Asoka

by membualsampailemas


Baru kemarin pagi aku download film Asoka, film lama yang menceritakan tentang Raja Asoka yang dibintangi Shahrukh Khan dan Kareena Kapoor sebagai Kauwarki.

Asoka adalah cucu dari Maharaja Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Belakangan ini aku sedang menamatkan Novel Nagabumi II karya Seno Gumira Ajidarma, di dalamnya banyak sekali diungkit mengenai kitab Arthasastra karangan Kautilya yang ternyata adalah penasehat Maharaja Chandragupta pada masa itu, abad III sebelum masehi, sedangkan Novel Nagabumi yang ku baca ini berlatar abad ke XII-XIII masehi. Secara tidak langsung ada kaitannya, karena betapa pengaruh Jambhudvipa (India) begitu melekatnya sampai ke tanah Javadvipa (Pulau Jawa), sampai kitab Arthasastra digunakan oleh para raja-raja jawa kala itu.

Aku mengagumi betapa Jambhudvipa dan Javadvipa memiliki hubungan dekat sejak jaman dahulu kala, tak heran jika agama Hindu dan Buddha adalah agama yang pertama-tama masuk ke tanah Jawa. Adapun sumber hukum dan sumber ajaran filsafat Jawa banyak yang mengadopsi filsafat dari India.

Kembali ke Asoka, yang kutonton pagi kemarin, mengisahkan perjalanan seorang Pangeran Asoka yang bukan Putra Mahkota tapi ditakdirkan menjadi Maharaja yang begitu besar. Putra Mahkota kala itu adalah saudara beda ibu yaitu Pangeran Sushima. Karena berbagai konflik dan konspirasi yang terjadi di dalam istana, Asoka dipaksa keluar dari istana untuk mengembara menjadi rakyat biasa oleh ibunya, agar terhindar dari masalah. Dengan terpaksa, Asoka menuruti kemauan ibundanya.

Dalam perjalanan, dia bertemu bikhu Buddha yang meramalkan bahwa Asoka adalah bukan seorang pengembara biasa, dia akan menjadi orang yang besar suatu saat nanti. Kala itu di India, agama Buddha merupakan agama yang baru karena Hindu telah ada sejak lama. Kekaisaran Maurya sendiri adalah kekaisaran yang bernafaskan Hindu kala itu. Dalam perjalanan juga dia bertemu dengan Putri Kauwarki dan adiknya yaitu Pangeran Arya yang masih kecil, mereka adalah pelarian dari kerajaan Kalinga yang sedang dilanda konspirasi oleh Mahamentrinya sendiri (Perdana Mentri). Kauwarki dan Arya dikawal oleh pelayan setia keluarga kerajaan, yaitu Bheema. Ketika berkenalan dengan Kauwarki, Asoka tidak membeberkan identitasnya sebagai pangeran, tapi mengaku sebagai prajurit perang kerajaan Magandha yang bernama Pavan (artinya angin). Berbagai kejadian romantis terjadi antara Asoka dan Kauwarki, sampai suatu saat keduanya menikah.

Baru beberapa saat menikah, Asoka dikabari bahwa ibunya sakit dan memintanya untuk kembali ke istana. Dengan berat hati Asoka meminta izin pada Kauwarki untuk menengok ibunya yang sedang sakit. Ternyata begitu sampai di istana, ibunya sehat wal afiat, hanya karena dia ingin bertemu dengan putranya, maka berpura-pura sakit. Asoka menceritakan tentang perempuan yang disukainya dan mengaku sudah menikah dengannya pada ibunya. Ketika menghadap ayahnya, yaitu Maharaja Bindusara, Asoka malah diperintah untuk maju ke medan perang di Ujjayani. Asoka adalah seorang pangeran yang mahir berperang daripada saudaranya yaitu Pangeran Sushima. Dengan berat hati Asoka menuruti permintaan ayahnya tersebut. Tapi sebelum berperang, diam-diam dia pergi untuk menemui Kaurwaki yang ingin dibawanya ke istana.

