Gareng Misuh, Semar Mesem (Gareng Mengumpat, Semar Tersenyum)

by membualsampailemas


Gareng menjadi panitia di acara pemilu Astina, ada dua kandidat katanya, si Duryudana sama si Yudistira. Calon nomor 1 itu si Duryudana, calon nomor 2 itu si Yudistira. Sebelum ada pemilu itu, menjelangnya, terjadi persaingan sengit di ajang kampanye antara dua calon itu. Contohnya, ada itu di twitter yang buat akun ‘kritik’, tapi cuma kritik, jadi kerjaannya cuma kritiikk thok, dikit-dikit dikritik, tapi pernah juga muji. yang di kritik itu apa? ya perpolitikan di Astina sini, yang kotor katanya, yang didominasi oleh para Kurawa itu. Dikit-dikit kalau ada acara, mesti ada bala Kurawanya, mesti ada orang yang itu-itu aja. Wah, bisa jadi ini Astina bakal stagnan, bakal gak maju-maju. Nama akunnya kalau tidak salah itu @astinaleaks, mengungkapkan segala kebobrokan astina, gak ada yang tahu siapa itu adminnya, yang jelas katanya, orang dalam kerajaan aja.

Gareng bingung dengan persiapan pemilu ini, di sisi lain dia harus sekolah sama Petruk, di sisi lain dia harus mempersiapkan segalanya buat pemilu ini. ”

“Wah, publikasinya ini belum selesai. Njlimet! Sementara itu si @astinaleaks terus ngritik kinerja. Apa-apaan coba dia ngritik terus gak ada habisnya, emangnya dia itu kerja, apa? Boro-boro kerja, nunjukin identitas aja enggak. Gila!” celetuk ketusnya si Gareng, ceritanya ini lagi curhat sama si Petruk.

“Sudahlah, Reng. Lagian siapa suruh kamu itu ikut-ikutan jadi panitia pemilu segala, kamu kan jadi ikutan kena masalah to”

“Ya maksudku bukan itu, Truk. Aku itu ikut buat menyemarakkan acara pemilu ini, paling tidak itu aku peduli lah sama negara kita ini, nggak kaya kamu!”

“Lho? kok aku disangkutpautin? salahku apa?”

“Kamu itu apatis, kerjaannya belajar melulu! Aku pulang maghrib terus ke kamar, eh ada kamu lagi bukak buku, lha aku?”

“yo itu kan sudah tugas kita buat belajar, Reng. Amanat orang tua je.”

“Paling tidak kan kamu juga peduli sama negara Astina ini.” Gareng mengucapkan itu sambil berlalu ke dapur, mau buat kopi.

“Lho? aku itu peduli kok. Aku juga ikut jadi peserta acara-acara yang ada di negara ini. Aku ikut upacara bendera tiap senin, aku ikut kemarin itu nonton konser Mocca lho. Kalau nggak ada aku, nggak ada kami para penonton, acara selevel itu bakal gimana coba? Aku buatin kopi sekalian, ya!”

“Ah, kamu itu gak ngerti si, paling tidak kan harusnya kalian itu mengapresiasi kami.”

“Yo bentuk apresiasinya itu kami jadi peserta, Reng.”

Sampai saat pelaksanaan pemilu tiba, si Gareng jaga di TPS. Banyak juga yang menggunakan hak pilihnya, eh tapi tunggu dulu, kayaknya lebih banyak yang lewat TPS tanpa mampir atau menoleh sedikitpun. Gareng pun emosi, tapi dia pendam itu dalam-dalam di dalam hati.

Saat para punakawan kumpul jejagongan di emperan gedung pusat Astina, si Gareng pun mengeluarkan uneg-unegnya. Uneg-uneg tentang keapatisan para warga di Astina ini. Petruk yang sudah tahu masalahnya cuma manggut-manggut, si Bagong malah sibuk mainan hape, entah itu twitteran apa fesbukan. Pak Semar dengan sabar mendengarkan.

“Gong! mbok ya kalau lagi dicurhatin itu memperhatikan to ya, aku tersinggung ini bicara nggak didengerin sama kamu” celetuk Gareng.

