Dapat Nilai ‘Plus’ dari Dosen

by membualsampailemas


Suatu waktu, aku tertegun oleh teman yang lagi menggunjing. Statusnya ini lagi menggunjing, tapi malah keluar perkataan ‘inspiring’ dari mulutnya. “aku pengen dapet nilai itu karena otakku, bukan karena kenal dengan dosen”.

Tau lah kalau perkataannya begitu itu, berarti yang digunjingkan adalah dosen. Yak, dosen kami yang baik hati. :) Bermula dari dosen yang katanya sih membandingkan antara kelas kami dengan kelas sebelah. Tapi intinya bukan itu, intinya itu perkataannya yang inspiring itu, dapat nilai itu karena otak, bukan karena kenal dengan dosen. Yak, aku akui bahwa kenal dengan dosen atau paling tidak sering “show up” di kelas atau angkat tangan buat sekedar bertanya atau menjawab teka-teki dosen, itu menjadi subuah nilai plus, karena kita akan terkesan akrab dengan dosen daripada yang tidak pernah “show up”.

Tapi, sebuah kalimat itu menyadarkan saya tentang ketidakobjektifan beberapa dosen dalam memberi penilaian. Sebenarnya bukan murni tidak objektif, tapi mungkin karena dosen itu butuh suatu pertimbangan dalam menilai. Kalau mahasiswa yang dikenal dosen itu, paling tidak akan sedikit terbantu ketika dosen mengkoreksi lembar jawaban ujian kita, sedangkan yang tidak ya terserah dosen.

‘oh, ini anak itu yang sering tampil, aku beri nilai bagus aja’, atau

‘oh, ini anak kalau di kelas kayaknya bagus kok di lembar jawab malah mlempem?’, atau

‘ini siapa ya? kayaknya gak pernah tampil tapi jawabannya bagus.’ atau

‘ini siapa ya? gak pernah tampil di kelas juga jawabnya ngawur’ dan sebagainya, dan sebagainya.

Yak, nilai itu memang harusnya objektif, adapun soal ‘show up’ di kelas itu adalah pilihan mahasiswa, bisa buat ajang perkenalan dengan dosen, bisa saja karena mahasiswa memang punya rasa ingin tahu yang besar, bisa karena mahasiswa ingin dikenal pintar atau menunjukkan eksistensi, bisa karena ingin menambah nilai aktivitas (karena itu memang jadi nilai plus) atau alasan lainnya. Tapi kebanyakan sepertinya tak murni hanya sekedar mencari jawaban atas keingintahuan mereka tentang materi, tapi juga ingin menunjukkan eksistensi, bisa dilihat dari pertanyaannya atau pernyataannya yang dinilai teman-teman itu bermutu atau nglantur, alias pura-pura gak tahu padahal sudah tahu.

Terlepas dari itu semua, memang benar apa kata temanku itu, dapat nilai itu ya harusnya karena otak, bukan karena kenal dengan dosen, tapi jika kita tak saling kenal dengan dosen padahal dosen sudah memfasilitasi untuk itu adalah sebuah pilihan untuk ‘show up’ atau tidak. Toh, dengan menunjukkan eksistensi diri selama tidak merugikan orang lain itu sebenarnya tak apa, tapi jika sudah terasa mengganggu dan niatannya itu cuma sekedar pamer, itu namanya juga penyakit hati. Ada beragam alasan mengapa mahasiswa memilih untuk ‘show up’ atau tidak ‘show up’,bisa jadi karena suka tidaknya pada mata kuliah itu, menguasai tidaknya materi, ingin tidaknya diakui eksistensi, atau alasan lain. Itu pilihan hidup.

Jika saya pribadi, itu adalah soal pilihan hidup memang, tapi terkadang diri ini memang punya pertanyaan yang harus terjawab oleh dosen, dan ingin mengklarifikasi pernyataan, itu yang utama. Soal dapat ‘nilai plus’, entah itu nilai aktivitas, atau nilai ‘kenal’, itu perkara imbuhan, rejeki. Jika ada orang lain atau teman kita yang sedang ‘show up’, maka berpikirlah adil dan bijak, bahwa dia itu sedang diliputi perasaan keingintahuan atau rasa ingin meluruskan permasalahan atau menyamakan persepsi yang tinggi, sehingga dia ‘terpaksa’ show up.

Kenal dengan dosen adalah nilai plus, tapi tak kenal dengan dosen pun harusnya bisa jadi motivasi buat kita untuk membuktikan pada dosen bahwa ‘ini lho aku, yang selama ini diam tapi aku bisa!’  Itu saja sih yang ingin disampaikan, tapi memang perkataan itu ‘inspiring’.