Mawar Taman Khayalku (4)

by membualsampailemas


“Mas, jangan cepet-cepet to naik motornya” kata Mai lirih dari belekang. Aku diam saja tanpa menghiraukannya. Aku sedang marah, Mai! kenapa kamu di sini!!? Motor ku kebut seketika, melewati mobil-mobil di malam hari. Lampu-lampu jalan berkelebat cepat kebelakang, aku menatap kosong di depanku.

Sesampainya di rumah bulek, motor ku hentikan, Mai segera turun dengan cepat dari motorku tanpa menghiraukan aku lagi. Aku tahu dia pasti habis ketakutan karena memboncengku, tapi malam itu aku biarkan saja dia seolah aku tak peduli. Ani, yang selama ini dekat denganku, tinggal selangkah lagi, tapi tak tahunya jadinya seperti ini. Ani, kenapa kau memberiku harapan semu? atau memang aku yang terlalu berharap? aah!

Aku menatap langit-langit, rasanya masih tak percaya kenapa itu terjadi secepat ini, malam ini pula. Pintuku diketuk.

“Yok? tiyok?”. Suara bulekku memecah lamunanku.

“iya bulek? sebentar!” pintu kubukakan.

“yok, ada apa to? kok larut malem gini pulangnya? itu si Mai kamu apain? kok jadi kusut gitu mukanya? hayo!”

“anu, endak kok bulek, ndak ada apa-apa. Mungkin Mai capek gara-gara tadi muter-muter di dalem Amplaz habis nonton”

“capek kok sampai nangis gitu? jangan-jangan..” selidik bulek dengan penuh curiga.

“issyh, bulek ini, ndak usah berpikiran yang ndak-ndak to. Tadi aku agak emosi aja, trus naik mungkin Mai ketakutan.”

“Takut? ada apa to sebenernya? mbok ya crita, kan ndak enak ini to ada anak orang kok dibuat nangis di rumah bulek, nanti biar bulek bicara sama Mai.” bulekku berbicara makin lirih. Mungkin takut Mai mendengar.

“emm,.. ndak ada apa-apa kok, bulek”

“atau tak bilangin ibukmu??”

“aahh! iya iya! jangan.. jangan bilangin ibu ya, bulek. Nanti aku dimarahin.”

 

lalu aku bercerita, terpaksa bercerita pada bulekku. Soal si Ani lah, soal tadi ngebutlah.. soal jutek lah.. tapi setelah cerita, agaknya aku menjadi lebih tenang dan emosi lagi. Dan waktu itu juga aku tersadar betapa bodohnya dan kekanakannya aku karena bersikap seperti itu pada Mai, dia kan tak tahu apa-apa. Aku sangat menyesal.

 

“ya sudah, nanti bulek ngomong sama Mai.”

“makasih ya, bulek. Jangan bilangin ibu lho ya”

“iya, tapi kamu minta maaf juga sama Mai sana!”

mukaku kecut, aku malu pada Mai. “iya, nanti.”

“kok nanti? sekarang no.”

“bulek dulu deh.. aku malu”

“kamu ini dah besar masih aja kayak gitu” ketus bulekku

“ya, namanya juga malu, bulek”

 

Bulekku berlalu, ke kamar Mai. Aku mengikutinya dari belakang. Agak gak enak juga aku, dia anak orang kok malah ditangisin, padahal kan niatnya mau menghibur dia di Jogja. Dasar aku ini.

Bulek masuk kamar Mai, aku cuma mengintipnya dan melihat Mai dalam remang-remang cahaya lampu. Tak terlihat jelas mukanya.

“yok! sini..” bulekku memanggilku, aku suruh masuk kamar Mai. “dah situ..”

Aku berdiri kaku, canggung, Mai pun sepertinya jadi canggung juga denganku.

“Mai,.. emm.. maaf ya. Tadi aku emosi, sampai kamu dibawa-bawa. Aku khilaf.”

Mai hanya mengangguk tanpa menatapku. Uh, betapa menyesalnya diriku. Aku harus menebusnya, tapi bagaimana?

“Mai, aku tau kamu pasti marah to sama aku, bener-bener aku minta maaf, Mai..” lanjutku.

“sudah, yok.. kamu keluar dulu sana” bulek menyelaku. Aku membalikkan badan dan keluar kamar, sampai di pintu aku masih sempat menengok pada Mai lagi. Gadis cina itu.. Ah, betapa bodohnya aku.

Malam itu pun aku sulit tidur. Memikirkan 2 hal, Ani dan Mai.

 

***

 

“Mai.., cinta itu buta, ah aku pun ragu apanya yang buta dari sebuah cinta. Mai, cinta itu persahabatan yang sejati, saat kau mencintai seseorang dan orang itu mencintaimu juga, itulah persahabatan sejati yang diidam-idamkan manusia. Persahabatan yang akan terus terjalin antara 2 insan manusia beda jenis yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersama sahabatnya itu. Cinta itu bukan sekedar bersenang-senang, Mai, Cinta itu bukan hanya sekedar merasakan masakan istri dan menikmati malam berdua, memiliki anak, membangun keluarga, dan sebagainya. Cinta itu hal terindah yang dapat digapai oleh manusia selama hidupnya, andai saja manusia itu menyadarinya bahwa terlalu indah untuk didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini. Aku tak tahu, Mai, apa aku ini cinta atau tidak, apa aku mencintaimu atau Ani yang selama ini ku perhatikan, tapi ibarat pepatah, Gajah dipelupuk mata tak tampak, Kuman di seberang lautan nampak. Bukannya aku menyamakanmu dengan Gajah, Mai, kau tentu tak sebesar gajah dan tak segemuk itu. haha. Ani, aku sempat dekat dengannya, sangat dekat. Tapi mungkin aku selama ini tak menyadari kedekatan kita, kau dan aku.”

Mai cuma tersenyum-senyum mendengar perkataanku. Dia tersenyum, tapi tetap tak mau menatapku.

“Mai…” celetukku memanggilnya.

“Sudah to, nanti aku malah ketawa jadinya”

Sial, malah jadi candaan begini. Ah, sudahlah, mungkin belum waktunya.

“Hmm, aku bakal bilang ke bapak-ibu kalau kita pacaran”

“Apa??!! Ah, apa-apaan to? aku ini kan masih kecil, belum boleh pacaran!”

“pokoknya aku bilangin, week!” candaku, tapi dalam hati aku serius.