Kusumaningwigati : 1 Harini Namanya

by membualsampailemas


Sejak Rakai Pikatan mendapatkan permaisurinya, Pramodawardhani, yang berbeda agama yaitu Buddha Mahayana, kehidupan antara penganut Hindu dan Buddha makin menyelaras di Yavabhumipala ini. Kamulan Bhumisambara (Borobudur) akan segera diresmikan, konon katanya yang akan meresmikan adalah Sri Kahulunan Pramodawardhani sendiri, karena beliaulah yang memeluk Buddha Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan Mpu Manukan adalah pemeluk Hindu Siwa.

Borobudur

Kamulan Bhumisambara

Kamulan Bhumisambara, yang dalam pembangunannya menelan tidak sedikit korban berjatuhan dari para pekerja, baik yang sakit-sakitan ketika bekerja maupun yang melarikan diri, tidak heran karena mereka bekerja selalu dalam pengawasan kadatuan pariraksa yang sangat ketat. Para pemeluk Hindu pun banyak yang mau tidak mau ikut bekerja pada Kamulan Bhumisambara, mengingat kini telah menjadi sebuah bangunan yang agung, terdiri dari banyak sekali batu yang diangkut dari mana saja, berukirkan dengan ukir terbaik di bumi Yavabhumipala, bertingkat tiga, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Aku hanya sebatas itu mengetahuinya, itu pun dikarenakan kekasihku yang memberitahuku, Harini, dia adalah penganut Buddha Mahayana, sedangkan aku adalah Hindu Siwa.

Hari ini aku hendak mencari kayu bakar ke tengah hutan, nanti aku akan mampir ke desa Harini di seberang sungai bagian timur, sungai yang mengalir perlahan di musim kemarau ini. Kabut masih begitu tebal ketika aku beranjak pagi-pagi dari kampungku, mengingat perjalanan cukup jauh, sekitar sepenanak nasi nanti baru sampai ke tempat para penebang kayu yang sedang menebang banyak pohon untuk keperluan pembangunan di Mantyasih sana, aku hanya memungut kayu yang tiada terpakai yang tentunya sudah kering untuk dijadikan bahan bakar di rumah. Sambil membawa keranjang di punggungku, aku menyusuri tanah yang masih basah karena embun, juga menerobos rerindangan semak yang sungguh hijau rimbun di sekitar jalanku. Kala itu langit agak kebiruan, tapi sinar matahari yang keemasan belum terlihat terlalu jelas karena kabut masih menyelimuti bumi.

Desaku dan desa Harini agak berjauhan, kami bertemu ketika aku sedang berkebun di dekat sungai yang membatasi desa kami di sebelah timur sana, kebetulan kebun milik ayahku berada di dekat sungai karena tanah di sana subur. Aku ingat ketika pertama kali aku melihat Harini yang sedang bersama wanita-wanita lain dari desanya yang sedang mencuci kain kain lebar sore hari. Aku memperhatikan wanita-wanita yang berkemben setengah dada, kulit mereka kuning langsat dengan rambut disanggul ke atas agar tidak terkena air. Lama ku memperhatikan dan aku melihat sosok yang indah di antara mereka, dia lah Harini. Lama-lama aku selalu memperhatikannya hingga suatu saat tak sengaja aku menatap mata Harini yang ketika itu dia juga menatapku, kami berdua berpandangan sejenak, lalu aku menundukkan kepala karena malu, Harini tersenyum kecil seperti bahagia sekali melihat orang di seberang sungai sana salah tingkah melihatnya. Aku belum kenal dia ketika itu.

Lama kelamaan, peristiwa itu selalu terulang hampir setiap aku berkebun di dekat sungai, lalu aku pergi ke kebun setiap sorenya dengan alasan ingin melihat dan mengawasi tanaman supaya tidak dirusak celeng, tapi sebenarnya adalah karena untuk selalu bertemu Harini. Sampai suatu ketika hari menjelang malam, Harini masih saja belum selesai dengan kain-kainnya, teman-temannya satu per satu pulang, tampaknya Harini meminta satu temannya untuk menemaninya. Kala itu mentari sudah hendak turun, senja yang indah di perbatasan desa dengan cahaya keemasan sang surya yang menembus di balik pepohonan, membuat udara terlihat kuning kemerahan, tapi makin dingin. Angin bertiup sepoi ke selatan, searah dengan aliran sungai, menerbangkan dedaunan tua. Aku memberanikan diri turun ke tepian sungai untuk menyapa Harini dan temannya karena hanya merekalah yang belum selesai, kakiku telah menyentuh aliran air sungai yang segar. Waktu itu aku belum mengetahu nama Harini.

“Apa tidak sebaiknya kalian pulang? Hari telah menjelang malam, wanita tidak baik pulang terlambat waktu.”

“Sahaya belum akan pulang sebelum selesai mencuci kain-kain ini, wahai Tuan.” Tukas Harini masih sambil mencuci, tapi ia terlihat terburu-buru, dia tidak menatapku. Memang kain-kainnya cukup banyak yang dicuci Harini. Seorang temannya lagi yang agak gemuk mencoba membantu Harini.

