Reuni sama Tuhan

by membualsampailemas


oleh Setyoko Andra Veda

22 Juli 2011

Keluar dari masjid, aku mencari-cari sandalku yang entah kemana itu, seperti tertelan oleh riuh sandal-sandal yang lain serta kaki-kaki para jamaat Jumat yang baru saja pulang dari masjid. Mana sandalku ini? Warnanya putih memang, tiada mencolok dari sandal-sandal japit yang kebanyakan orang dipakai untuk ke kamar mandi itu. Untuk apa pula aku memakai sandal yang mencolok sedangkan kakiku sendiri sering menginjak genangan air di jalan, bahkan terkadang lumpur yang dikarenakan hujan yang akhir-akhir ini turun tiba-tiba di tengah musim panas. Betapa musim sekarang sudah sulit untuk diprediksi kembali seperti dahulu. Aku terus mencari dan mencari diantara sela-sela kaki orang lain dan tumpukan sandal yang berserakan.

Nah itu! sepasang sandal yang tiada mencolok tapi sudah kutandai bahwa itu adalah sandalku! Ketemu juga sandal.

Aku berjalan menuju daganganku yang kuletakkan di bawah pohon ketapang, pohon yang bentuknya seperti payung itu, karena rantingnya tumbuh menjalar kesamping ketika sudah besar, bukan makin keatas seperti kebanyakan pohon, cocok untuk ditanam di lahan parkir kendaraan. Daganganku berupa siomay, biasa, siomay murah yang biasa kujual ke anak-anak SD di sekitar sini. Meskipun murah, tapi aku jamin aku tidak menaruh sesuatu yang berbahaya dalam pembuatan siomay itu, aku jamin itu.

Hari ini adalah Jumat, hari rayanya umat Islam setiap minggunya karena akan ada ibadah Shalat Jumat berjamaah. Entah terlintas apa tadi sebelum datang ke masjid ini, bahkan biasanya aku tidak pernah shalat. Di rumah pun aku jarang shalat, paling hanya jika di suruh istriku untuk shalat dan itu pun aku malas-malasan. Apalagi pergi ke masjid, hampir tidak pernah aku pergi ke masjid kecuali di hari-hari besar selama ini. Terakhir kali aku ke masjid itu waktu Iedul Fitri tahun lalu, bersama anak-anakku dan istriku, itu sudah tradisi dan aku hanya menganggapnya sebuah tradisi. Sedangkan Shalat Jumat ini aku baru kali ini entah kenapa memiliki keinginan tadi untuk shalat jumat tiba-tiba di masjid ini, di masjid yang tiap harinya aku lintasi tetapi aku tidak pernah menginjakkan kakiku kemari melainkan baru hari ini.

mosque-prayer

Ketika berjalan memanggul daganganku tadi, tiba-tiba saja aku mendengar adzan yang di sini biasa dikumandangkan dua kali sebelum Shalat Jumat. Adzan yang pertama saja langsung membuat hatiku terasa berbeda, “Allahuakbar Allaahuakbar!”. Baru kali itu aku menghayati adzan sedemikian. Selain pelantunnya bagus dan merdu, adzan itu seperti sebuah nyanyian yang indah walaupun itu sama sekali bukanlah sebuah nyanyian.

Lalu aku meletakkan daganganku di bawah pohon ketapang di tempat parkiran kendaraan. Ada perasaan takut untuk meninggalkan daganganku sendirian, tapi aku lihat banyak juga pedagang bakso yang meninggalkan dagangannya di sini, (bahkan pedagang bakso keliling pun Shalat Jumat!) sehingga aku percayakan saja barang daganganku itu di bawah pohon ketapang ini.

Aku melangkah menuju masjid, melepas sandalku diantara sandal-sandal yang lain, sudah jadi kebiasaan di sini kalau menaruh sandal cuma di pelataran, mungkin itulah yang menyebabkan banyak orang kehilangan sandal setelah pulang dari masjid, entah itu tertukar atau sengaja ditukar oleh orang lain. Bukan berarti kan kalau orang baru pulang dari masjid lalu hatinya bersih? Bisa saja hatinya bersih cuma di dalam masjid, tapi setelah keluar: beringaslah ia lagi, muncul lah niat buruknya untuk menukar sandal dengan sandal lain yang bagus. Ah, tapi aku tidak peduli dengan itu, toh sandalku itu sudah jelek, tapi aku tiada niatan untuk menukar sandal.

