Jangan Beritahu Niah (cerpen)

by membualsampailemas


Petang ini aku harus bertemu dengannya, ya, dengan Niah, untuk mengatakan sesuatu. Aku memang terlalu jahat untuk ini, saat orang lain mengatakan ketulusan cintanya pada sang kekasih, melamarnya, ingin menjadikan kekasihnya sebagai pendamping hidupnya, aku malah hendak memutuskan Niah. Niah yang sudah 3 tahun bersama denganku, Niah yang selalu menelponku ketika aku memutuhkan teman untuk cerita, Niah yang selalu bermanja-manja, Niah yang selalu tertawa ketika aku kesal. Tapi selama ini aku tiada pernah mencintainya sebagai seorang kekasih, aku cukup mengangapnya sebagai teman yang baik, sangat baik bagaikan tiada teman yang lebih baik lagi, tapi sungguh tiada perasaan cinta. Konon, tiada persahabatan antara lelaki dan perempuan yang tanpa bumbu cinta diantaranya, tapi ini sungguh terjadi padaku, aku sungguh yakin bahwa tiada cinta untuk Niah dariku, dari dalam lubuk hatiku, aku hanya menganggapnya sebagai teman, bukan pasangan. Aku pun tiada pernah memintanya menjadi pacarku, kami belum pernah menyatakan diri secara terang-terangan bahwa kami ini adalah sepasang kekasih, pacaran, aku tiada pernah mengungkapkan perasaanku, apalagi perasaan tentang cinta padanya, dia pun belum pernah dalam 3 tahun terakhir berkata bahwa dia pacarku. Hanya saja, kami memang dekat, sangat dekat sehingga kami dikira banyak orang sedang pacaran. Dalam hati aku membiarkan saja anggapan mereka, karena ini hanya persoalanku dengan Niah, toh mereka yang menganggap kami pacaran bukanlah siapa-siapa.

Kami selalu saling bercerita, saling menjaga, tapi jika dari pihakku, perasaanku, aku tak menganggap bahwa ini adalah hubungan yang serius, tak tahulah kalau Niah menganggap seperti itu, yang penting aku kan tidak pernah mengatakan bahwa aku mencintainya, dan memang aku tidak mencintainya.

Sebenarnya aku sendiri merasa aneh dengan diriku, apakah aku ini tidak tertarik pada perempuan, apalagi Niah, dia gadis yang periang, selalu cerita dan mengoceh kemanapun dan dimanapun kami bersama, sampai-sampai aku hampir tak kebagian balas bercerita padanya. Bukannya aku tidak suka perempuan, aku masih normal, bahkan salah satu alasanku untuk mengutarakan perasaanku bahwa aku ingin mengakhiri hubungan kami yang seperti ini adalah karena aku jatuh cinta pada seorang gadis lain, dan itu bukanlah Niah. Dia ada di sana, dia lebih nyata bagiku daripada Niah. Entah mengapa walaupun dia tak sedekat Niah, tapi aku selalu merasa getaran hatiku makin kencang ketika melihatnya, apalagi berada dekat dengannya. Sedangkan dengan Niah, sama sekali biasa, aku hanya menganggap Niah sebagai teman cerita saja. Entahlah Niah menganggapku bagaimana?

Dia, yang mengalihkan perhatianku dari Niah, selalu memandangku penuh makna, tersenyum manis, sangat manis bagaikan tiada yang lebih manis dari senyumannya, gula pun tiada kesannya. Dia terasa lebih istimewa dari Niah di hatiku. Masalahnya adalah itu, Niah sudah terlanjur dekat denganku, aku tidak bisa lagi berpura-pura seolah-olah mencintainya. Bagaimana lagi yang harus kukatakan, bila aku tak sanggup lagi berbohong untuk mencintainya?

