Dalam hati orang lain, orang yang beragama lain pun berkata demikian, dan muncul beribu pertanyaan dari beribu hati orang yang masih tetap hidup diantara saudara-saudara mereka yang meninggal. Tuhan, mengapa ini terjadi, Tuhan?

Sementara beberapa pemuka Agama dari masing-masing agamanya di berbagai belahan dunia, ada saja yang mengatakan, “ini murka Tuhan! ini murka Tuhan! mereka tertimpa bencana karena ulah mereka sendiri, manusia terlalu rakus, manusia adalah penyebab dari semua ini. Kita harus sadar, ini menjadi pelajaran berharga bagi kita!”

Dalam hati aku berkata, Ya Allah Tuhanku, kalau para orang yang khotbah tadi berkata demikian dan itu benar, apa Engkau yang Maha Mulia dan Berkehendak Atas Segala Sesuatu begitu teganya menghukum orang-orang yang ahli ibadah diantara mereka yang tertimpa musibah, mereka tak berbeda dengan kami, hanya berbeda wilayah, hanya berbeda adat istiadat, hanya berbeda latar belakang, agama, suku, ras, tapi perbuatan kesehariannya tak lebih baik atau buruk dari kami? mengapa engkau tak menghukum semua saja? mengapa hanya mereka, ya Tuhan?

Aku selalu bertanya, apa Tuhan sebegitu kejamnya? mengorbankan sebagian menusia untuk menyadarkan sebagian manusia lainnya?

Sementara aku terus melihat para pemuka agama itu mengkait-kaitkan masalah ibadah dengan bencana. Tempat yang terkena bencana itu orang-orangnya banyak yang durhaka kah?

Kemarin sewaktu Merapi melanda, ada saja yang bilang mereka terkena musibah karena durhaka pada Tuhannya, musyrik! Nyembah kok ke gunung, lihat itu akibatnya.

Dalam hati aku menjawab, apa orang-orang di Aceh begitu juga? durhaka pada Allah?

Kenapa mereka berkata demikian? Padahal Tuhan Maha Mengetahui apa pun, apa yang Dia timpakan pada sebagian maupun seluruh manusia yang ada di bumi. Kenapa mereka menarik kesimpulan seperti itu? kenapa aku berpikir seperti ini?

Ketika tragedi 9/11 di Amerika sana, tak sedikit para pemuka agama yang bilang itu adalah pantas untuk mereka. Mereka itu bangsa yang dzolim!

Lalu aku mendapat gambaran bagaimana krisis di Amerika sana serta bagaimana nasib orang-orang muslim di sana yang pasti setelahnya akan terkena dampaknya juga. Islamophobia merajalela. Aku yakin banyak orang muslim yang menyembunyikan identitas keislamannya semenjak itu hanya untuk menghindari amukan orang-orang yang emosi.

Lalu terjadilah suatu ketika Tsunami Aceh, tak sedikit korban yang tewas. Kala itu setelah Natal, yaitu 26 Desember 2004. Aku sangat ingat akan kejadian itu, karena Pak SBY baru saja dilantik jadi presiden.

Beberapa pemuka agama dari agama lain pun tak ada bedanya dengan di agamaku, ada saja yang bilang itu karena masyarakat di sana diskriminatif, mau menang sendiri, kami mau merayakan Natal saja tidak boleh dan harus merayakannya di tempat2 yang jauh dari mereka. Lalu beberapa dari mereka mengkaitkan hal itu dengan adzab Tuhannya.

Pernahkan kalian berfikir tentang hal itu? Pernahkan kalian itu merenungkan apa yang sebenarnya terjadi? Benar ini adalah sekenario takdir Tuhan yang tak dapat dielakkan lagi, tapi mengapa mereka selalu mengkaitkan dengan adzab Tuhan mereka, Tuhan dari masing-masing agama.

Tak peduli itu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, Zoroaster, atau agama apapun, anda yakin pada agama anda itu sudah cukup. Tuhan itu Maha pengasih dan Maha Penyayang, Maha Lemah Lembut, apa ya Dia tega membinasakan sebagian umatnya yang notabene tak berbeda dengan umatnya yang lain di belahan bumi lain yang tingkahnya sama tapi tak terkena bencana.

Apa anda bisa bilang anda itu berbeda dengan masyarakat di Aceh, Mentawai, Wasior, Merapi, Sidoarjo, dsb di sana sehingga wilayah anda tak terkena bencana seperti mereka?

Apa tak kurang mereka yang rajin beribadah di wilayah yang sedang terkena bancana di sana dibandingkan desa anda atau tempat tinggal anda sekarang sehingga anda tak terkena bencana serupa?