Putri Kaurwaki dan Pangeran Arya adalah buronan di Kerajaan Kalinga, yaitu terkait kospirasi Mahamentri sendiri yang ingin berkhianat. Mereka diburu dan siapapun yang dapat membunuhnya akan mendapatkan emas. Kala di sebuah pedesaan selagi bersembunyi, ternyata pasukan bayaran Mahamentri berhasil menemukan persembunyiannya akibat Bheema tertipu. Ada seorang perempuan karena kesetiaannya pada keluarga raja, mengaku sebagai Kaurwaki dan adiknya sebagai Arya, maka dibunuhlah mereka. Kabar bahwa Putri kaurwaki dan Pangeran Arya terbunuh tersebar.

Asoka ketika kembali ke tempat persembunyian Kaurwaki heran karena tidak dapat menemukannya. Dia menanyai Bheema dan mendapat kabar memilukan bahwa Kaurwaki sudah tewas. Bheema sebenarnya berbohong pada Asoka karena takut persembunyiannya akan terbongkar, waktu itu juga dia kurang suka pada Pavan (nama samaran Asoka) dan dia belum tahu bahwa Asoka adalah pangeran. Asoka yang mendengar kabar sedih itu lalu bersedih hati, dia sangat kehilangan orang yang begitu dicintainya.

Saat kembali ke medan perang di Ujjayani, Asoka meluapkan kemarahan atas meninggalnya Kaurwaki dengan membantai habis-habisan pasukan lawan. Tapi dia juga tak luput dari serangan pengkhianat yang dikirimkan Pangeran Sushima dalam medan perang, dan terlukalah dia.

Ketika kembali ke istana dengan kemenangan, Asoka terlihat begitu sedihnya karena kehilangan Kaurwaki. Sementara itu terdapat seorang dayang yang selalu setia melayani dan mengobati Asoka bernama Devi. Devi sebenarnya sudah dipinang, tapi karena suatu ketika dia membunuh seorang yang hendak mencelakai Pangeran Asoka, maka lelaki yang meminangnya itu tidak mau padanya. Perempuan yang pernah membunuh kala itu adalah perempuan yang dipastikan tiada yang mau meminangnya lagi. Asoka yang merasa bersalah lalu memutuskan untuk menikahi Devi. Devi sadar betapa Asoka tidak memberikan cintanya secara penuh pada Devi dan menyadari bahwa Kaurwaki tiada tergantikan di hati sang Pangeran, tapi dia tetap tabah dan tulus melayani Asoka.

Kaurwaki sendiri yang sebenarnya masih hidup dalam pelarian berusaha mencari Pavan (Asoka) dalam pasukan Magandha, tetapi tiada kunjung menemuinya, sehingga akhirnya dia pun hampir putus asa dan menganggap Pavan telah gugur dalam peperangan.

Suatu ketika, terjadilah konspirasi pembunuhan ibunda Asoka yang dilakukan saudara-saudaranya berbeda ibu, Pangeran Sushima di balik semuanya. Asoka yang belum pulih deritanya karena ditinggal Kauwarki, kini harus ditinggal ibundanya, menjadi kalap dan berlaku diluar kendali, dia membunuh saudara-saudaranya dan merebut tahta kerajaan Magandha. Setelahnya, Asoka menjadi jahat karena bertekad menjadi Maharaja melebihi kakeknya, Chandragupta. Asoka dengan amarahnya melakukan perluasan wilayah dengan invasi-invasi militernya. Bagaimanapun, perang adalah sebuah kejahatan, perang adalah kegagalan manusia dalam menjaga perdamaian, perang adalah kekalahan manusia untuk menghadapi perselisihan, perang adalah mengorbankan orang-orang banyak demi kepentingan penguasa, perang adalah kekhilafan manusia yang disengaja, pembunuhan terencana, penjarahan, pemerkosaan, perbudakan, dan sebagainya yang jelek-jelek.

Saudara Asoka yang bernama Sugatra yang memihak Pangeran Sushima ternyata masih hidup dan meminta suaka perlindungan kepada Kerajaan Kalinga, tampat Arya dan Kauwarki. Kalinga yang mendengar berita bahwa Asoka membunuh saudara-saudaranya demi tahta menjadi hilang simpati pada Magandha. Maharaja Asoka yang memerintah Magandha marah mendengar Kalinga memutuskan hubungan dan tak mau menyerahkan Sugatra. Dia menyerang Kalinga dengan segenap balatentaranya, sahabat Asoka yang bernama Vitra menentang penyerangan itu dan menantang Asoka untuk duel jika masih menganggapnya sahabat. Konflik demi konflik menyerang Asoka, tapi dia menghadapinya dengan amanah dan nafsu penjajahan. sampai suatu ketika Sugatra berhasil dibunuh. Bheema suatu ketika pun tahu bahwa Asoka adalah Pavan yang dicari-cari Kauwarki, tapi Bheema keburu tewas sebelum mengabarkannya pada Kauwarki.

