Bersyukur

by membualsampailemas


Ponselku berdering seiring waktu malam ini, sejak kemarin. Aku tak berani melihatnya ataupun memegangnya. Paling itu dari teman-temanku yang menanyakan kabarku dan bagaimana hasil ujiannya. Sama sekali aku tiada berani untuk melihat hasil ujian masuk ke perguruan tinggi ku itu. Aku yakin aku tidak diterima di pilihanku itu, sangat yakin, bagaikan tiada yang lebih yakin selain aku bahwa aku tidak diterima. Ibu dan Ayah sering mengetuk-ngetuk pintu kamarku sedari sore tadi, hanya memastikan bahwa aku baik-baik saja juga pasti menanyakan hasilnya. Nomor peserta ujian sengaja kusimpan biar aku saja yang tahu tentang itu. Tapi aku juga berpikiran lalu bagaimana aku akan tahu yang sebenarnya jika aku tidak mengeceknya??

“Kak, kakak makan dulu, sudah disiapkan sama ibu itu..!” suara lengkingan adik perempuanku terdengar dari luar kamar, aku memeluk bantal gulingku sambil tiduran malas menghadap ke jendela. “Iya, sebentar!”

Yak, banyak tekanan memang, aku termasuk orang-orang yang terakhir yang belum mendapat universitas atau perguruan tinggi di mana pun, swasta pun aku tidak diterima. Bodoh sekali aku ini. Tekanan batin melanda hati, sedari tadi kuamati komputer yang menyajikan Beranda Facebook, teman-temanku memberikan banyak kabar gembira di sana, sementara aku tertunduk di sini, tidak berani ke sekolah dan tidak berani keluar. Bagaimana pula aku ini, mengapa hanya aku? Lalu komputer kumatikan.

“Kak! Itu udah dipanggil sama Ayah lhoh..cepet keluar..!” adikku melengkingkan suaranya lagi, sangat melengkin seperti tiada lagi suara yang lebih mengganggu daripada itu. “Hisyh! Udah aku nggak mau keluar,.!” teriakku.

Aku menyalakan televisi di kamar, melihat berita petang. Seorang anak diculik dan diperjualbelikan ke luar negeri, oragan ginjalnya diambil pula dan diperdagangkan, sehingga ginjalnya tinggal satu. Berita yang sangat merusak petang. Dalam kesunyian aku bersyukur ternyata aku masih lebih beruntuk daripada beberapa orang yang bahkan ada yang tiada punya kesempatan untuk hidup lagi, menikmati waktu bersama keluarga. Tapi hati kecilku bicara bahwa bagaimana kelak masa depanku jika aku tidak diterima di mana pun? Kuberanikan diriku tiba-tiba untuk melihat hasil pengumuman itu, kumasukkan nomor pesertaku, dan,.Enter!

MAAF… bla bla bla.. Yaa.. aku tahu, itu kalimat penolakan. Sudahlah, biar aku seperti ini saja. Dibalik itu semua, aku kembali tertunduk, aku tadi sempat bersyukur pada Tuhan tentang keadaanku sekarang, tapi sekarang masihkah aku akan bersyukur menghadapi kenyataan? Haruskah kita bersyukur hanya ketika kita gembira, atau bersyukur dalam keadaan sedih karena melihat masih ada orang yang lebih sedih dan mengenaskan dari kita?

Aku membuka pintu kamarku dan menuju ke meja makan, di sana terdapat Ibu dan Ayah, serta adikku yang sedang mencongkel-congkel makanannya. Ibu dan Ayah memandangiku dan tersenyum. Aku tersenyum lesu pada mereka, di sini aku bersyukur masih melihat mereka tersenyum.

“Bu, aku tidak diterima”

Iklan