“Aku itu sambil gini sambil dengerin kamu to ya.”

“Sudah-sudah, lanjut lagi ceritanya, Reng” kata Pak Semar.

“Ya itu, pak.. ditambah lagi itu ada yang ngritik pelaksanaan pemilu kemarin itu gak megah, gak menarik blas. Publikasinya ngapusi (membohongi)” kata Gareng

Ngapusi gimana?” sahut Bagong, tapi dia masih tertuju pada hapenya, jempolnya yang gedhe-gedhe itu menekan-nekan keypad yang kecil.

“Yo ndak tahu aku. Mereka itu bisanya cuma ngritik aja, ndak tahu apa kita para panitia dah kerja mati-matian buat terselenggaranya pemilu ini.”

“Njuk ini siapa yang menang to?” tanya Pak Semar

“Kayaknya calon nomor 2, Pak Yudhistira alias Puntadewa” sahut Gareng.

“Nah itu, kemarin itu akun @astinaleaks itu juga mendukung si nomor 2 itu buat jadi presiden di Astina ini.” kata Bagong, sekarang pandangannya sudah tertuju ke Gareng.

“oh, jadi dia lagi to? provokator! sok benar!” si Gareng misuh(mengumpat), “itu black campaign“.

Di saat suasana memanas seperti itu, Pak Semar seperti biasa tetap berpikiran dingin, berusaha bersikap bijak dan menengahi para punakawan itu.

“Sudah-sudah. Sebenarnya ini masalah simpel.” kata pak Semar.

“simpel? simpel gimana?” celetuk Gareng.

“Reng, mbok ya kamu santai saja to ya.. Gini, masyarakat to punya hak antara memilih si Duryudana atau si Yudhistira, itu to? Lalu mengenai masalah hak itu, orang yang punya hak kan bebas hendak menggunakan haknya atau tidak menggunakannya sama sekali. Lain halnya dengan kewajiban, kalau kewajiban itu harus dilaksanakan. Kalau kamu diwajibkan buat menghormati presiden, ya itu artinya kamu harus. Tapi jika menghormati presiden itu adalah sebuah hak, maka terserah kamu mau hormat atau tidak. Begitu juga dengan pemilu ini kan. Itu sudah diatur dalam Undang-undang Dasar Astina lho. Jadi sekarang ndak usah mempermasalahkan mengenai orang yang tidak mau menggunakan haknya.”

“Itu juga aku tahu, pak. Tapi, masa ya terus-terusan seperti ini? Masa terus-terusan pada tidak mau menggunakan haknya? Atau haknya baiknya dicabut saja?”

“Ndak gitu juga, nak. Hak itu timbul setelah adanya sebuah kewajiban yang terpenuhi, ndak bisa dihapus begitu saja. Kalau terus-terusan seperti ini, mungkin itu ada faktor-faktor X yang membuat mereka apatis. Contohnya, mereka itu sibuk dengan kerjaannya sendiri, atau mereka males buat memilih karena pilihan itu kan dipertanggungjawabkan lho ke Tuhan, kalau kamu pilih calon presiden, terus calonmu itu jadi, kamu berarti ikut berkontribusi jika dia melakukan kesalahan suatu saat ketika dia menjabat. Kalau masalah itu sudah pikiran sufi itu.. haha”

“lantas?”

“Lantas mereka tak mau memilih. Sekarang coba kita memandang masalah itu dari berbagai sisi, Reng. Jangan memandang masalah itu cuma dari segi pandanganmu saja, jangan dari point of view yang sama. Ibaratnya kalau kita lagi jalan-jalan ke Merapi, kita bisa memandang gunung Merapi itu dari berbagai sisi to, kalau orang Jogja pasti menganggap merapi itu ada di sebelah utara, di Jogja kalau bingung arah ya tinggal lihat di mana Merapi itu, itu pasti utara. Lain halnya kalau orang Magelang bicara, pasti menganggap Merapi ada di sebelah timur, apa lagi orang boyolali menganggap Merapi di barat. Jadi pandanglah sesuatu itu dari berbagai segi, biar kamu paham pandangan orang lain terhadap sesuatu itu, tinggal kita menyinkronkan pandangan kita terhadap sesuatu itu. Orang jogja dan orang magelang menyinkronkan bahwa kesimpulannya merapi itu tinggi, soalnya bisa dilihat dari wilayah mereka masing-masing. haha. Dengan cara seperti itu, kamu itu jadi tidak sewenang-wenang dalam menilai suatu itu.”

