Membayangkan Masa Depan

by membualsampailemas


Salah tidak si kalau kita mengandaikan masa depan? Masa depan kan belum tentu dan belum pasti, jadi sah-sah saja donk jika diandaikan. Lain halnya dengan masa lalu, yang sudah terjadi ya biarlah terjadi, diandaikan pun akan tetap sama, diandaikan pun takkan merubah takdir, karena semua yang telah lalu itu menjadi pasti dan sudah benar-benar terjadi. Tapi masa depan? Siapa yang tahu masa depan? Siapa yang tahu kalau kelak aku mendapat istri dia, dia atau bahkan dia, siapa juga yang tahu kalau aku akan jadi orang miskin, atau orang kaya? Siapa yang tahu?

Suatu waktu ketika lihat Beranda di Facebook, aku berpikir, bagaimana kelak facebook ini di masa depan? Di masa depan di mana aku sudah mempunyai anak dan istri, di mana aku sudah berkeluarga, di mana teman-teman facebook ku sudah bukan kebanyakan remaja. Bagaimana?

Bagaimana kelak jika ada anak-anak dari anak kita tahu dan membuka facebook orang tuanya, iseng mencari-cari di internet tentang riwayat orang tuanya, lalu mendapatkan foto-foto facebook orang tuanya, lalu bingung. Bingung, kenapa ada foto ayahnya berdua bukan bersama ibunya sekarang, kenapa ada foto ibunya tampil mesra dengan orang yang tiada dia kenal, kenapa ada foto orang memanyunkan bibir, memamerkan kemesraan, berfoto bersama-sama orang banyak, bersenang-senang di pantai, bersenang-senang memakai baju pesta, dan sebagainya?

Pernah tidak to terbayang ketika kelak anak-anak kita membuat facebook lalu mengirimkan permintaan pertemanan ke facebook kita? Atau membuat twitter lalu follow akun twitter bapaknya, atau ibunya sendiri.

Ini kan pengandaian, cuma sekedar angan-angan yang belum tentu terjadi, tapi bisa saja terjadi. Bisa saja tidak terjadi karena mungkin suatu saaf facebook sudah tak sepopuler sekarang, mungkin sudah ditutup, atau kita sudah meninggalkannya layaknya friendster, atau twitter bisa saja tenggelam karena sudah tidak ngetrend lagi. Mungkin ada jejaring sosial yang lebih baru, atau mungkin dunia sudah tiada internet karena terjadi perang nuklir, dan sebagainya.

Bisa saja terjadi jika facebook atau twitter bakal langgeng sampai kita tua, dan terus menyimpan berbagai kenangan indah waktu muda, foto-foto, catatan, yang pernah kita unggah atau kita buat, lalu anak kita melihat masa lalu kita, orang dari masa lalu yang tiada dia tahu. Cemburu pasti dia, lalu bertanya pada bapak atau ibunya, “Pa, Papa foto sama siapa? Kok bukan sama Mama?”, atau “Ma, itu foto sama siapa? Kok bukan sama Papa?”

“Bajigur! Bocah cilik wis takon-takon ngene, asem!” (Sialan! Anak kecil sudah tanya-tanya begini, asem!)