Bhisma sang Mbah Paman Pandawa

by membualsampailemas


Mungkin kebanyakan dari kalian kurang tahu para pendahulu Mahabarata atau kakek dari para Pandawa dan Kurawa.
cerita saya mulai dari Prabu Santanu.
Prabu Santanu adalah keturunan Maharaja Kuru di India bagian utara. Beliau adalah kakek buyut para pandawa dan kurawa. Ia sangat tampan dan pintar serta cakap dalam berbagai ilmu. Dia punya kakak-kakak bernama Dewapi dan Bahlika. Keduanya tak mau menjadi Raja, sehingga Santanu lah yang didaulat menjadi Raja.
Suatu hari, ketika Santanu pergi ke sungai Gangga, dia melihat seorang perempuan bernama Dewi Gangga (D. Jahnawi dlm wayang Jawa) yang sangat cantik, dan elok tubuhnya, dia merupkn bidadari yang sedang dikutuk untuk turun ke bumi dan melahirkan ketrunan raja-raja Kuru. Akhirnya Santanu melamarnya, Dewi Jahnawi tersebut menerima dan mengajukan syarat agar kelak jika anak-anaknya lahir maka Santanu tak boleh menghalangi segala perbuatan Dewi Jahnawi terhadap anak-anaknya. Santanu pun sanggup.

Nah, setelah menikah, benar saja, setiap anak-anaknya lahir, Dewi Jahnawi selalu membunuh anak-anaknya tersebut dengan cara ditinggelamkan ke sungai. Santanu awalnya diam, tapi lama-lama tak tahan atas perbuatan istrinya itu. Sampai pada anaknya yang ke-8 sedang dikandung, Santanu mencegah perbuatan istrinya tersebut karena tak berprikemanusiaan. Karena Santanu melanggar janji, maka Dewi Jahnawi menjelaskan bahwa keturunannya dari Santanu adalah hasil reinkarnasi para Wasu (pada Ramayana, Wasu berniat mencuri Lembu sakti gurunya Ramawijaya, sehingga dikutuk). Wasu adalah makhluk sorga. Akhirnya Jahnawi meninggalkan Santanu padahal dia sedang hamil (Hamil anak yang merupakan reinkarnasi dari pemimpin Wasu), menghilang di sungai Gangga. Santanu pun sedih.

Beberapa tahun kemudian, Santanu berjalan-jalan di dekat sungai Gangga, dia kaget melihat seorang pemuda gagah yang sakti dan dapat membendung air Gangga dengan ribuan anak panahnya. Lalu tiba-tiba, dewi Jahnawi muncul dan menjelaskan asal usul anak tersebut yang merupakan anak yang sedang dikandungnya dulu. Santanu sangat senang dengan itu, dia membawa anaknya yang dinamai Dewabrata ke istana, dia sangat sayang padanya dan mencalonkannya sebagai penerus tahta.
Dewabrata adalah reinkarnasi dari 8 Wasu, dia merupakan Paman dari Pandudewanata dan Drestarata.
Suatu hari, Santanu mendengar kabar bahwa di dekat sungai Yamuna terdapat wanita yang sangat harum baunya bernama Dewi Durgandini. Santanu pergi melamar dan langsung jauth cinta pada Durgandini. Ayah Durgandini mengajukan syarat pada Santanu bahwa jika mau menikah dengan anaknya, maka Santanu wajib memperlakukannya sesuai dharma dan keturunannya lah yang kelak harus mewarisi Tahta kerajaan.

Nah, setelah diajukan syarat seperti itu, Santanu pulang dengan kecewa karen tak sanggup bahwa keturunan Durgandini (Gandawati nama lainnya) yang menjadi pewaris tahta. Di istana dia sedih dan jatuh sakit.
Melihat ayahnya menderita, Dewabrata bertanya pada kusir ayahnya dan dia tahu bahwa ayahnya kecewa karena cintanya ditolak. Dewabrata pergi sendiri untuk melamar dewi Durgandini agar mau menikahi ayahnya. Disana, dia menjelaskan bahwa dia adalah putra mahkota, Ayah Durgandini mengajukan syarat yang sama dan Dewabrata sanggup bahwa kelak dirinya tak akan mau menjadi pewaris tahta, bahkan dirinya bersumpah bahwa dia tak akan menikah agar keturunan pewaris tahta hanya dari dewi Durgandini. Sumpahnya bahkan disaksikan oleh para dewa. Sejak itu, Dewabrata dikenal dengan nama BHISMA (artinya: yang sumpahnya kuat). Bhisma memboyong dewi Durgandini untuk menjadi istri ayahnya. Prabu Santanu senang akhirnya lamarannya kesampaian, tapi dia tak tahu bahwa Dewabrata telah bersumpah.
Dari perkawinan tersebut, lahirlah Citranggada dan Wicitrawirya yang merupakan adik tiri Bisma. Prabu Santanu meninggal dunia dan Bisma menunjuk Citranggada yang masih muda untuk menjadi Raja. Tapi ternyata Citranggada hanya beberapa tahun bertahata lalu dia mati muda. Maka ditunjuklah Wicitrawirya menggantikannya. Wicitrawirya juga sakit-sakitan.
Suatu hari, Bisma memboyong 3 orang putri untuk adiknya tersebu bernama Dewi Amba, Ambika dan Ambalika. Tapi yang mau menikahi Wicitrawirya adalah Ambika dan Ambalika saja. Dari pernikahan tersebut, Wicitrawirya keburu meninggal dan tak punya keturunan. Bhisma didesak untuk menikahi para istri adiknya tersebut, tapi dia tak mau karena sudah bersumpah. Akhirnya Bisma mengundang Bgawan Abyasa yang sedang bertapa untuk mengadakan upacara memohon putra. Bgawan Abyasa ini juga merupakan keturunan Raja Kuru dan merupakan Paman dari Santanu dulu, dia berumur sangat panjang. Abysa yang baru pulang dari tapa, masih kotor dan wajahnya seram, ketika Dewi Ambika dipanggil untuk minum air suci di ruang ritual, dia ketakutan sekali sehingga dia minum sambil merem. Kelak pun putranya akan mendrita buta dan bernama Drestarasta.
Pada giliran Dewi Ambalika, dia juga takut ketika masuk ruang karena melihat wajah Bgawan Abysa yang seram. Dia minum air suci tersebut dengan wajah pucat (ada juga yang mengatakan bahwa dia minum tapi memalingkan wajahnya) sehingga kelak anknya terlihat pucat (dalam wayang Jawa anaknya miring lehernya) dan bernama Pandudewanata. Karena hal tersebut, Bisma menyuruh seorang dayang lagi untuk menjalani ritual tersebut, sewaktu dia minum air suci, dia biasa-biasa saja, tapi ketika keluar dia tersandung, maka kelak anknya pincang dan bernama Widura. Bgawan Abyasa menjabat sebagai raja sementara karena Bisma tak mau menjadi raja, sampai Drestarasta, Pandu, dan Widura dewasa.

Bisma/Bhisma adalah tokoh protagonis pada dasarnya, ia adalah paman Pandudewanata, Drestarasta dan Widura, jadi masih termasuk kakeknya para Pandawa dan Kurawa. Pada perang Bratayudha, dia memihak Kurawa.