Monolog: Apa itu?

by membualsampailemas


Dikiranya aku ini goblok apa, masa kemarin itu, aku dicemooh gara-gara tidak mau membaca cerpen, eh salah, tepatnya tulisan yang dijuluki cerpen! Cerpen darimananya coba, orang panjang banget, lebih dari 2 halaman HVS lho itu tulisan. memang si itu cerita, tapi itu bukan cerpen menurutku. Lagi pula ceritanya membosankan. Lha bagaimana lagi to? Lihat saja kalau kamu sempat membacanya itu, satu paragraf atau yang mereka sebut alinea itu panjangnya bisa sampai setengah halaman sendiri, sampai bingung dan pusing membacanya. Mereka ini lah orang-orang yang menjuluki dirinya sebagai orang sastra. Gila apa? Sastra macam apaan itu? Yang kutau itu sastra itu indah, ndak asal-asalan membuatnya. Lha ini, tulisan yang katanya cerpen itu ditulis sepertinya asal-asalan, ndak ada sama sekali klimaksnya menurutku.

Ada lagi itu orang sastra rambutnya kok pada gondrong, celananya jeans sobek, bajunya dobelan kaos dan kemeja lengan panjang, kalau kuliah itu sandalan, ngrokok, kacamatanya tebal bingkainya, sok gaul. Ya, meskipun ndak semuanya begitu juga si, tapi kebanyakan kok yang aku lihat begitu ya? Ndak tau juga si apa akunya yang pergaulannya terlalu sempit atau memang mereka hampir semua seperti itu. Lihat saja itu Almarhum Pak WS Rendra, sastrawan, pujangga, pembuat puisi, rambutnya gondrong, Chairil Anwar, itu ada pula Seno Gumira, apa lagi sekarang itu yang namanya Sudjiwo tedjo si dalang gemblung itu. Aaah, apa pula yang menarik dari penampilan mereka, ya mungkin mereka itu tidak jual penampilan layaknya artis-artis sinetron di televisi bejad itu, merka kan jual karyanya, bukan penampilan dirinya.

kring kring kring (ponsel dari saku celana jeans nya berbunyi)

Halo! Halo?! Siapa ini? Halo!? Eh, kalau telpon itu tau diri, ditanyain dari tadi kok ndak jawab!? Gila! (menutup sambungan telepon). Ya itu, begitulah anak jaman sekarang, palingan yang telepon barusan itu ABeGeLabil yang iseng-iseng cari nomor asing atau ngarang di keypad ponselnya, terus ditelpon atau di missed call berulang kali sampai bosan, atau sampai yang jadi sasarannya itu kepancing buat sms an sama dia. Eh, tapi ini bukan jaman seperti itu lagi deh kayaknya, sekarang ini kan sudah ada Fecebook, ada Twitter, ada Koprol, dsb dsb! Bisa nge-add teman sesukanya, pakai nama gak jelas, siblingsnya dibuat banyak, infonya palsu, nulis status hurufnya sulit kebaca, atau curhat penyakit yang dideritanya, masalah yang dihadapinya, semua diulas diupdate di jejaring sosial. Seolah teman-temannya ada yag hendak peduli dengan keadaannya. Aku ulangi ya, itu namanya basi! Sudah ndak jaman seperti itu harusnya sekarang. Curhat ya pada tempatnya, ndak semua orang itu dicurhatin. Gila apa?!

(garuk-garuk kepala)

Sudah seminggu ndak kramas rasanya seperti ada banyak kecoa di sela-sela rambut, aku ini curhat lho, aku ini menempatkan curhatanku khusus buatmu sekarang detik ini biar kamu tahu bagaimana aku, tapi aku ndak curhat di sembarang tempat, emangnya aku ini apaan? murahan?! obral cerita gak penting ke siapa pun, kayak orang lain mau dengar saja dan harus dengan sehingga seperti ndak ada yang lebih penting daripada mendengar cerita ndak penting. Owalah dunia, dunia, mengapa kini begitu rumit adanya, manusia makin terhubung makin menjadi, makin gila. Aku mulai berpikir itu tentang mengumpat, bagaimana kalau sekarang biasakan mengumpat bair ndak cepat gila, biar semua perasaan terluapkan? Alaah, tapi itu melanggar norma dan etika ndak ya? Wong nyatanya orang yang biasa mengumpat saja menjadi tidak mengumpat kalau disorot kamera televisi, atau kalaupun masih tetap mengumpat, suaranya bakal disensor. Mbok ya biar saja, biar semua lihat, anak kecil, anak remaja, dewasa, tua, biar lihat kalau orang yang mengumpat itu seperti apa. Bagaimana pun mending memiliki kebiasaan mengumpat dari pada memiliki kebiasaan korupsi memang.

kring kring kring (ponsel berbunyi lagi)

Halo?! Halo..!! Ini siapa? Jawab donk! Telepon kok buat mainan? Dasar orang gila!

“Pri, Jupri,. Kae tulung kakangmu dicepakne klambi-klambine, ndang lekas digowo nyang RSJ. Simbok nembe tilpun petugas RSJ kon methuk rene, sira melu ngeterne yo.” (Pri, Jupri,. Itu tolong kakakmu disiapkan baju-bajunya, segera bawa ke RSJ. Ibu baru saja telpon petugas RSJ buat jemput kemari, kamu ikut antar ya.)

“Iyo, mbok.” (Iya, bu)

“Owalah Marno, Marno, koe kok dadi ngene iki to, le.. le..” (Owalah Marno, Marno, kamu kok jadi seperti ini to, nak.. nak..) Simbok ngelus dada.