Jarum jam berdetak terasa begitu lambat, aku berjalan di trotoar melihat toko-toko yang begitu benderangnya cahaya lampu mereka, semata-mata untuk menarik orang agar mendatanginya, namun aku sama sekali tiada tertarik pada cahaya itu, cahaya yang berwarna-warni berkerlip-kerlip bergantian menyusun malam yang indah ini, yang akan menjadi berat buatku dan Niah, mungkin. Cafe tempat kami berjanji bertemu ada di seberang jalan sana, aku sangat malas untuk menyeberanginya, tapi aku harus, demi hubungan kami yang lebih nyata dan lebih baik, ini masalah perasaan! Perasaan? Perasaan siapa? Aku atau Niah? Aku tersadar seketika bahwa aku terlalu egois jika hendak mengatakannya sekarang, bagaimana perasaan Niah nanti ketika aku mengungkapkan semuanya? Bahwa aku jatuh cinta pada seseorang di sana. Tapi aku pun tiada tahu bagaimana Niah selama ini menganggapku, apakah sama denganku? Jangan-jangan selama ini dia juga hanya menganggapku sebagai teman curhat, teman dekat, tiada lebih tiada kurang, dan itu berarti aku telah ke-GR-an karena menganggap Niah telah jatuh hati padaku? Tapi pula, melihat semua yang telah terjadi, lalu bagaimana? Jahat sekali aku ini.

Niah sudah menungguku ternyata, dia duduk di tempat dekat jendela sehingga bisa melihat orang-orang berlalu lalang di trotoar, tempat yang bagus untuk sepasang kekasih bertemu, tapi kami ini bukanlah kekasih. Hatiku hancur ketika melihatnya tersenyum padaku, tersenyum riang seperti biasanya. Bagaimana tega aku akan mengatakan bahwa aku ingin mengakhiri semua ini? Dia tampil dengan cantiknya, terlihat energik dengan rambutnya yang terurai panjang bergelombang, memakai setelan berwarna cokelat dan agak tebal karena cuaca memang sedang dingin di luar, tak ketinggalan bandonya yang sering dipakai itu. Ah, sungguh manis, Niah, seandainya kamu bisa menemukan orang lain yang baik dan tidak jahat seperti aku ini, pasti orang itu adalah orang yang sangat beruntuk karena memilikimu. Apa aku ini beruntung selama ini? Kurasa tidak. Lalu apa yang membuatku tidak mencintai Niah? Dengan segala kebaikannya, dengan segala kecerdasannya, dengan segala keramahannya dan cerianya. Apa? Aku tidak tahu.

“Niah..” kataku tersenyum, senyum palsu. “Aku ingin berkata sesuatu padamu, tapi kamu jangan kaget ya? Juga tolong, aku ingin kamu memahaminya.” Niah hanya tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang rapi itu.

“Aku juga ingin cerita sesuatu lho.. hihihi” Niah terkekeh. Aduh, jangan sekarang, Niah, aku sedang tidak siap mendengarkan ceritamu.

“Apa?” Kataku.

Dia mengeluarkan sesuatu, sebuah kotak kecil dibungkus dengan rapi dan diberikannya kotak itu padaku. “Boleh dibuka sekarang kok.” katanya tersenyum. Aku membukanya perlahan, penuh kehati-hatian sehingga bungkusnya tiada tersobek melainkan rapi. Lalu aku menemukan secarik kertas di atas kotak yang dibungkus itu. Sejenak aku memandanginya, lalu melihat kepada Niah.

“I love you,.. Forever! ^^”

Aku terkejut, sangat terkejut membaca itu. Lalu kubuka kotak itu, ternyata adalah pin logam yang berukirkan hati. Dia menembakku, tepat di jantung, aku meninggal seketika! Apa-apaan ini?! Aku masih terkejut, sangat terkejut bagaikan tiada orang yang akan lebih terkejut seperti aku ini. Kupandang mata Niah dalam-dalam sementara dia masih tersenyum padaku. Bahkan tersenyum pun aku sekarang sulit, hanya dapat mendapatkan ekspresi terkejut. Bagaimana tega aku hendak mengatakan yang sejujurnya pada Niah sekarang? Takkan sampai hati bila ku pergi meninggalkan dan melukainya saat ini. Niah, kenapa sekarang? Kenapa harus saat seperti ini?

***

Hari berlalu hari, udara masih dingin menyelimuti, perasaanku masih sama kepada Niah, hadiah itu tiada merubah apapun kecuali sikapku, bukan perasaanku. Aku bertekad akan menjalani ini dahulu, bersama Niah entah sampai kapan yang jelas aku akan menjaganya dahulu hingga aku bisa suatu saat melepaskannya dan menemukan penggantiku untuknya, tapi bukan sekarang. Sedangkan hatiku masih tertambat pada satu cinta di sana, betapa jahatnya aku ini, Niah, kau telah salah memilihku, maafkan aku, aku ingin kamu tidak tahu tentang ini semua hingga suatu saat kamu mengerti.

Inspired by Sheila on 7