Mawar Taman Khayalku 6

by membualsampailemas


Beberapa bulan berlalu sejak peristiwa di jogja itu. Kini Mai sudah kuliah di tempatku, sekampus denganku. Peristiwa tentang Ani perlahan kulupakan, rasanya hubunganku dengannya makin renggang, sudah jarang ketemu walaupun sekota, jarang berkomunikasi pula. Tapi Mai kini di dekatku, aku dan Mai kini lebih terasa dekat, banyak teman-temanku yang naksir padanya dan minta dikenalkan, mengingat statusku dan Mai masih belum ada apa-apa. Kejadian malam itu beberapa bulan lalu sudah ku jelaskan padanya, dan dia memakluminya. Kini Mai terlihat makin dewasa dalam berpikir dan bersikap, sifat kekanakannya sudah jarang timbul, tapi masih saja tetap kadang-kadang kekanakan. Sejak malam itu pula sepertinya Mai sedikit berubah meski tak drastis dalam bersikap padaku. Tak tahulah aku. Tempat kostku dan kost Mai agak jauh, itu karena disekitar kostku tak ada kost perempuan. Tapi baguslah, dia jadi lebih mandiri pasti sekarang, memang dasarnya dia mandiri.

“Yok, itu kembang yang kamu bawa ke kampus belum ada yang petik kan?” kata Farid

“kembang?”

“itu si sipit,hehe”

“Mai?”

“he’em, kenalin donk.”

“haissyh! Mau kenalan? sorry ya,gak bakal aku kenalin!”

“pelitnya.. Tapi dia belum punya pacar kan?”

“mau tau aja”

“boleh kan aku pacari dia? haha”

“heh,awas kalau kamu macem-macem lho ke dia..!”

“tapi boleh, kan?” dia tersenyum

Aku terdiam, jika aku jawab tidak, seolah aku ini yang memiliki si Mai, tapi kalau aku jawab iya, aku gak rela Mai sama si Farid. Aku pergi saja.

“Eh, eh..kemana?”

“kuliah!”

“ih,sewot yee..”

Masih banyak temanku yang minta dikenalkan dengan Mai, tapi aku selalu menolak. Mungkin akhirnya mereka kenalan sendiri dengannya. Aku sebenarnya juga tak terlalu sering bersama Mai jika di kampus karena mungkin jadwalnya beda, tapi jika pulang kampung,kami selalu bersama. Kini dia sudah bisa nonton bioskop sepuasnya, tanpa dicekal oleh orang tuanya. Kini hampir setiap waktu aku sms-an dengannya, sudah seperti orang pacaran,hanya tanpa setatus saja. Gantung? Ah,cuma belum saatnya aja.

***

Sampai tiba suatu saat, ketika aku memantapkan diri untuk bicara pada Mai tentang perasaanku. Malam itu aku membeli sebuah coklat dan roti di gejayan, lalu hendak pergi ke kost Mai. Sebelumnya aku sudah memberitahu Mai bahwa akan mengajak dia ke Amplaz. Entah kenapa malam itu aku ingin lewat jalan kolombo.

Sungguh aku takkan tahu jika akhirnya seperti ini, sebenarnya aku tinggal bicara pada Mai, tapi ada sesuatu lagi yang menghalangiku. Malam itu aku hendak ke kost Mai, berniat mengatakan itu, tapi sewaktu aku sampai di jalan kolombo, sesuatu menyerempetku dari belakang. Tak sadarkan diri, semua gelap.

***

“mas?”

“ya?”

“besok kita pulang bareng, ya?”

“sip. santai ae. Aman kok sama aku. hehe”

“tapi bener lho, ndak ngebut lagi.”

“iya..”

“sekarang istirahat dulu,” mai meniggikan selimutku “nanti siang aku kesini lagi bawa maem. itu ibumu sampai sini setengah jam lagi paling, mas. Aku mau ada kuliah.”

“oh, ya sudah, ati-ati ya, jangan kaya aku. hehe”

“hush, ya ndak noo, aku kan pelan-pelan.” katanya tersenyum. “pergi dulu ya, assalamualaikum.”

“waalaikumsalam” aku membalas senyumnya. ah, sekarang malah jadi begini, apa aku beriktikad tak baik sehingga dapet cobaan gini, kesrempet mobil box.

Nanti jika ibuku kemari, pasti aku dimarahi. Siap-siap saja aku. Mai sudah menutup pintu dari luar, kini aku sendiri di kamar rumah sakit.