Mawar Taman Khayalku 3

by membualsampailemas


Ani belum menelfonku lagi. Jika aku yang menelfonnya, aku yang malu. Malu? aku malu untuk mengungkapkan perasaanku padanya dulu. Malu jika ketahuan. lalu untuk apa nanti bertemu? aku pun masih bingung.

Malam itu tiba, ketika aku mengajak Mai ke bioskop, di Ambarukmo Plasa, Mai mengenakan pakaian yang matching malam ini, tak seperti kemarin waktu nonton bioskop di kota kami. Sejenak aku memandanginya. Ah cuma perasaan.
“ndak usah gitu to ngeliatnya.” celetuk Mai.

“siapa juga yang liatin..” ketusku. “dah, ayo.. nanti telat!”

“lucu ndak si, kita jauh2 ke jogja cuma buat nuruti kamu ke nonton bioskop?”

“lucu bangeeeeet!”

Aku memarkir motorku di parkiran dan mulai masuk ke Amplas. Si Mai terlihat agak canggung dengan pakaiannya malam itu. Mungkin karena banyak orang juga di sini, jadi dia malu mungkin. Dia berjalan dulu di depan, aku mengikutinya di samping kanan belakangnya.

“Mai..” kataku. Dia menoleh. “Tak apa.” aku berkata lagi.

“hissh.. apaan to..” Tampaknya kali ini aku benar-benar terpesona dengan si Mai.
Ketika itu aku terlupa dengan Ani. Kami menghabiskan waktu nonton bioskop sampai sekitar pukul 9 dan sebentar jalan-jalan di dalam Amplas. Film tadi terlalu biasa, apa akunya yang kurang suka film mewek gitu ya? Selama di dalam bioskop kelihatannya Mai lumayan menikmati. Dia suka? wajar lah perempuan. Beberapa kali sempat ku perhatikan wajahnya dalam remang-remang kegelapan, dia duduk di samping kananku, dan terlihat sangat manis. Ah aku terpesona. Tapi kenapa baru akhir-akhir ini aku terpesona? Bukankah sudah sejak dulu aku dekat dengan dia dan tak ada rasa apa-apa.
“Mai laper nih” katanya sambil memegangi perut.

“Trus?” celetukku

“uh, ndak peka banget to”  katanya cemberut

“mau makan?”

“ah, mas kok jutek banget to? ndak ikhlas ya?”

“issyh! siapa juga yang ndak ikhlas. Ikhlas kok, cuma kamunya itu mekso ah”

“yaah, sama aja ndak ikhlas noo, yaudah, langsung pulang aja ah” katanya. tak ada senyum di wajahnya. mungkin ngambek? ah, mungkin hanya ingin menarik perhatian saja. Tapi kalau langsung pulang, kasihan si Mai kalau masih kelaparan. Akhirnya aku tak tega juga.

“yaudah, ayo makan. kamu mau makan apa?”

“ah? mau makan ni jadinya?” mukanya berbinar

“jadi ndak ni?”

“hihihi, ayuk!” senyumnya manis. Aku terpesona??

“aku traktir”

“asyiiikk!” dia tertawa. Aku senang melihatnya gembira seperti ini.
Saat aku jalan berdua bersama Mai, beberapa kali kami lewat toko pernak-pernik. Mai selalu saja menoleh kesana-kemari, seolah seperti belum pernah lihat saja. Aku memperhatikannya. dia memperhatikan sesuatu di balik kaca toko. lama dia memperhatikannya sampai terhenti langkahnya.
“ih, bagus” dia terhenti dari langkahnya, melihat ke balik kaca. Ada bross kupu-kupu mengkilap warna biru. Cantik.

“hmm? mana?” kataku.

“itu, yang biru.” katanya tersenyum sambil memandangi bross itu.

“ohh, kamu pengen?”

“he em..!” dia menoleh padaku. “mau beliin po, mas? hahaha”

“ah, gak punya duit. ayuk makan!”

“tapi baguss”

“iyaa.. udah ayuk..” kutarik tangannya supaya mengikutiku. lalu kudorong dia supaya berjalan didepan. Sepintas aku melihat kembali ke arah bross itu, cantik.

 

****
Sesuatu yang tak kuduga sebelumnya, malam itu aku bertemu dia. Ani. Ya, sempat terlupa beberapa saat karena aku bersama Mai, lalu tiba-tiba Ani muncul di depanku dengan nyata. Dan dia membawa kejutan. Waktu itu setelah makan.
“Eh!” celetuk Ani dari belakang.

Aku menoleh. Ani.. dan Gamal…? Mereka berdua?

“A.. Ani?” kataku.

“lho? kamu di sini?” dia seperti salah tingkah

“iya,” kataku, agak ‘speechless’

“oh..emm.. eh, itu?”

“emm.. ini Mai ”
Kami benar-benar speechless, Aku dan Mai tak dapat berkata apapun, sementara Ani sempat berkata-kata. Ternyata dia ingin aku mengetahui ini sewaktu di telpon dulu. Ternyata Gamal dan Ani. Ternyata aku tertinggal beberapa langkah. Ternyata akhirnya begini. Aku benar-benar tak dapat menggambarkan perasaanku waktu itu. Yang ada di pikiranku sekarang adalah aku cemburu. Sangat cemburu. Sampai aku terbawa emosi dan membuat Mai ketakutan. Kekanakan memang.
Oh ya ampun, aku ternyata belum sepenuhnya dewasa. Malam itu, motor kukebut pulang, aku tak peduli Mai, aku tak peduli semuanya. Aku cemburu.Aku tau Mai pasti ketakutan melihatku dan melihat tingkahku yang aneh seketika selepas pertemuan itu.