Kusumaningwigati: 3 Kucium Harini

by membualsampailemas


Kuingat malam itu ketika pertama kali aku menginap di rumah Harini. Aku masih sulit memejamkan mata karena selain dingin masih menerpa walau 2 helai kain dari Harini telah kupakai, juga tatapan mata Harini yang selalu terbayangkan di dalam kepala, membahana di dalam jiwa, merasuk sukma. Sulit aku memejamkan mata karena senyuman Harini tadi selalu terbayang, memabukkanku tiada kepalang bagaikan wajahnya pualam yang halus dan bercahaya diterpa cahaya perak bulan. Harini, mengapa kau begitu menyiksaku.

Gadis Jawa

Aku lalu bangkit dari tidur-tiduranku, hendak keluar rumah untuk sekedar menenangkan diri, tapi aku takut pula membangunkan ayah dan ibu Harini, maka aku membuka pintu dengan perlahannya. Suasana telah sepi, tinggal suara-suara malam seperti suara burung yang berkeliaran malam, juga angin yang berdesir menabrak-nabrak semak dan rerumputan. Cahaya bulan cukup untuk memberi penglihatan di sekitar semak belukar, dan pelataran. Jarak antar rumah di desa ini tidak terlalu dekat, tapi masih dapat terlihat. Aku duduk di depan rumah Harini sambil berjongkok, merenungi makna tatapan mata Harini tadi, makna senyumannya selama ini, dan semuanya. Betapa dia telah memikatku dengan pesonanya. Di desa ini, memang begitu banyak wanita yang seperti dia, berparas cantik dan rupawan, kulitnya kuning langsat, walau tidak secerah puteri-puteri di istana, tapi sungguh elok jika dilihat berkembenkan kain bergambar malam itu.

Tiba-tiba aku terkejut, sesosok orang terlihat dari balik pintu rumah.

“Harini?!” kataku berbisik dengan terkejut.

“Ternyata Tuan di sini?”

“Kau mengagetkanku. Mengapa belum tidur jua?!” aku menahan suaraku.

“Aku tidak bisa tidur.” Alisnya mengerut ke atas. Sambil memandangku, dia mendekat dan ikut berjongkok di sebelah kiriku. “Tidakkah udara di luar lebih dingin, Tuan?”

“Tidurlah, Harini. Tidak baik jika terlihat orang kau ada di sini, apalagi jika ayah dan ibumu terbangun.”

“Di sini semua orang akan masuk ke dalam rumah jika cuaca seperti ini, mereka hanya akan keluar malam jika bulan purnama, entah itu untuk berkumpul bersama atau anak-anak yang bermain-main dengan cahaya bulan. Di ujung jalan ke selatan sana terdapat rumah seorang Bhiksu yang sudah 2 tahun menetap di desa kami. Dia yang selalu mengajarkan Buddha pada kami ketika malam purnama.”

“Darimana Bhiksu itu?”

“Sepertinya bukan orang Yavabhumipala, karena logatnya tidak seperti orang sini. Dia biasa berbahasa Sanskerta pada tetua desa. Tuan bisa berbahasa sanskerta? Seperti yang diucapkan orang-orang dari utara sana?”

“Jangan memanggilku ‘Tuan’. Panggil saja aku dengan namaku. Aku sedikit bisa bahasa itu. Tetua di desaku pun menggunakannya jika bercerita.”

Harini memanyunkan bibirnya, “Aku hendak memanggilmu ‘Kanda’ saja. Tidak enak memanggilmu dengan ‘Nawa’.”

“Hush! Kita bukan sepasang kekasih! Aku tidak enak hati dengan ayah dan ibumu nanti.” Celetukku. Harini Cuma tertawa kecil, tangannya menutupi mulutnya yang tertawa itu.

“Kanda sering melihat saya kan jika bertemu di sungai?” tukas Harini, dia menatapku dengan tatapan yang aneh, aku makin berdesir dan lama-lama bisa salah tingkah, maka aku sengaja mengalihkan pandanganku ke depan.

“Harini juga, kan?”

“hihihihi..”  Tawa kecilnya kini agak keras, tapi sekeras-kerasnya tawa itu adalah masih saja dengan suara berbisik.

“Kenapa kau belum jua tidur, Harini? Adakah kehadiranku menginap mengganggumu?”

“Aku tidak bisa tidur karena membayangkan wajahmu, Kanda” Harini berkata dengan ekspresi polosnya. Aku terkejut. Benarkah ini? Tidakkan aku sedang bermimpi? Tidakkan dia sedang menggodaku atau bercanda? “Kanda, apakah juga seperti Harini? Tiada dapat tidur karena membayangkan Harini?”

“a..a.. aku.. aku tidak bisa tidur karena udara dingin.” Kataku. Aku salah tingkah sebenarnya, hingga berkata terbata-bata. Tapi aku berbohong pada Harini. Kutatap wajah Harini, ada sedikit kekecewaan di sana. Tiba-tiba dia hendak berdiri, tapi langsung ku sahut tangannya dan kutahan agar tidak jadi. “Harini, aku tidak dapat tidur karena senyumanmu itu.” Kataku sambil tersenyum.

“Katanya karena udara dingin?” Harini memanyunkan lagi bibir bawahnya. Mukanya lucu, seperti anak kecil yang manja.

“Elokkah seorang biasa sepertiku menyukai senyumanmu yang bagaikan seorang dewi itu? Lalu aku mengatakannya begitu saja?”

“Tapi Kanda telah mengatakannya begitu saja.” Harini tersenyum. Aku menatapnya sayu. Lalu mukaku kudekatkan ke mukanya, muka kami saling mendekat hingga sangat dekat, bagaikan tiada lagi yang lebih dekat dan nyaris seperti itu. Bibir kami pun bersentuhan sejenak. Sejenak itu cukup lama, hingga Harini tersadar dan melepaskan bibirnya. Dia langsung beranjak berdiri dan masuk lagi ke dalam rumahnya dengan tergesa. Aku terkejut dan tiada dapat berkata.

Aku merasa bersalah telah melakukan itu. Sepertinya dia menyesal, atau marah? Apakah yang dipikirkan Harini sekarang? Apakah dia menangis karena telah kucium?