Alokasi Pendidikan 20% APBN Kemana Saja?

by membualsampailemas


Suatu ketika ada beberapa orang yang berbincang-bincang mengenai pendidikan di Indonesia ini dan segala permasalahannya yang tiada habisnya. Permasalahan antara lain adalah tentang anak-anak yang masih banyak bersekolah dan belajar di gubuk, di sekolah tapi reyot yang atapnya bocor, lantainya masih dari tanah sampai ke masalah dosen-dosen yang belum dapat melanjutkan studinya ke S2.

Kita semua tahu, mulai beberapa tahun lalu, pemerintah melalui MK (mahkamah konstitusi) telah memutuskan bahwa 20% dari APBN indonesia per tahunnya adalah alokasi untuk dana pendidikan. Lalu kemana 20% itu? bukankah 20% itu sangat banyak? Jika anggaran tahun ini adalah 1200 Triliun, maka 20% nya adalah 240T. lalu kemana itu 240T?

 

Persoalannya adalh bukan pada kemana, tapi dipakai untuk apa saja. Dua puluh persen dari APBN yang begitu banyak itu dikhususkan untuk dana pendidikan, yang kita tahu, pendidikan di Indonesia itu bermacam-macam jenisnya, mulai dari sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah berbasis agama (Madrasah), Universitas, Sekolah Tinggi, dan sebagainya.

 

“Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/lembaga, alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah, dan alokasi anggaran pendidikan melalui pengeluaran pembiayaan, termasuk gaji pendidik, tetapi tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah.” (UU No 10 th 2010 ttg APBN 2011 pasal 1 ayat 48)

 

Dari undang-undang tersebut jelas, bahwa 20% APBN itu tidak sepenuhnya mengalir ke Kemendiknas tentunya, tapi juga untuk pendidikan di lingkup Kementrian Negara/Lembaga lainnya.

 

Lalu, berapa yang mengalir ke Kemendiknas dari 20% APBN itu? Jawabnya ada pada penjelasan pasal 28 UU No 10 tahun 2010, yaitu hanya Rp55.582.101.011.000,00 (lima puluh lima triliyun lima ratus delapan puluh dua milyar seratus satu juta sebelas ribu rupiah), dengan kata lain ya sekitar 55,5T lebih. Perlu diketahui bahwa anggaran ini menurun dibanding tahun lalu yang besarnya 62,9T lebih.

 

Rincian untuk penjelasan mengenai pasal 28 UU no 10 tahun 2010 sbb:

Anggaran pendidikan sebesar Rp248.978.493.061.200,00 (dua

ratus empat puluh delapan triliun sembilan ratus tujuh puluh

delapan miliar empat ratus sembilan puluh tiga juta enam puluh

satu ribu dua ratus rupiah), terdiri atas:

Anggaran Pendidikan melalui Belanja Pemerintah Pusat 89.744.353.212.000,00

Anggaran pendidikan pada K/L 89.744.353.212.000,00

(1) Kementerian Pendidikan Nasional 55.582.101.011.000,00

(2) Kementerian Agama 27.263.218.531.000,00

(3) Kementerian Negara/Lembaga lainnya 6.899.033.670.000,00

– Kementerian Keuangan 90.935.662.000,00

– Kementerian Pertanian 35.708.205.000,00

– Kementerian Perindustrian 209.641.813.000,00

– Kementerian ESDM 63.637.700.000,00

– Kementerian Perhubungan 1.478.060.511.000,00

– Kementerian Kesehatan 1.924.160.298.000,00

– Kementerian Ke hutanan 95.599.615.000,00

– Kementerian Kelautan dan Perikanan 180.992.000.000,00

– Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 226.998.000.000,00

– Badan Pertanahan Nasional 25.346.488.000,00

– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 18.755.000.000,00

– Badan Tenaga Nuklir Nasional 15.874.778.000,00

– Kementerian Pemuda dan Olahraga 1.372.190.000.000,00

– Kementerian Pertahanan 124.137.600.000,00

– Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 786.996.000.000,00

– Perpustakaan Nasional 100.000.000.000,00

– Kementerian Koperasi dan UKM 150.000.000.000,00

Itu belum termasuk Anggaran Pendidikan melalui Transfer ke Daerah dan Anggaran Pendidikan melalui Pengeluaran Pembiayaan.

Jadi, sekali lagi, kemana itu 20% APBN? Mengapa masih banyak sekolah reyot, dan kualitas pendidikan negeri ini masih tertinggal? Mengapa masih banyak anak-anak yang tidak dapat menikmati pendidikan dasar, apa lagi menengah lalu tinggi? Itu karena tidak semua 200T itu ke Kemendiknas, mungkin. Kementrian/Lembaga lain juga perlu. Misal Kementrian Agama, yaitu untuk membangun sekolah-sekolah seperti madrasah. Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk membiayai pendidikan dan pelatihan atlet-atlet Indonesia, dan sebagainya. Ingat, hanya 55.5T untuk tahun ini yang mengalir ke Kementrian Pendidikan, jadi jangan harap berlebihan bahwa sekolah bisa seperti di jepang sana, atau di amerika sana, selain itu kualitas ekonomi masyarakat untuk kebutuhan pendidikan mereka juga belum merata sepenuhnya, masih ada masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan untuk generasi penerusnya, khususnya untuk masuk ke pendidikan menengah atas (SLTA) yang konon sekarang jika masuk perlu biaya berjuta-juta,apalagi di daerah kota dan SLTA favorit pula. Itu baru tingkat SLTA, belum ke perguruan tinggi/ universitas dan setingkatnya yang kini memerlukan biaya yang tidak kecil per semesternya, belum biaya diluar itu seperti biaya kost dan makan anak didik tersebut yang harus ditanggung orang tua. Betapa beratnya beban menjadi orang tua ya? Maka dari itu, kita sebagai anak didik yang sudah susah payah dihidupi orang tua,harus memaksimalkan potensi diri demi mencapai taraf hidup lebih baik buat keluarga, jangan disia-siakan.