Kusumaningwigati: 2 Kayu Hutan

by membualsampailemas


Sepanjang perjalanan dia menceritakan pengorbanan desanya untuk pembangunan Kamulan Bhumisambara, kakaknya pun dikabarkan ikut dalam pembangunan itu. Dia mengaku sebagai pemeluk Buddha Mahayana karena desanya memang kebanyakan beragama itu, tapi ada juga beberapa pemeluk Hindu Siwa di desanya yang mau tak mau ikut untuk membangun Kamulan Bhumisambara dari desanya. Ada yang sukarela, ada pula yang terpaksa. Betapapun, seorang pemeluk agama lain sebenarnya tidak dapat dipaksa untuk ikut membantu membangun Candi yang megah itu, tapi kerajaan mempunyai kuasa. Lagi pula, desanya kini telah akan dibebaskan dari pajak.

Setelah sampai di desa Harini, kira-kira sepenanak nasi lebih sedikit lamanya dari sungai tadi, mungkin bisa lebih singkat lagi jika kami berjalan tidak dengan bercerita-cerita, hari telah gelap. Semburat merah masih menghiasi langit gelap, kelelawar mulai keluar mencari makan. Aku disambut keluarga Harini di rumahnya.

“Terimakasih, Nak, telah mengantarkan putri saya ke rumah. Kalau tidak ada Anak saya khawatir dia bisa pulang dengan selamat. Darimana asal Anak?” kata seorang yang tua, tampaknya beliaulah ayah Harini.

“Sahaya dari Balingawan, Bapak. Melihat dua wanita yang mencuci kain begitu lama hingga ufuk hendak menelan sang surya, sahaya tiada tega membiarkannya begitu saja pulang tanpa pengawalan.” Kataku berbasa-basi.

“Oh, Balingawan? Cukup lama perjalanan dari sini menuju ke sana. Di luar telah gelap, menginaplah semalam di rumah kami, Nak.”

Cahaya redup lampu minyak menerangi pembicaraan kami malam itu, di samping Harini duduklah ibunya. Aku bersama ayah Harini duduk bersama berbincang-bincang. Kakak Harini telah memiliki istri dan tinggal di rumah sebelahnya. Hingga beberapa lama ayah Harini yang juga menceritakan bagaimana desanya mendapatkan Sima Yadnya pemit undur diri karena telah lelah dan mengantuk. Aku disilakan untuk tidur di ruang tengah rumah itu. Udara malam masih begitu dingin di penghujung kemarau ini, aku sulit tidur.

Beberapa lama aku tiduran tanpa memejamkan mata, aku mendengar sesuatu. Suara pintu terbuka! Aku langsung bangun dan melihat sekitar. Ternyata bukan pintu keluar yang terbuka, melainkan pintu kamar Harini. Aku terkejut ketika Harini keluar dari kamarnya.

“Harini? Belum tidur?”

Harini tersenyum manis melihatku, dia mendekatiku sambil membawa kain bergambar itu dua helai. Saat itu lampu minyak telah dipadamkan, samar-samar aku melihat Harini dari cahaya bulan yang separuh di langit yang menembus celah-celah bilik rumah Harini. Hatiku berdebar kencang.

“Belum, Tuan.” Katanya tersenyum. “Saya ambilkan kain-kain ini sekedar sebagai penutup tubuh Tuan di malam yang dingin ini. Pastilah tadi Tuan belum tidur karena kedinginan.”

Aku tersenyum menerima kain itu. Kupandangi wajah Harini yang samar-samar itu, melalui cahaya bulan yang biru keperakan.

“Terimakasih.” Kataku. “Sudah sana, tidurlah. Malam telah larut.” Aku sedikit terbata mengatakan itu. Harini hanya menganggukkan kepalanya dan tersipu. Lalu dia berdiri dan beranjak ke tempat tidurnya sambil sesekali melihatku.

