Negeri Tanpa Kritik

by membualsampailemas


Alkisah, Alengka Diraja adalah sebuah negeri yang dikuasai oleh Prabu Rahwana, Putra Rsi Wisrawa dan Dewi Kaikesi. Prabu Rahwana itu orangnya arogan, walaupun begitu negeri Alengka Diraja lumayan anteng dan ayem, damai dan hampir tiada keributan di daerah-daerah. Mungkin karena kearoganannya itu, Prabu Rahwana tiada pernah mendapat kritik, lagi pula apa yang hendak dikritik jika rakyatnya kenyang dan tiada mengeluh. Hidup damai tanpa maling, tanpa rampok, tanpa preman, dan sebagainya yang membelenggu kehidupan harmonis rakyat. Tapi ya itu, satu masalahnya yaitu rakyat Alengka tiada berani mengungkapkan apa yang seharusnya diungkapkan yang menjadi haknya.

Togog dan Bilung, jika di pihak Ksatrya adalah punakawan, tapi di pihak para Raksasa ada Togog dan Bilung. Konon Togog yang mulutnya sobek itu adalah bersaudara dengan Pak Semar di Ayodya sana dan Btara Guru di Kahyangan sana.

“Gog, negara ini hampir ndak ada dinamikanya, hampir tidak ada gregetnya sama sekali.” celetuk Bilung.

“Lha kenapa to?”

“Kenyang si kenyang, Gog, tapi aku gak bisa mengungkapkan uneg-unegku ke pemerintah, apalagi kamu tahu to Prabu Rahwana itu seperti apa?”

“Lung, di sini semuanya berparadigma bahwa mengkritik itu harus punya kemampuan yang lebih dari yang dikritik. Misal, kalau kamu mengkritik Presiden kita itu, emangnya kamu bisa apa ngerjain tugas sebagai presiden? susah lhoh..” Togog menggaruk-nggaruk tangannya, agaknya belum mandi sejak kemarin sore.

“Tapi, Gog, seorang pengkritik itu juga diperlukan buat menyeimbangkan dan mengkoreksi perbuatan yang dikritiknya, terlepas dari apa dia bisa berbuat demikian atau tidak. Contohnya, komentator sepak bola itu kan ndak harus pemain bola, ndak harus pintar main bola. Komentator MotoGP itu ya belum tentu bisa membalap seperti Jorge Lorenzo, Valentino Rossi, Pedrosa, dan sebagainya itu. Kalau ndak ada komentator bersuara, ndak ada kritikan, ndak ada media kaya sekarang ini, sepi, Gog. Kalau ndak ada kritik, gimana mau maju? Gimana mau bergerak negara ini? Lama-lama rakyat juga bakal bosan.”

“Bener juga ya.”

“Ya iya to ya, Contoh lagi, kritikus film itu belum tentu bisa membuat film sebaik film yang dimilikinya, tapi para sutradara menghormati para kritikus itu tuh, sebagai koreksi atas hasil karyanya. Terlepas jika kritikus itu terkesan omong thok, tapi apa yang dilihatnya itu kan pandangan dia, jika ada yang kurang pas dimata sang perngkritik itu, mengkritiklah dia.”

“Tapi, Lung, kita itu buat apa mau mengkritik Prabu Rahwana? Lah wong sekarang hidup kita sudah lumayan kok, ndak ada maling, ndak ada perampok, apalagi preman. Semua tunduk pada kekuasaan Prabu Rahwana. Semua takut berbuat jahat. Kurang apa lagi? Hendaknya kita itu menjadi orang yang bersyukur to ya.”

“iya juga si, Gog.”

dari kejauhan, Surpanaka, adik Prabu Rahwana terlihat sedang jalan-jalan menikmati pagi yang cerah. Tapi, tiada burung yang berkicau karena takut padanya. Takut dikira mengkritik suara Surpanaka yang serak-serak basah itu.

“Eh, ada Mbak Surpanaka. Gimana kabarnya, mbak?” sapa Togog dengan ramahnya. Surpanaka hanya diam dan melihati keduanya, Togog dan Bilung.

“Apa lihat-lihat??!” katanya ketus.

“Heem, ndak apa-apa kok, Gusti.” kata Bilung. Lalu Surpanaka melanjutkan jalan-jalan paginya itu.

Setelah agak jauh, dan kira-kira Surpanaka tidak bisa mendengar percakapan Togog dan Bilung, mereka mulai pembucaraannya lagi.

“Nah, sekarang lihat itu, Gog. Surpanaka itu siapa sih yang berani mengkritik dia di negeri ini? Paling ya kakaknya sendiri. Sampai burung-burung kuning itu, yang kaya Angry Bird itu, takut berkicau.”

“Biarkan aja to, Lung.”

“Sekarang ya, Gog, apa sih yang salah dari sebuah kritikan jika yang dikritik itu legowo dan nerima, Andai saja pikiran semua orang di sini tidak sama, yaitu bahwa mengkritik itu harus ahli dalam bidang yang dikritiknya, kita pasti bisa lebih maju.”

“Jaminannya? Lihat itu Indonesia di timur sana.”

“Bukan begitu, Gog. Aku cuma mau meluruskan aja, bahwa jika kita mengkritik itu, tidak harus ahli dalam bidang yang kita kritik. Kalau paradigmanya begitu, orang yang tidak bisa apa-apa hanya akan terima melihat dari kejauhan, ‘oh, begitu ya, aku ndak bisa kaya gitu, baiknya aku diem aja’, beeuh! macam mana pula itu.”

Togog dan Bilung melanjutkan pembicaraan mereka pagi itu, tentang kritikus-kritikus yang suka mengkritik, entah itu kritik pedas, kritik manis, kritik udang, kritik tempe, dan sebagainya.

Sementara itu di Indonesia sana, banyak orang yang mengkritik asal njeplak, banyak juga yang mengkritik demi perbaikan, ada juga yang mengkritik biar masuk TV, dan sebagainya.

“Sekarang ya, setiap orang itu punya perannya masing-masing, Gog. Tempatnya para pengkritik itu sebagai oposisi yang mengkoreksi pemerintah contohnya, seorang Koki kalau di restoran pun bakal dikritik pengunjung restoran kalau ada yang tidak pas dengan masakannya, walaupun si pengunjung itu belum tentu bisa masak sehebat koki. Dan kalau di rumah, si koki juga belum tentu akan menggantikan si istri untuk memasak.”

“iya, iya.. aku mudeng, Lung. Tapi, contoh itu di Indonesia di timur sana. Banyak pengkritik, komentator, yang ngomong cuma biar masuk TV, biar dapet duit, kurang bertanggung jawab. Hal yang tidak perlu dikomentari pun dikomentari.”

“Itu demokrasi, Gog. Tapi kebablasan. Hahahaha”

“ya itu, intinya kita itu kalau komentar harus yang bertanggungjawab dan punya alasan,walaupun tidak ahli dalam bidang yang dikritik, to?”

“iya, Negera kita sayangnya tidak bisa seperti itu. Aku jadi pengen ke Indonesia saja. Yang bebas ngomong, bebas buang sampah sembarangan juga.”

Dan keduanya terus melanjutkan perbincangan sampai lemas.