Aku masuk ke dalam masjid seperti orang-orang, bajuku tidak se-alim kelihatannya dengan orang lain. Bajuku biasa. Dulu waktu kecil, aku juga pernah ngaji di surau dekat rumah Pak RT di desaku, bahwa hendaknya orang yang hendak Jumatan itu mandi sebelum Jumatan, merapikan jenggot, memotong kuku, dan bersih-bersih badan lainnya. Lha aku? Sekarang aku cuma pakai pakaian yang sudah kubuat berdagang sejak tadi pagi, pastinya ada keringatnya. Daguku berjenggot tak rapi, sudah hampir 2 minggu aku tidak mencukurnya. Namun aku tetap memantapkan diriku untuk ikut Shalat Jumat kali ini, entah kenapa itu.

Panggilan adzan tadi sedikit menarik hatiku untuk melangkah ke masjid. Mungkin juga karena aku penat dengan berjalan jauh dari rumah untuk berdagang.

Jarang-jarang aku ke masjid, apalagi Shalat Jumat. Sampai-sampai ketika hendak duduk bersila, aku baru ingat kalau aku belum berwudhu! Ya! Berwudhu! Bersuci! Wah, aku lupa tentang hal yang satu itu!

Beranjaklah aku ke tempat wudhu. Khotbah jumat sudah hampir di mulai, aku menenangkan diriku di dalam masjid sembari memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang mencari-cari tempat yang masih ada sela untuk ditempati. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini. Di dalam sini rasanya adem, sejuk, banyak kipas angin, orang-orang sibuk “berdugem syariah” alias berdzikir dengan menggeleng-gelengkan kepala. Aku mengikuti gerakan beberapa orang yang menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berdzikir, terlihat khusyu dan serius. Aku malah tersenyum sendiri karena kuanggap itu hal lucu.

Sudah lama, sangat lama bagaikan tiada yang lebih lama lagi selain aku dalam menghadapi kenangan masa kecilku dulu ikut bapak ke masjid untuk Shalat Jumat berjamaah, bapakku dulu pun berdzikir seperti orang-orang itu. Satu hal yang kini membuatku iri pada orang-orang tadi adalah, bahwa mereka memiliki ikatan batin yang kuat dan kepercayaan kuat mengenai Gusti Allah, Tuhan Semesta Alam, yang selama ini aku mengabaikan begitu saja.

Lalu aku tertunduk dalam duduk silaku.

Adzan kedua mulai dikumandangkan setelah khatib naik ke mimbar. Kali ini si muadzin lebih mengindahkan lantunan adzannya daripada yang tadi, atau cuma perasaanku saja? Syahdu suasana membuatku tercengang. Bagaimana bisa se-khidmat ini di dalam masjid, sepi, suara anak-anak pun jarang kedengaran? Aku celingukan ke samping kanan dan kiri, melihat sekeliling orang yang duduk bersila. Aku kebetulan duduk di baris/saf ke-5 dan menghadap khatib persis di depannya.

Aku tengok ke belakang, ternyata sudah terisi penuh, masih saja ada beberapa orang berdiri menunggu adzan selesai dikumandangkan di luar sana. Aku kembali memandangi si muadzin yang mengumandangkan adzan begitu mendayu-dayunya, indah terdengar, hatiku tentram. Aku menundukkan kepalaku. Lalu aku merasa jauh dari Gusti Allah, sangat jauh, bagaikan tiada yang lebih jauh lagi antara aku dengan Tuhanku itu. Betapa selama ini ternyata aku meninggalkan perintahNya untuk mengerjakan shalat. Lalu aku teringat kata-kata Kyai di surau dekat rumah Pak RT waktu aku keci: “Amalan yang pertama kali di-hisab (dihitung) esok ketika yaumulakhir (hari akhir/kiamat) adalah shalat”.

“Innal khamdalillah, nakhmatuhu wa nasta’inuhu, wa nastaghfiruhu, wa na’udzubillahiminsyururi anfusina, wa min sayyiaati a’malina, man yahdihillahu falamudzilalah…. “, dan seterusnya. Aku tidak hafal bacaan itu melainkan hanya depannya saja.

