Mawar Taman Khayalku (5)

by membualsampailemas


“Owalah, bukannya sekarang ada jadwal kuliah? malah mas enak-enak an tiduran. Amanat orang tua lho..!”

pekikan suara kecil itu membangunkanku. Ah, mimpi apa aku barusan. eh, ada Mai kini di samping sofa.

“Lho, Mai?” aku kikuk.

“mandi sana!”

“emm,. eh..” aku terbata dalam berkata. Tak tahu dan masih bingung. Mungkin kesadaranku waktu itu belum pulih 100%, antara mimpi dan sudah bangun. “kamu kok di sini?”

“tak bilangin bulekmu lho..”

“eh, iya iya…!”

Betapa membingungkannya pagi itu, dunia serasa telah berubah seratus delapan puluh derajat! Apa-apaan ini, barusan tadi malam aku memikirkan Mai dan Ani, Mai marah, ngembek, eh sekarnag sudah bangunin aku. Terus bagaimana ini urusannya?? Aku bingung. Apa perempuan memang begitu ya, cepat berubah mood nya? hmm..

Aku menulis ini ketika dunia seperti membuka diri kepadaku, mengeluarkan diriku dari dunia di dalam batok kepalaku sendiri. Kulihat bajing naik-turun pohon kelapa di depan rumah bulek, menyeberang dari daun ke daun yang jadi bergoyang dan meneteskan sisa-sisa embun di pagi hari, tadi malam hujankah? ah, mana mungkin. Tetangga-tetangga bulek menyeberangi halaman puri untuk menyingkat jalan. Anak kecil berlari-lari di sekitar ibu yang menggendong adik bayinya. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari, kenapa kini tiba-tiba menjadi indah sekali. Padahal barusan semalam aku… ah sudahlah. (1)

Lantas kusadari betapa cara memandang itulah yang sudah berubah. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang tampaknya memang akan selalu sama dapat saja menjadi lebih dari biasa jika kita memandangnya sebagai sesuatu yang luar biasa. Jadi mengapa aku tak memandang segala sesuatu menjadi luar biasa sahaja? Mengapa aku tidak harus memandang segala sesuatu sebagai istimewa, bukan? (2)

Pesan pendek (SMS) dari Ani masuk tadi malam, sekitar jam 2 pagi dia sms aku. hmm, aku ragu hendak membuka nya. Aku takut isinya akan menyakitkan, dan pasti akan terasa menyakitkan.

‘yok.. :(‘

itu isi sms nya. Ambigu bukan? cuma memanggil seperti itu. Aku tak ingin membalas, tapi aku tetap membalasnya. Taulah bagaimana jika seseorang yang biasa akrab lalu tiba2 ada masalah seperti ini, khususnya aku dan Ani. Aku membalas dengan ragu karena setengah ingin setengah tidak. Tapi aku pun bingung.

“ini sarapannya, yok..” suara bulek mengagetkan ku. “lho kamu kok belum berangkat mandi juga?”

“eh, itu anu..bentar..” gelagapku.

Mai memandangiku dari belakang bulek. dia sedikit tertawa kecil cekikikan. tertawa? hah? aku tak salah lihat?! Mai yang tadi malam itu kemana?? apa aku ini tertidur semalaman saja atau sesungguhnya aku tidur beberapa hari? atau itu semua aku hanya mimpi?

*(1) dan (2) adalah kutipan dari Nagabumi I karya Seno Gumira Ajidarma