Apa Tuhan begitu teganya kepada mereka? Tidak! Allah tidak seperti itu. Ya Allah, Tuhanku, Tuhan semesta, Aku ini tiada berbeda dengan mereka dan mungkin ada banyak ‘aku-aku’ lainnya di sana yang terkena bencana.

mungkin,ada orang yang mempunyai anak kecil lalu anak kecil itu tewas pada bencana itu,

ada orang yang baru saja menikah lalu terkena bencana itu,

ada orang yang baru saja pulang kerja dan ngopi di rumah lalu bencana tiba-tiba datang,

ada orang yang baru saja bermaksiat, lalu bencana datang begitu saja tanpa permisi, mengganggu kesenangan dunianya,

ada ibu yang sedang hamil diantara mereka,

ada orang yang baru saja shalat, baru saja beribadah, baru saja berdoa pada Tuhan, lalu tiba-tiba bencana datang

ada seorang kakak dan adik yang terjebak banjir, lalu keduanya tewas atau salah satu dari mereka tewas karena menyelamatkan yang lain,

ada ayah yang mendekap anaknya dari terjangan banjir tapi ketika bencana mereda, dia sadar bahwa anaknya telah tiada, mati dalam dekapan,

ada orang yang baru saja makan kenyang lalu tertimpa bencana,

dan sebagainya, dan sebagainya.

Sebegitu teganya kah Tuhan mengingatkan manusia yang lain dengan membinasakan beberapa manusia lainnya melalui bencana itu? Apa ini merupakan peringatan pada kita bahwa kita terlalu banyak berbuat dosa ketimbang berpahala? Atau Tuhan menyuruh kita untuk berfikir dan lebih berfikir?

Lalu aku teringat pada beberapa ayat di Al Qur’an yang bercerita tentang musnahnya kaum-kaum terdahulu, kaum-kaum Nabi Nuh yang durhaka, Fir’aun yang sombong beserta pengikutnya, Qarun yang menimbun hartanya, kaum Nabi Luth yang binasa karena perbuatannya yang menyimpang, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku menggali makna dari setiap kisah padanya, begitulah cara Tuhan bercerita dan mengingatkan umatnya. Tapi pikiranku terlalu dangkal untuk memahami apa yang sebenarnya disekenariokan Tuhan untuk kami, umat manusia di berbagai belahan dunia. Masih saja ada orang kaum yang bermaksiat tapi mereka hidup sejahtera saja, masih saja ada orang yang rajin ibadah tapi sengsara. Kita kan tak tahu apa akhirnya kelak? Apa yang akan terjadi di akhirat kelak, kan?

Tiba-tiba terlintas begitu saja dalam pikiranku, Hubungan ‘vertikal’ tentu saja berbeda dengan hubungan ‘horizontal’. Lalu aku berfikir mengapa ada orang sibuk bicara tentang adzab Tuhannya pada golongan tertentu yang sedang terkena bencana daripada menjadi relawan di sana. Aku yakin jika para relawan yang terjun langsung ke wilayah bencana mendengar akan hal itu, mereka tak setuju.

Kita ambil contoh, jika anda tergerak hatinya untuk menjadi relawan di wilayah bencana di dekat wilayah anda sendiri, anda melihat berbagai macam orang dengan berbagai penderitaannya, orang yang kehilangan sanak saudaranya, mereka hidup diantara orang-orang mati, mereka ‘mati’ tapi tak ‘hidup’, lalu anda mendengar di belahan dunia lain, di wilayah lain, ada orang berkata “ini hukuman Tuhan pada mereka yang terkena bencana, mereka durhaka pada Tuhannya”. Apa anda lantas berpikiran demikian? Lantas meninggalkan mereka yang sedang menderita. Siapa yang akan menolong mereka jika bukan kita, kita sesama umat manusia wajib menolong manusia lainnya yang terkena bencana. menjadi relawan, menjadi donatur, mendoakan, dan sebagainya, adalah bentuk pertolongan. Langsung atau tidak langsung. Tak peduli dengan orang yang sibuk menghujat orang lain atas perbuatan masing-masing.

Anda hidup di bumi ini untuk apa? Silakan anda beribadah pada Tuhan anda, tapi jangan kaitkan mereka yang terkena bencana dengan adzab Tuhan. Mereka manusia, sama seperti kita, ada yang berkeyakinan sama, ada pula yang berbeda. Ketika anda menjumpai orang yang sama-sama menderita, yang satu berkeyakinan sama dengan anda, yang satu berbeda, apa lantas anda akan menolong hanya salah satu dari mereka? Tidak. itu tidak benar. Mendoakan mereka yang berkeyakinan sama dengan anda dan mendoakan mereka yang berbeda dengan anda adalah sama saja. Apa lantas doa itu tak sampai ke telinga Tuhan?

Dalam sebuah riwayat hadist diceritakan Rasulullah SAW pun mengasihi semua manusia baik yang Islam maupun bukan. Beliau mengasihi semua, Nenek-nenek yahudi buta di pasar yang beliau beri makan setiap hari saat zaman kekhalifahan beliau, orang-orang yang mengejek beliau tapi beliau tak membalasnya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Sekarang apa yang akan anda pikirkan dan akan anda perbuat? Anda berpikir semua bencara akhir-akhir ini adalah adzabNya? Saya berpikir ini adalah bencana untuk semua umat manusia, dan ini merupakan rahasia Tuhan yang hanya Dia yang tahu akan makna semua ini. Kita hanya dapat memikirkan apa-apa kemungkinan yang terjadi.

Suatu ketika, anda akan berpikir, “Jika dulu tak begitu, maka aku takkan seperti ini sekarang”.