“Lha kaitannya sama pemilu ini apa, Pak e?” celetuk Bagong, dia masih pegang hape dan twitteran.

“Apa ya hubungannya? bingung aku. hahaha” Pak Semar ketawa, susunya tersental-sental keatas kebawah karena saking gemuknya beliau itu. Lucu kalau dilihat. “Gini, Reng. dah kamu itu ndak usah misuh-misuh tentang orang-orang yang suka mengkritik, entah itu disertai solusi atau sama sekali gak ada solusi. Mereka itu berhak bicara. Tugasmu itu mendengarkan kritikan itu dan mengkoreksi kinerjamu itu. Kalau sudah sesuai aturan, ya biasa saja, ndak usah kebawa emosi. Jelaskan yang baik-baik kepada mereka tentang sistem internal, orang mengkritik itu kan karena mereka itu memandang ada cela di dalam suatu pelaksanaan. Mungkin yang menurut kamu sudah benar, belum tentu sudah benar di mata dia, kan iya to? Jelaskan secara baik-baik, pahami ketidaktahuan mereka. Kalau ada statement yang agak menyakitkan, anggap saja itu pelajaran dari Universitas Kehidupan ini, nak. Di Universitas Kehidupan itu, IP tidaklah penting, yang penting itu prosesnya, proses kamu melakukan segalanya.”

“Itu, Reng! kemarin itu aku mau bicara begitu, tapi sulit ngomongnya”, kata Petruk. Kali ini dia mencoba angkat bicara. “Kamu kan termasuk orang yang penting di Astina ini, jadi kamu itu harus lebih bisa memahami kebanyakan rakyat, jangan maunya mereka yang memahamimu thok. Intinya itu saling memahami.”

“Trus, gimana kalau kita sudah memahami mereka, eh tapi mereka tidak mau paham juga ke kita?” Gareng mencoba bersikap.

“Nah, itu masalah belakangan sebenarnya, tapi itu juga simpel, nak. Kita itu tidak bisa menuntut orang lain untuk memahami kita, tapi kita bisa menuntut diri sendiri untuk dapat memahami. Sekarang lebih penting mana antara kamu mau memahami orang lain atau kamu dipahami tanpa memahami orang lain?”

“Bahasanya njlimet(membingungkan)!!” Bagong menyela. Eh, ternyata dia itu sudah memperhatikan. Ki Semar cuma tersenyum melihat anaknya itu, yang lahir dari bayangannya sendiri.

“Semua itu sebenarnya adalah terserah kalian, anak-anakku. Hidup itu pilihan. Kalian itu hendak memilih jalan yang mulia, setengah mulia, biasa saja, jelek, super jelek, itu terserah kalian. Kembali ke masalah hak. Tapi tetep harus ingat, GustiAlloh mboten sare (Tuhan itu tidak tidur), Dia itu selalu mengawasi kita, mengawasi pikiran kita yang belum kita ungkapkan, bahkan.” Pak Semar tersenyum, dia sudah tahu bahwa anak-anaknya pasti memahami perkataannya ini.

Tak terasa hari sudah sore, Resi Dorna lewat depan gedung pusat Astina sambil ngasah keris. Sengkuni lagi makan di warung pecel dekat gedung pusat bersama Dursasana, adiknya Duryudana. Sementara itu di dalam gedung pusat, Pandawa lagi merayakan kemenangannya, Ternyata ada Duryudana juga di sana yang juga ikut merayakan dan ikut menyelamati Yudhistira karena terpilih menjadi Presiden Astina.

 

 

Terinspirasi Mbah Sudjiwotedjo, maturnuwun sanget.

Banten, 25 Mei 2011. Setyoko Andra Veda.