Aku makin sulit tidur karena memikirkan Harini barusan. Apakah dia juga sepertiku? Sulit memejamkan mata karena tatapan mata?

***

Aku sampai ke tempat penebangan kayu, matahari telah hampir sepenggalan naik, sudah terang, tapi kabut tetap saja masih sedikit terlihat. Ramai sudah di tempat penebangan kayu ini. Orang-orang yang menebang berkulit gelap, beberapa diantaranya memiliki rajah di punggung atau lengannya, badan mereka besar-besar dan beberapa gemuk pula. Ada orang yang langsung mengenaliku seketika itu.

tebang hutan

“Nawa!” teriaknya sambil melambaikan tangan. Kulitnya yang gelap dan cenderung hitam legam karena seringnya terbakar terik matahari belum terlalu berkilat, karena pagi belum menimbulkan keringat.

“Paman!” kataku. “Aku hendak mencari kayu sisa, adakah?”

“Pagi sekali kau mencari kayu? Tentu ada, daripada tidak terpakai dan dibuang percuma, sebaiknya segera kau ambil. Ada banyak sekali di sana.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk.

“Terimakasih, Paman.” Kataku tersenyum. Tidak ada perempuan di sini, semuanya laki-laki yang berkulit gelap dan bertubuh tambun namun kekar. Penebang kayu ini lebih mirip begal dari pada penebang kayu. “Belum cukup kayu-kayu ini, Paman? Kelihatannya sudah banyak sekali menebang pohon?”

“Belum cukup, Nawa. Kabarnya kayu-kayu ini hendak di bawa ke timur sana, lebih timur lagi dari Kamulan Bhumisambara. Sekarang sedang dibangun Sivagrha (Parambrahma/Perambanan) di timur sana.”

“Bukannya candi membutuhkan batu? Untuk apa kayu?”

“Aku juga tidak tahu, Nawa. Tampaknya akan dibangun pula bangunan-bangunan raja di dekatnya.” Paman Warakumba menjelaskan. “Kabarnya pula, pembangunan Sivagrha di sana hendak menyaingi Kamulan Bhumisambara, sekarang ini tanah jawa telah dikuasai Rakai Pikatan yang pemeluk Hindu Siwa, Istrinya yaitu Pramodawardhani akan meresmikan Kamulan Bhumisambara, tapi tak lupa Rakai Pikatan membangun Sivagrha pula. Wangsa Sanjaya kembali berkuasa. Wangsa Shailendra tidak punya hak atas tahta lagi dan pergi ke Suvarnadvipa sana.”

“Begitukah?”

“Kudengar begitu. Ayo, silakan ambil kayu yang ada di sebelah sana semau mu, itu tidak terpakai semua.”

“Terimakasih, Paman.”

Aku tidak terlalu paham mengenai peristiwa di Mantyasih sana, desaku terlalu jauh dari pusat kota sehingga aku tidak terlalu menaruh perhatian pada keadaan di sana. Kalau benar kini Wangsa Shailendra yang pemeluk Buddha itu telah meninggalkan Yavabhumipala dan ke Suvarnadvipa, maka untuk apa Kamulan Bhumisambara yang telah dibangun selama 70 tahun itu? Betapapun, penganut Buddha akan tetap ada di tanah ini walaupun Wangsa Shailendra telah pergi. Setidaknya masih ada Sri Kahulunan Pramodawardhani.

Setelah kukumpulkan banyak kayu, ku masukkan ke keranjang gendongku yang cukup besar. Pastilah berat ini nantinya. Aku jadi ragu apakah aku akan melanjutkan ke tempat Harini atau tidak. Jika aku mampir, maka perjalanan menjadi lebih lama, sedangkan beban ini terasa begitu berat. Tapi jika tidak berkunjung, rasa rinduku hendak dikemanakan, rindu karena memendam cinta yang menggebu, tapi sulit tuk bertemu. Mampir atau tidak?