Maaf (5), Pak Semar Berkata Sesuatu

by membualsampailemas


Duka terasa ketika hari itu tiba, karena tiada dapat melihatmu, mendengarmu, hanya membacamu. Duka terasa ketika hari itu tiba karena tahu bahwa kamu telah terlalu jauh dari jangkauanku, terlalu mahal untukku, terlalu berharga buat termiliki. Duka terasa ketika hari itu tiba karena hari itu adalah beda.

Aku berjalan menyusuri mimpi berharap bertemu denganmu di sana, aku berjalan melalui lorong-lorong sempit, tiba-tiba aku berada di gunung tinggi, aku terjun dari ketinggian dan jatuh di pasar, banyak orang tapi tiada kamu, hingga aku bangun pun tiada kamu.

Maaf telah membingungkan, itu semua karena keegoisanku sendiri, Awina, terlalu memaksamu dulu dan terlalu, seperti kata Rhoma Irama, TERLALU.

Betapa kehidupan ini berjalan begitu cepatnya, setahun sudah terasa singkat, seolah baru saja kemarin aku bertemu denganmu dan aku menaruh rasa padamu, sekarang terlalu jauh jangkauanku padamu.

Awina, aku menemui Pak Semar untuk meminta pertimbangan akan sikapku padamu sekarang. Seperti biasa, ketika aku bertemu dengannya dia tersenyum menyambutku dengan senyumnya yang khas itu, mata sayu, rambut kuncung, berpayudara tapi laki-laki, bersarung, mukanya terlalu tua untuk hidup, tapi dia sangat bijak dalam membari nasihat padaku. Di sana juga aku bertemu dengan punakawan lainnya, ada Gareng, Petruk, dan Bagong, mereka waktu itu sedang di halaman belakang untuk mananam jagung karena musim memasuki kemarau.

“Pak Semar..” kataku.

“Iya, Anak.. Apa yang membawamu kemari?” Dia menjawab begitu tenangnya, sambil duduk di teras rumah kayu jawa dan mengipas-ngipas

“Anak hanya ingin bersilaturahmi dan mengungkapkan unek-unek saja. Curhat lah ceritanya, Bapak.”

“Dikira Bapak ini tempat pelampiasan perasaanmu, apa? Hahaha” Tertawanya lucu, susunya mental-mental

“Kalau tiada berkenan, Anak tidak akan berkeluh kesah pada Bapak Semar.” Aku tertunduk kala itu.

“Bapak cuma bercanda, Anak. Silakan cerita, pasti masalah cinta, kan?”

“Iya, Bapak. Anak merasakan cinta yang terlalu dalam sehingga terlalu sulit bagi anak untuk lepas.”

“Asal cintamu itu tulus, tiada masalah, Anak. Lagipula mengapa ingin lepas dari cinta itu?” Beliau menguap seperti kelelahan di usianya yang senja.

“Anak merasa cinta ini tiada benar, Bapak. Tiada benar karena anak telah mengulur waktu dan berbuat kesalahan pada orang yang anak cintai, Awina namanya.”

“Kesalahan apa?” tanyaku penasaran.

Senja meliuk menimbulkan siluet pohon-pohon di barat rumah Pak Semar, Awina. Aku sedang bercerita tentangmu pada Pak Semar, segala permasalahanku denganmu dan hingga sekarang ini, jarak dan keadaan memisahkan kita. Sebenarnya aku ingin sekali kita kembali seperti dahulu kala, di saat darah muda ini merasa cinta membara yang terpelihara, di saat engkau sudi melihat mataku, di saat aku tiada canggung melihat matamu, di saat kita bercerita bersama mengisi kehidupan remaja. Tapi kita masihkah remaja, Awina?

“Anak,.” Pak Semar menepuk pundakku.

“Iya, Bapak.”

“Citamu itu peliharalah sahaja, hingga saat itu tiba.”

“Saat itu kapan, Bapak? Dan apa itu?”

“Saat dimana kamu menemukan lain hati yang seperti dia. Karena untuk mengobati cinta lama adalah dengan jatuh cinta kembali, Anak. Tapi, jika kamu tiada dapat menemukan lain hati, berdoalah pada Tuhanmu, pada Allahmu, dekatkanlah kembali engkau dengan dirinya secara baik-baik jika memang berjodoh, dan jika bukan jodoh maka mintalah agar engkau dijauhkan secara baik-baik pula dengannya. Bapak tahu betapa Anak mencintainya, tapi Anak tiada perlu menyiksa diri hingga seperti ini, Awina telah ada yang menjaga dan semoga dia aman dalam penjagaannya. Mengalami cinta adalah merelakan dia aman meski engkau tiada bersamanya.”

“Anak mengerti, Bapak. Tapi apakah kiranya anak suatu saat dapat menemukan jodoh, Bapak?”

“Tentu, Hidup-Mati, Jodoh dan Rejeki, Semua telah diatur dan itu adalah rahasia Illahi. Bukan begitu, Nak?”

Angin semilir meniup bajuku, Awina. Seandainya kamu tahu suasana sore itu, pastilah akan kutemani kamu melihatnya hingga malam tiba. Jika bisa, aku akan potongkan senja itu dan kukirim padamu seperti Sukab pada Alina. Tapi betapa itu semua hanya khayal belaka.

“Bapak, sekarang apa yang harus Anak lakukan?”

“Hiduplah dengan baik. Pelajari hidup ini karena di Universitas Kehidupan ini semuanya sangat berharga buat dipelajari. Cinta memanglah terkadang menyiksa, Anak. Tapi betapa cinta itu hanya sebagian kecil dari materi pelajaran hidup di Universitas Kehidupan ini. Kau pasti takut sendiri kan, Anak?”

“Sesungguhnya yang sahaya takutkan adalah itu di kehidupan ini, Bapak.”

“Bersabarlah dalam kesendirian, suatu waktu entah Awina atau bukan pasti akan menemanimu. Semua belum pasti, dan semua bisa terjadi tergantung bagaimana kamu berlaku. Berlakulah adil pada dirimu sendiri, Anak.”

Begitulah, Awina, percakapanku dengan Pak Semar sore itu. Gareng, Petruk dan Bagong baru selesai mandi ketika aku hendak berpamitan pulang. Sudah maghrib. Aku berjalan menyusuri senja sore sambil memikirkanmu, Awina. Betapa kamu tiada tahu bahwa aku terlalu sering memikirkanmu akhir-akhir ini. Rindu adalah kata yang tepat untukku, ketika cinta menggebu dan tiada dapat bertemu, Awina. Begitukah juga kau disana? Kurasa tidak. Maafkan aku karena meniggalkanmu, maafkan aku karena melukai orang-orang disekitarmu, juga kamu. Maafkan aku yang mengulur waktu. Hanya saja semua terlambat karena salahku.

Dua puluh tiga Juli agaknya sebentar lagi, hampir genap 2 tahun sejak aku berbicara serius padamu seorang diri. Dan aku berdoa pada Tuhanku, Allah, seperti anjuran Pak Semar. Jikalau Awina jodohku, maka dekatkanlah kami kembali secara baik-baik, Tuhan, agar tiada hati yang terluka. Jikalau Awina bukan jodohku, maka pisahkan kami secara baik-baik pula dan pertemukanlah aku dengan seseorang penggantinya secara baik-baik, Tuhan, agar tiada hati yang terluka pula.

Selamat menempuh kehidupan, Awina, semoga kita bisa dipertemukan kembali secara baik-baik.