Ramayana 4

by membualsampailemas


Kumbakarna dan Gunawan Wibisana, adalah dua tokoh Ramayana yang merupakan adik dari Rahwana. Mereka itu saudara kandung, walaupun begitu tapi memiliki sifat yang berbeda-beda. Ketiganya berwujud Raksasa, jelek, buruk rupa. Tapi jangan salah, Kumbakarna jelek-jelek begitu itu kuat dan sebenarnya baik hati, apalagi Wibisana, dia malah lebih mirip manusia daripada Raksasa.

Ketiganya lahir dari rahim seorang Dewi Kaikesi, istri dari Bgawan Wisrawa. Konon Wisrawa ini adalah Resi paling sakti pada jamannya dulu, dan Kaikesi adalah putri dari Prabu Sumali, maharaja raksasa jaman dulu. Sumali ingin kaikesi henya menikahi Resi terpilih di dunia, yaitu Wisrawa.

“kes, papa pengen kamu itu punya masa depan yang cerah”

“iya pa, Kesi juga pengen.”

“maka dari itu, papa pengen kamu itu menikahi seorang cowok yang baik dan bener, yang budiman, yang unggul, alim pula.”

“terserah papa deh.”

“nikahi tuh Resi Wisrawa, dia sakti mandraguna”

Akhirnya menikahlah mereka. Pada awalnya, saya sendiri juga bingung, Bapaknya seorang Resi, tapi kok anaknya Rahwana? jahat pula. Nah itu ada kisahnya. Konon Resi Wisrawa itu waktu pengantin baru sama Dewi Kaikesi masih ‘semangat-semangatnya’. Tapi Resi Wisrawa sadar bahwa dia itu tak mau bercinta pada waktu-waktu tertentu karena waktu-waktu itu pamali buat melakukan hubungan suami istri. Pamali karena kalau ‘jadi’, anaknya bakal punya sifat buruk dan jahat. Eh, tapi, Dewi Kaikesi maksa.

“mas,” kata dewi Kaikesi perlahan dan lembut.

“apa?”

“udah malem ni mas”

“iya, aku juga udah tahu kok, dik”

“terus?”

“terus ngapain, gitu?”

“hehe, iya.. :3 ngapain ya enaknya mas. Belum ada tivi nih, radio juga belum ada, terus gelap lagi”

“cape deh -,- kamu mau? tapi resikonya itu lho, dik..”

“tapi pengeen.. :3”

“baiklah kalau kamu memaksa.. halah” dan Lheezz!

Akhirnya tak terhindarkan lagi peristiwa ‘mencekam’ itu. Lahirlah Rahwana.

Beda kisahnya dengan Kumbakarna dan Wibisana, mereka mungkin tidak ‘dibuat’ pada waktu terlarang. Tapi rupanya tetep aja jelek. -,-

Kok malah jadi nglentur ke Rahwana. -,-

Kumbakarna punya sifat Ksatriya, dan Wibisana bersifat belas kasih. Kala muda, Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana pernah bertapa memuja Dewa Brahma, tapa tuh mereka sampai lumutan, dan akhirnya Brahma tersentuh juga lalu turun ke dunia untuk menemui mereka. Brahma memberi permohonan pada Rahwana dan Kumbakarna. Rahwana meminta kedigjayaan, tak bisa terkalahkan oleh segala makhluk kahyangan, asura, dan sebagainya, tapi dia tak menyebutkan manusia karena menganggap remeh. Brahma mengabulkan. Kumbakarna meminta Singgasana Btara Indra, tapi konon lidahnya keliru mengucap menjadi ingin Tidur Abadi. Gak tahu apa kosakata Tidur Abadi dengan Singgasana Indra itu dekat pengucapannya atau bagaimana. Brahma mengabulkan, seketika tidurlah si Kumbakarna.

“oke, aku kabulkan permintaanmu, Kumbakarna, kalau melihat api kamu akan tidur. Kalau melihat api kamu akan?”

“tidur” jawab Kumbakarna.

“tarik napas, hembuskan” dan Whuzz! Bleg!

rahwana kasihan pada adiknya itu dan minta agar Kumbakarna dibangunkan lagi, Brahma tak menyanggupi, tapi dia meringankan tidur Kumbakarna untuk tak selamanya. Kelak Kumbakarna bangun saat perang Ramayana dimulai.

Wibisana beda lagi. Dia itu raksasa berhati manusia. Waktu ditanyai apa kemauannya oleh Brahma, apa dia mau kekuatan besar? ooh tidak bisa…!

“Sekarang kamu, Wibisana” kata Brahma

“iya dewa”

“apa yang kamu inginkan,”

“saya tak ingin apa-apa, dewa.”

“ayo dong, kamu udah bertapa, masa tak ingin apa-apa? Saya beri kekuatan saja, ya?”

“oh, t