Dulu aku pernah jumatan waktu kecil dengan bapak, jadi ya sedikit ingat dengan kalimat itu. Khatib terus berbicara, aku mendengarkan, semua mendengarkan. Aku menghayati betul perkataannya dan memperhatikannya. Jamaah lain banyak yang menunduk dalam mendengarkan, mungkin karena menjaga ketenangan, tapi ada juga yang malah ketiduran, padahal kalau ketiduran wudhunya batal. Aku mendengarkan sambil menatap wajah sang khatib, melihatnya dengan seksama dan memperhatikan tiap-tiap ucapannya.

Sudah lama sekali, sangat lama aku tidak seperti ini. Sesuatu telah terjadi padaku dan itu adalah ketertarikan pada hal yang dibicarakan khatib ini. Petuah-petuah yang tidak asing terdengar di telingaku, tapi selama ini aku mengabaikannya. Sampai aku mendengarkan bahwa sekarang ini bulan Sya’ban, dan sebentar lagi ramadhan! Aku kaget. Lalu khatib itu berkata, kurang lebih begini:

“Jamaah Jumat yang dikasihi Allah, ada sebuah kisah. Suatu ketika, diceritakan pada suatu hari Jum’at, sebelum memulai khotbah Jumat, Nabi Muhammad SAW terdengar mengucapkan tiga kali amin. Selesai shalat Jum’at, sahabat Usman bin Affan menanyakan tentang ucapan tiga kaliamin tersebut.

‘Wahai Rasulullah, mengapa Nabi mengucapkan amin pada awal kutbah Jum’at tadi?’, tanya sahabat Usman kepada Nabi. Dengan senyum tersungging di bibir beliau, Nabi Muhammad kemudian menjelaskan.

‘Wahai sahabatku, tadi Malaikat Jibril telah berdo’a kepada Allah SWT sebagai berikut:

“Ya Allah, janganlah menerima do’a siapa yang ketika memasuki bulan puasa Ramadhan dalam kondisi sebagai berikut: (1) anak yang masih durhaka terhadap orangtuanya, (2) suami dan istri yang masih tidak bertegur sama antara keduanya; (3), saudara yang tidak saling bersilaruahmi di antara mereka”.

Ketiga do’a Malaikat Jibril kepada Allah tersebut saya amini tiga kali'”

Aku terdiam, malu pada diriku sendiri. Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah bapak dan ibu di kampung halaman sana. Sudah lama aku tidak meminta maaf pada istriku atas segala perbuatanku selama aku menikah dengannya, bahkan ketika Iedul Fitri kemarin. Hatiku benar-benar merasa tersentuh, dibelai oleh kata-kata kahtib barusan. Sebentar lagi Ramadhan datang, aku tidak menyadarinya, sudah berapa Ramadhan kujumpai tapi aku hanya berpuasa kurang dari sebulan. Padahal kini Ramadhan tinggal menghitung hari.

**

Aku memanggul daganganku sambil merenungi tentang perbuatanku selama ini. Aku iri pada orang-orang tadi yang begitu khusyunya datang ke masjid, shalat dengan baik, berdzikir dengan lembut, mereka serasa dekat dengan Tuhan mereka. Sedangkan aku? Aku kangen dengan suasana masa kecilku dulu, waktu diajak bapak Jumatan setiap jumat, membonceng sepeda jengki bapak ke masjid, ngaji di surau bersama pak Kyai, bahkan aku rindu masakan ibu. Kapan aku akan pulang? Istriku begitu sabarnya mendampingi aku, sering menyuruhku shalat tapi aku malas-malasan. Apa pernah terlintas di benaknya bahwa dia bosan hidup denganku, dengan tukang siomay yang penghasilannya tak menentu.

Aku pulang  ke rumah sebelum adzan ashar dikumandangkan, sambil tertunduk lesu karena malu, malu pada diriku sendiri, malu pada istriku, anak-anakku, aku malu pada Gusti Allah.

“Lho pak, kok sudah pulang?” tanya istriku.

Ndak apa, bapak capek.”

Suara adzan ashar dikumandangkan, terdengar tak seindah adzan tadi siang di masjid. Tapi aku segera bergegas ganti baju dan berwudhu. Istriku keheranan melihatku.

“Lho Pak, mau kemana?” tanyanya.

“Aku mau reuni sama Gusti Allah” kataku sambil mengenakan sandal dan bergegas ke masjid.

**

Iklan