“Tidak biasanya kau mencuci kain-kain bergambar malam itu sebanyak ini?” tanyaku penasaran. “Mari kubantu menyelesaikan juga.” Aku beranjak dari tempatku, menyeberangi sungai yang lumayan dangkal dan berair jernih itu. Airnya tidak terlalu deras, dengan meniti batu-batu yang berjejer aku sampai ke tempat Harini berada, di seberang sungai bagian timur. Lalu kubantu dia memeras kain-kain berwarna gelap itu, yang bergambarkan bunga-bunga dan dedaunan, beberapa bergambarkan burung yang mengepakkan sayap, sunguh indah. Di desaku tidak ada yang membuat kain-kain seperti ini, biasanya kami pergi ke desa seberang untuk membeli kain-kain indah ini.

“Apa kalian yang membuat ini sendiri?” tanyaku.

“Tidak semua, Tuan, hanya beberapa kami buat sendiri.” Jawab Harini, kali ini dia tersenyum malu karena kupandangi dia. Sepintas lalu dadaku berdesir kala tertatap oleh matanya yang indah itu.

“Harini, sudah ku selesaikan yang ini.” Kata teman Harini. Sejak saat itu baru kuketahui nama gadis cantik itu, Harini. Tak beberapa lama, selesailah kami memeras kain itu, lalu memasukkannya ke keranjang. Hari telah semakin sore, matahari telah berada di ufuk, tinggal menunggu tenggelam.

“Sudah terlalu gelap,” kataku memandangi langit di sebelah barat. Lalu aku menatap Harini, “Mari kuantar kalian sampai ke desa kalian, tidak baik membiarkan wanita pulang sendiri, apa lagi waktu senja begini.”

“Terima kasih, Tuan. Maaf telah merepotkan.” Sahut Harini. Tampaknya dia juga takut pulang sendiri. Kukira waktu itu dia tidak menaruh curiga padaku, karena mungking saking seringnya melihatku di seberang sungai yang sedang berkebun.

Kami lalu naik dari sungai. Aku naik dulu, lalu menanting Harini dan temannya itu. Aku mencoba membawa tempat kain Harini itu, cukup besar juga, walau berat tapi kutahan. Apa kata dunia nanti jika seorang lelaki sepertiku malah terlihat kelelahan membawa keranjang ini, meskipun memang ini cukuplah berat. Aku heran, bagaimana bisa Harini disuruh mencuci sebanyak ini, apakah tidak diperkirakan bahwa wanita selembut dia akan kuat membawa kain basah sebanyak ini. Sementara teman Harini membawa tidak terlalu banyak.

Dalam perjalanan, kami terdiam tanpa berani memulai percakapan. Aku mati gaya berada di dekatnya, tapi kucoba sekuat tenaga untuk memulai percakapan, walau pun aku bingung hendak berucap apa.

“Harini, kenapa tidak biasanya kamu membawa begitu banyak kain ke sungai?” celetukku. Harini agak terkejut mendengarku.

“Tuan tahu nama saya?” tanya Harini sambil mendekapkan tangan kiri ke tangan kanannya. Aku tersenyum sambil memikul keranjang itu.

“Tadi temanmu itu memanggilmu begitu, kan?”

“Oh, iya betul.” Harini berucap pelan, tapi dia tersenyum lagi padaku. Walau aku terus melihat jalan ke depan tanpa memandang Harini yang berjalan di samping kiri ku agak ke belakang, tapi rasanya dia kini sedang melihatku dengan tersenyum-senyum, sementara aku memikul keranjang ini dengan susah payah. “Teman saya bernama Lastri, saya sendiri Harini. Kami dari desa Samiraja. Sediakah Tuan yang budiman ini memberitahu nama, sekedar untuk mengetahui siapakah kiranya yang telah berjasa pada diri kami ini?”

Aku tersenyum mendengar suaranya, sungguh indah, selain itu dia juga pandai memainkan kata-kata, basa-basinya tinggi.

“Namaku Nawa, dari desa Balingawan, dekat bukit di barat sungai sana.”

“Oh, sungguh jauh dari sini. Hari telah makin gelap, tapi Tuan malah mengantarkan kami ke desa. Sungguh terimakasih yang tiada terkira. Maafkan kami, Tuan.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi? Ada acara apa sehingga membuat begitu banyak kain?”

“Kami kedatangan tamu dari Mantyasih, beberapa orang pegawai istana datang untuk melakukan upacara Sima di desa kami.”

“Benarkah?” aku sedikit terkejut dan menolehkan sedikit kepalaku ke arah Harini. Sima Yadnya adalah upacara penghormatan pada desa yang telah berjasa pada kerajaan, biasanya desa itu akan dibebaskan dari pajak setelah dilakukan Sima Yadnya itu.

“Iya, Tuan. Banyak orang dari desa kami yang dulu ikut membantu dalam pembangunan Kamulan Bhumisambara.”

“Wah, bukankah itu jauh dari desamu?”

“Iya, Tuan. Tapi tenaga kasar masih sangat diperlukan dulu.”

Senja sore telah tiba, semakin indah karena aku berjalan mengantarkan Harini ke rumahnya. Angin berhembus perlahan, seperlahan kami mengayunkan kaki di atas bumi menuju desa Harini. Semburat jingga di langit dengan awan yang keperakan menghiasi langkah kami.