Ahmadiyah oh Ahmadiyah

by membualsampailemas


Please read it carefully, patiently, word by word,. :)

Setelah sekian lama ‘bungkam’, tergelitik juga saya menulis tentang peristiwa yang akhir-akhir ini ‘hot’, jadi deh itu trending topic di media-media sekelas nasional Indonesia tentang penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah.

Berbagai pendapat orang mengenai golongan ini mewarnai kaca anda setiap hari. Tak ayal pikiran kita pun disetir oleh media yang mengabarkan, ke sini lah, ke situ lah.. terombang ambing gak jelas.

Mari berkaca sejenak. Mereka, Ahmadiyah, adalah golongan yang menurut hemat saya adalah sama seperti manusia-manusia lain, sama seperti anda dan saya yang percaya akan agama dan keyakinan sendiri. Mari kita objektif dan sebisa-bisanya memberi pandangan dan sikap terbaik kita dalam menghadapi masalah ini. Jangan hanya pandang dari satu sisi saja.

Sekedar Intermezzo, mari kita pahamkan bahwa dalam penulisan angka romawi, I + X = IX, benar tidak? tentu saja kebanyakan dari anda berpikir ‘itu salah woy!’, yang benar itu I + X =XI. coba jika bisa anda putar monitor anda atau layar hape anda sebesar 180 drajat. :D , maka tulisan saya yang pertama tentang angka romawi akan menjadi seperti ini –> XI = X + I –> benar. Itu adalah lelucon yang saya dapat dari mas Arman, mentor saya. Intinya adalah suatu masalah, suatu hal, akan berbeda hasil cara pandangnya ketika dilihat dari sudut yang berdeda. Maksudnya, kita harus saling mengerti dan memahami tentang cara pandang orang lain. Saya berusaha seobjektif mungkin dan akan menggunakan beberapa cara pandang. :)

Pertama, ini adalah masalah yang serius di kalangan agama Islam, agama saya pribadi. Insiden penerangan Ahmadiyah sekiranya sudah berlangsung berulang-ulang kali sejak dulu, utamanya lebih marak ketika era setelah reformasi. Herannya lagi, walau pun insiden seperti ini bukan pertama kalinya, tapi para aparat penegak hukum seolah memberikan ruang gerak atas insiden kekerasan ini. Wallohualam. Sejak dulu jika kita mau menelusuri jejak berita di Indonesia, banyak penyerangan sejenis yang terjadi, mulai dari tindak penganiayaan, pembakaran rumah, penyerangan tempat ibadah, bahkan hingga pembunuhan. Tapi lagi dan lagi, aparat penegak hukum yakni polisi seolah membiarkan, bahkan melepas para ‘perusak’ ini. Jika anda mau mengamati, mulai dari pemerintah yang levelnya atas hingga ke bawah, yaitu pelaksananya, ketika isu ini merebak, mereka ramai-ramai mengecam, tapi ketika sudah sirna itu isu, maka seolah kecaman itu hilang bak ditelan bumi dan tak ada tindakan lanjut sehingga masih potensial terjadi kasus serupa di masa mendatang. Tentu saja kita tak ingin kasus seperti ini terjadi lagi, kan iya? apalagi kita berada di Negara yang semboyannta Bhinneka Tungga Ika. Ada apa dengan aparat kita yang seolah melindungi satu pihak saja, bahkan terkesan tak mau melerai dan membiarkan hal ini terjadi?

Kedua, sebagai orang Islam yang yakin pada Allah dan Rasulnya, kita tentu mempunyai sikap defensif terhadap paham yang kiranya menyeleweng dari ‘mainstream’. Sebut sajalah Ahmadiyah ini, yang katanya mempunyai Nabi baru yaitu Mirza Ghulam Ahmad (?). Saya tak akan mengatakan dia adalah nabi baru, karena saya bukan Ahmadiyah, sedangkan anda pun begitu juga kan? Kita sebenarnya tak tahu seluk beluknya, kita bahkan tak tau berita itu benar tidak? Apa iya seperti itu ajarannya? apa iya itu katanya si ada yang bilang konspirasi Inggris, buktinya Ahmadiyah bermarkas di sana? Apa iya itu konspirasi golongan tertentu untuk merusak Islam? Ya ampun. Ya Alloh, saya tak tahu itu, saya cuma katanya orang-orang. Berilah hamba ini petunjukMu.

