Berkeadilan

by membualsampailemas


Suatu ketika di perjalanan pulang setelah belajar bersama, tibalah senja melintasi hari dengan anggunnya. Dengan segala pesonanya, senja sore mengungkapkan betapa di dunia ini kehidupan tak pernah berhenti padanya, bahkan bisa berawal dari sebuah senja sore.

“Kak mau gorengannya nggak, kak?”. Suara anak kecil menghampiriku yang sedang berjalan menyusuri suasana senja. Ku pandangi matanya sekilas, terlihat dia seperti keletihan setelah seharian menawarkan gorengan yang entah apa rasanya, kepada orang-orang yang lewat dan aku tiada tahu apakah sudah ada yang sudi membelinya atau tidak.

“Enggak, dik, makasih”. Tersenyum aku padanya, tersenyum miris, antara menolak tidak enak, tapi membeli pun aku tak mau. Raut kecewa pasti tergurat di wajahnya kala itu, tapi aku mengacuhkannya dan meneruskan jalanku menyusuri senja sore. Dari matanya pasti tampak punggungku yang tergantung tas hitam. Pasti dia terbiasa teracuhkan oleh orang-orang, atau memang terbiasa ditolak tawarannya. Anak kecil yang seharusnya dalam senja sore seperti ini mandi, berganti pakaian, dan bersiap belajar atau bercengkrama dengan keluarganya di rumah, malah harus menjajakan dagangan yang entah itu akan ia bawa pulang kembali atau akan ia bawa pulang terganti dengan uang.

Betapa Tuhan membuat dunia ini sungguh berwarna, terdapat berjuta-juta kehidupan yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Berwarnanya kehidupan ini bukanlah selalu warna yang terang, melainkan warna gelap pun ada, tersedia bagi siapa saja yang ditakdirkan memasukinya dan memang hendak memasukinya. Tuhan bukan tiada alasan membuat seluruh warna dalam kehidupan ini yang mempunyai arti tersendiri bagi manusia yang menyadarinya, betapa memang rejeki, jodoh dan mati memang benar-benar menjadi sebuah misteri.

Suatu ketika, aku ditanyai seseorang mengenai ‘Adilkah Tuhan?’. Lantas aku menjawab ‘itu tergantung bagaimana kamu memandang’. Pertanyaan yang sulit sebenarnya, bahwa Tuhan itu adalah Maha Adil, tapi mengapa ada saja orang yang nasibnya mengenaskan, dia tidak minta dilahirkan ke dunia, apalagi meminta nasib tragis seperti yang dialaminya, tapi mengapa hal itu terjadi? Sedangkan aku sedang duduk di depan komputer sambil menikmati segelas kopi?

Mari kita serahkan perkara itu pada jiwa murni kita, semurni-murninya jiwa yang pernah kita miliki, dan sebaik-baiknya jiwa yang ada pada hati sanubari, tanpa dicampuri rasa menghakimi, apalagi pada Tuhan. Sebenarnya perkara ini merupakan rahasia Tuhan, rahasia yang sulit untuk dimengerti perkaranya oleh manusia. Aku pun belum tentu lebih mengerti tentang hal ini dari pada yang membaca.

Karena sejak aku tiba di dunia, aku lahir dari keluarga Islam, maka kukutipkan ayat berikut, Al Baqarah:29-30

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(29)”

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(30)”

Yang pertama harus kita pahami, bahwa manusia itu tak tau menahu tentang alasan mengapa mereka diciptakan, bahkan Malaikat pun tak tahu, itu urusan Tuhan. Yang kedua, bahwa Tuhan menciptakan kita itu begitu banyak rupa dan macamnya, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, perbedaan fisik memang kentara, tapi yang dilihat oleh Tuhan dari manusia adalah tingkat ketaqwaannya/kesalehannya.

Apapun, agama manapun mengajarkan nilai-nilai universal, nilai-nilai yang mana setiap manusia menyetujuinya dengan nurani, bahwa membunuh sesama adalah salah, bahwa mencuri adalah tercela, bahwa merampas hak orang lain adalah buruk. Bahwa berderma/bersedekah itu baik, bahwa bersikap santun adalah terpuji, bahwa mengajar dan mengajak pada kebaikan adalah baik. Lantas, apa hubungannya dengan ‘keadilan Tuhan’ tadi?

Jika dalam agamaku, bahwa berzakat/berderma/menyisihkan beberapa bagian harta yang kita dapatkan untuk orang-orang yang membutuhkan adalah baik dan dianjurkan, bahkan diwajibkan! Hampir setiap ayat di Kitab Suciku, Al Qur’an, mengenai perintah untuk mendirikan shalat (sembahyang), selalu diikuti dengan menunaikan zakat. Tuhan menciptakan peraturan yang adil, yang kuat membantu yang lemah, istilahnya jika di sekolah-sekolah itu adalah ‘subsidi silang’, maka di Universitas Kehidupan ini subsidi silangnya adalah berupa zakat, berderma, membagikan kebahagiaan dengan orang lain. Masalahnya sekarang adalah pada pemahaman dari masing-masing diri, siapapun, dari agama manapun.

Aku hanya ingin membagikan sedikit kebahagiaan pada setiap orang di sisiku, di sekitarku, dan membagikan pemahaman bahwa Tuhan itu Maha Adil dan tentusaja berkeadilan, tinggal bagaimana kita menyikapi bahwa adil itu bukan berarti sama rata, tapi sesuai dengan porsinya.