Putri Kauwarki adalah seorang ksatriya putri Kalinga, dia belajar ilmu pedang dari Asoka ketika Asoka menyamar sebagai Pavan. Jika dalam film, disebutlah dia ‘Shatryani’. Kauwarki dan para rakyatnya yang merasa tertindas bertekad memerangi Magandha, tanpa tahu bahwa Asoka adalah Pavan. Perang besar dimulai lagi, antara Magandha dan Kalinga, yang melibatkan banyak rakyat tidak berdosa yang membela tanah airnya dari penjajahan. Lagi-lagi, perang adalah suatu kegagalan manusia untuk mencapai mufakat, yang hanya akan menimbulkan penderitaan dan air mata para janda yang ditinggal suaminya. Saat perang besar tersebut, pasukan Kalinga sempat menang, tapi ketika pasukan tambahan Asoka datang, maka keadaan berbalik. Kauwarki di tengah peperangan melihat sosok Pavan, dan ternyata dia sadar bahwa Pavan adalah Maharaja Asoka. Di tengah peperangan, karena kelengahan itu, Kauwarki terkena serangan dan pingsan, tanpa diketahui Asoka. Singkat cerita, peperangan itu dimenangi oleh Magandha.

Vitasoka, adik kandung Asoka memutuskan untuk menjadi bikhu, dia mengatakan pada kakaknya “selamat kau telah memenangkan peperangan, tapi yang kau menangkan hanyalah kekayaan, tanah, dan kekuasaan. Ditambah tangis janda-janda yang kehilangan suaminya, serta air mata para bocah yang ditinggal ayahnya. Tanganmu bersimbah darah mereka. Selamat karena istrimu, Devi, baru saja melahirkan anakmu, Mahedra dan Sanghamitra.”. Asoka tertegun dan agak marah disindir oleh adiknya itu, maka dia berlawat ke bekas medan peperangan. Dari serdadunya, dia mendengar bahwa Kauwarki masih hidup, lalu dia mencarinya diantara mayat-mayat yang bergelimpangan, kepala, tangan, kaki yang lepas dari tubuhnya, darah yang menggenang, senjata-senjata yang menancap, menjadi pemandangan mengerikan. Para janda yang ditinggal suaminya menangis, serta anak-anaknya. Asoka merenungi perbuatannya dan tersadar bahwa dia telah berbuat durjana selama ini, lalu berkata dengan kalimat yang terkenal hingga sekarang “Apa yang telah kuperbuat?!”.

Sampai akhirnya dia menjumpai Arya yang memegang pedang, bocah cilik yang sudah menjadi raja Kalinga itu tewas karena anak panah. Asoka sangat menyesali perbuatannya.

Setelah mengalami kejadian itu, Asoka bertobat dan memeluk agama Buddha seperti istrinya, Devi. Dia menyebarkan agama Buddha ke seluruh penjuru dunia, tanpa paksaan, karena agama Buddha mengajarkan toleransi yang tinggi antar umat beragama. Sampai masa kejayaannya menyebarkan agama Buddha, dia juga merupakan filsuf, dan pandangan-pandangannya mengenai kehidupan sungguh mengagumkan. Dia menyejahterakan kerajaannya, tertulis dalam seluruh prasasti yang menandakan keberadaannya kala itu, bahwa Asoka kini menjadi Dharmasoka (Asoka yang saleh).

Demikianlah kisah seorang durjana yang mendapatkan hidayah. Dari Candasoka, menjadi Dharmasoka. Kebesarannya hingga saat ini masih terasa di India, lambang kerajaannya ditaruh dalam bendera India, lambang 3 singa pun menjadi lambang negara India saat ini.

Tak heran dengan kisah-kisah Maharaja hebat dari Jambhudvipa, menurunkan banyak budaya yang tersebar ke penjuru asia selatan, tenggara dan timur. Khususnya adalah Javadvipa karena saat itu adalah kerabat baik Jambhudvipa.