Sadarlah saudara-saudara. Pernahkan anda berbicara langsung dan mengorek informasi langsung pada sumbernya, atau anda memperoleh seluruh informasi tentang Ahmadiyah ini dari orang yang anti-Ahmadiyah saja atau pro-Ahmadiyah saja? Sehingga kita dalam menghakimi atau berpaham tentang golongan mereka ini seolah kita tahu seluruh seluk beluk keyakinan mereka, lalu kita ada yang ikut-ikutan mengecap mereka ‘sesat!’, ‘kafir!’, padahal kita tak tahu sebenarnya seperti apa mereka. Mungkin beberapa dari anda bertempat tinggal dekat dengan pemukiman mereka?

Atau bagi yang pro-Ahmadiyah, artinya bukan sebagai pengikut mereka, tetapi menolerir mereka selayaknya umat Islam lainnya dan menganggap mereka Islam juga hanya dengan paham yang berbeda. Darimana anda-anda sekalian ini mendapat informasi tentang Ahmadiyah selama ini? dari kaskus? yang notabene kalau ditelaah mentah-mentah malah anda sendiri yang termakan bualan. dari media? dari Twitter? atau dari teman anda? lalu anda jika ditanya ‘dari mana sih kamu tau?’, lalu anda jawab ‘itu di berita’, ‘itu kata temen due’, ‘itu gue baca di kaskus’, ‘itu katanya ustadz ini’,. katanya, katanya, katanya. Ya Allah. ini kah termasuk menggunjing gak ya? Sadar gak si anda-anda ini kalau itu bisa jadi fitnah jika seandainya ada kabar yang tak benar dari ‘katanya’.

Terus gimana donk? Kita tahu agama kita kan juga dari ‘katanya’? kita tahu Hadist kan juga dari ‘katanya’, kita tahu suatu informasi kan juga dari ‘katanya’.

Iya, itu betul, kita itu tergantung dengan ‘katanya’. tapi kan itu bisa dipertanggungjawabkan jika soal bagaimana kita memperoleh agama, yaitu dari orang tua dan ada juga yang dari pengalaman, hadist itu ada sanadnya, al quran itu di seluruh dunia tulisannya sama. tapi kalau berita tentang suatu kelompok tertentu dan anda mendapat beritanya itu dari orang yang anti terhadap kelompok itu / lawannnya, maka otomatis itu akan jadi subjektif. kan iya?

otomatis gak si? gak  ah! ngarang kamu! aku juga masih bisa filter kali..

Sekarang mari kita pandang masalah ini dengan bijak, selayaknya Rasulullah jika menghadapi suatu masalah, kembalikan semuanya pada yang Kuasa, Allah. Kita jangan menuruti apa maunya kita, tapi juga pandanglah dari segi atau sisi orang lain.

Banyak orang, banyak pendapat, banyak masukan, filter lah/ saring lah.

Eh, Ahmadiyah itu sesat lho, mereka menafikkan Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir kita! Terus katanya ada nabi baru, Mirza Ghulam Ahmad itu lho. Kebanyakan orang ‘stuck’ sampai pada statement itu, lalu serta merta percaya (?) tapi saya yakin tak semuanya begitu. Ada juga yang mengumpulkan bukti-bukti yang terpercaya (dari internet? buku?) tentang Ahmadiyah, ada yang anti, ada yang pro, ada yang netral netral aja sih.

Ketiga, kita berandai-andai saja sih,. mari kita andaikan posisi kita ada pada Ahmadiyah, kebetulan kita ditakdirkan lahir dari orang tua dan lingkungan Ahmadiyah (beberapa akan berkata dalam hati, naudzubillah, tapi kita andaikan saja ya). Kita beranjak dewasa, dan melihat hal seperti ini. Ketika anda yakin pada agama anda, sama ketika seperti sekarang anda yakin terhadap ke-islam-an anda yang seperti ini, sementara seandainya anda itu adalah golongan Ahmadiyah yang yakin dan telah terdoktrin sedari kecil. Lalu tiba-tiba anda disuruh berganti sebuah keyakinan saja, itu akan terasa sulit. Maksud?

Jika seandainya anda yang sekarang ini, menjadi golongan yang minoritas, yang ‘out of mainstream’, sementara anda adalah termasuk orang yang taat beragama, lalu tiba2 ada golongan lain yang hendak membubarkan golongan anda. Apa yang akan anda rasakan. Orang-orang tak terima dengan keyakinan anda, mereka memaksa anda untuk kembali ke jalan yang benar yang katanya mengikuti mereka. Kita andaikan saja seperti itu. Tentu itu adalah sebuah pilihan yang sulit. Oke, mungkin anda akan apatis dengan pernyataan seperti ini karena tak mengalami sendiri. Tak apa.

Hanya saja, mari kita bersikap bijak, jika sekiranya anda anti, silakan, sekiranya pro, ya silakan. yang anti pasti sudah menerapkan sikap defense sejak awal, yang pro pun juga. Hanya saja, mari kita memandang suatu masalah dengan sudut yang bermacam-macam, sehingga kita dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bayangkan jika anda adalah dalam posisi mereka, bagaimana itu?

Media massa banyak yang telah membahas ini, tapi mereka pada akhir artikel selalu melimpahkan masalah ini pada pemerintah saja. SKB 3 mentri lah, presiden yang tak tegas lah, Polri yang jor-jor an lah,. Tapi saya mengajak pada teman-teman, untuk lebih berperan aktif, paling tidak berpikirlah apa yang terbaik buat perdamaian. Bukan juga berarti kita harus membiarkan mereka (ahmadiyah), hanya saja, coba bayangkan jika kita memaksa mereka untuk bubar? solusikah itu? tidak samasekali. kita memaksa mereka untuk berkeyakinan seperti kita? juga tak bisa. tak bisa. tak bisa. itu tak semudah teorinya.

Lantas apa? Mari, beropinilah objektif dan berpikirlah positif, mereka sama dengan kita, mereka berkeyakinan dengan keyakinan yang yakinnya seperti kita yakin terhadap agama kita sekarang. Maklumilah mereka, dan jangan mengutuk-ngutuk dengan kata kata kasar, apa lagi atas nama agama. memprovokasi teman lain, atau golongan lain, menyebarkan berita yang katanya-katanya. Kita serahkan pada hukum yang berlaku. Ini kita dalam konteks bernegara, dan beragama. Agama itu masalah yang sensi, disenggol sedikit bisa jadi ‘api’.

lalu, bagaimana denganmu setelah ini? Satu lagi, kita hidup mendambakan sebuah kerukunan. Saya yakin bahwa anda itu tak menginginkan hal semacam kekerasan karena ‘adu keyakinan’ terjadi kembali. Saya yakin kita itu perlu sebuah kedamaian. Tapi bagaimana jalannya? Bagaimana caranya. Caranya adalah saling memahami antar sesama manusia. Saling mengerti dan bersikaplah lemah-lembut. Tidak langsung frontal dan buanglah rasa lebih ‘eksklusif’ dari golongan lain. Saya bukan dalam rangka mempengaruhi, berperang pikiran atau apalah, saya hanya ingin berbagi. Itu saja. Terimakasih yang berkenan membaca. Semoga kita selalu dalam limpahan rahmat Allah SWT.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membela mereka (ahmadiyah) dan juga bukan dimaksudkan untuk membenarkan kita, saya sadar bahwa “bicara itu mudah daripada prakteknya”. Juga tak saya khususkan untuk teman-teman seagama, tapi juga yang berlainan agama. Harap maklum dan mohon koreksi. terimakasih. :)

Setyoko Andra Veda.