Kusumaningwigati: 4 Sivagrha

by membualsampailemas


Pagi harinya, masih sangat pagi dan berkabut, aku berpamitan kepada ayah Harini untuk pulang ke desa Balingawan. Cukup lama perjalanan dari sini, kira-kira dua kali sepenanak nasi lebih. Menyeberangi sungai yang biasa menjadi tempat Harini dan teman-temannya mencuci kain dan melewati kebun-kebunku. Aku masih dengan perasaan bersalah pada Harini karena kejadian tadi malam yang membuatku sulit tidur hingga pagi, walau akhirnya aku tetap dapat tidur. Harini masih belum keluar dari kamarnya ketika aku berpamitan.

“Terimakasih, Anak, telah mengantarkan Harini kemarin. Jika ada kesempatan, mainlah kembali kemari. Atau lusa boleh kembali, akan ada Sima Yadnya di sini, pastilah sangat ramai nantinya. Akan ada banyak makanan.” Ucap ayah Harini dengan tersenyum ramah. Beliau telah begitu tuanya, terlihat lebih seperti kakek Harini daripada ayahnya.

“Terimakasih, Bapak, telah menyediakan tempat bagi saya untuk menginap. Jika tidak ada halangan, sahaya akan main kembali kemari. Sampaikan pamit saya pada Harini”

“Harini belum bangun sepertinya, dia belum keluar dari kamarnya. Nanti akan Bapak sampaikan bahwa Anak telah berpamitan.”

“Baiklah, terimakasih, Bapak. Sahaya pamit undur diri.”

Aku keluar dari rumah Harini, menapaki tanah lembab karena embun. Cuaca masih dingin ketika aku hendak pulang. Sekitar berapa jauh dari rumah Harini, terdengar suara orang berlari kecil dari belakang. Aku menoleh, Harini!

“Kanda!” teriak Harini.

“Harini?!” tekasku. Dia masih tersengal-sengal karena berlari. Aku memandangi wajahnya yang kelelahan itu. Terukir senyuman di wajahnya ketika mendekati diriku. Lalu dia meraih tangan kananku dan memberikan sesuatu.

“Harini berikan kain ini agar Kanda tiada melupakan Harini.” Kata Harini sambil menatapku. Dia masih tersenyum kecil.

“A..Ah..hmm.. terimakasih, Harini.” Aku tersenyum. Ingin ku memeluknya. Tapi aku belum bisa melakukan itu. “Kau tidak marah karena semalam?”

Harini tertunduk malu menahan senyumnya. Betapapun aku masih dapat melihat wajahnya yang merona itu di kala pagi yang dingin ini.

“Harini sulit tidur dan terbawa perasaan tadi malam. Mainlah kemari esok lusa, Kanda. Harini ingin segera bertemu, sudah rindu.”

“Bukankah sekarang kita sedang bertemu? Kenapa sudah rindu?” Kataku sambil menatap matanya yang indah itu. Aku tersenyum. “Jika tiada halangan, aku akan main kemari. Bukankah kita juga masih dapat bertemu di sungai, Harini?”

“Berjanjilah Kanda tidak akan menghilang dari Harini.” Dia masih memegang tanganku. Aku menggelengkan kepala.

“Tentu tidak. Sekarang aku harus pulang, keluargaku pastilah menungguku yang tidak kunjung pulang sejak sore kemarin.” Aku berusaha melepas tangan Harini, ada guratan kecewa di wajahnya. Lalu aku melepaskan kalung yang berbandul batu hitam dari leherku, kuberikan pada Harini. “Harini telah memberi kain, aku akan memberikan kalung ini.”

Aku pulang dengan langkah tegap, yakin bahwa Harini memiliki rasa yang sama padaku. Aku sungguh sangat bersemangat, tak sabar menunggu lusa untuk datang kembali menuju desa Samiraja yang akan melangsungkan Sima Yadnya. Aku sungguh tak menyangka akan seperti ini jadinya, benar juga pepatah “Bukan titik yang membuat tinta, tapi tinta yang membuat titik. Bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.

***

Selesai mencari kayu bakar, aku tidak jadi mampir ke tempat Harini. Sungguh berat sekali kayu-kayu ini, cocok dijadikan arang setelah dibakar nanti. Rindu makin menggebu saat tersadar sulit dapat bertemu, aku menahan sekuat tenagaku baik beban kayu di pundakku maupun rindu yang menggebu.

Sepintas lalu, aku tertarik pada cerita Paman tadi tentang bangunan bernama Sivagrha itu, seberapa besarkah candi itu? Suatu saat aku ingin ke sana. Memandangi kemegahannya yang orang bicarakan bahwa komplek candinya yang luas dan menjulang tinggi salah satu candinya akan dibuat ratusan candi pewara di sekitarnya.

Parambrahma

Sivagrha (Parambrahma)

Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke suatu kedai sebelum melewati perbatasan desa. Cuaca yang terik membuatku sangat kehausan dan lapar. Sambil meletakkan bawaanku berupa potongan kayu yang berat-berat itu di luar dekat dengan kuda-kuda yang diikat, aku melihat beberapa orang yang sedang berbincang-bincang di dalam kedai dengan sangat seriusnya, tidak ada yang ku kenal, tapi kulihat mereka memang tidak saling mengenal semua. Aku yang penasaran ikut mendekat untuk mengikuti pembicaraan. Memang kedai menjadi tempat bertukar informasi dan mengetahui dunia luar, aku mengetahui sedikit tentang Mantyasih pun dari kedai, juga tentang Kamulan Bhumisambara yang begitu megahnya itu, selain dari Harini, aku mengetahui dari kedai. Setelah mendapatkan makananku dan minuman sekadarnya, aku langsung mendekat.

“Tidakkah kau mendengar, kemarin saja ada orang yang diculik oleh rombongan orang berpenutup muka hitam yang menaiki kuda.” Kata seorang yang berkumis dan berikat kepala kain yang sudah tiada jelas warnanya.

“Apakah kiranya itu? Aku sempat mendengar tentang penculikan itu, tapi kukira itu biasa.” Timpal orang yang ompong.

“Konon, paksha Kapalika yang melakukannya? Tahukah kalian tentang Kapalika itu?” Celetuk yang berkumis tadi.

“Benarkah?! Tidakkah itu sudah punah di Jambhudvipa(India) sana? Tetapi di Yavabhumipala ini masih ada?” orang yang ompong berkata lagi.

“Apa sebenarnya paksha Kapalika itu?” aku yang baru saja datang langsung bertanya. Semua orang menoleh padaku, tapi tak beberapa lama ada yang menjelaskan pula.

“Itu adalah kelompok orang yang melakukan peribadatan dengan pengorbanan. Bukan hanya hewan yang dikorbankan, melainkan manusia. Tak heran jika yang diculik kemarin adalah seorang pria yang berparas tampan untuk dijadikan korban. Konon katanya begitu. Meski banyak saksi mata yang melihat kejadian itu, tapi mereka tetap saja melanjutkan aksi mereka. Mereka mengorbankan manusia pada calon bangunan Parambrahma yang utama” Tukas seorang yang lebih tua.

“Benarkah itu?! Keterlaluan!” Meja digebrak oleh orang yang berkumis tadi dengan kesal. Semua kaget. Tiba-tiba melesatlah pisau tebang entah dari mana yang mengenai orang berkumis tadi tepat di jantung!

Jleb!

Tanpa menunggu dia sadar, bahkan tanpa teriakan dari orang berkumis itu, tiba-tiba saja sudah tewas dan tergeletak jatuh dari kedudukannya. Sontak semua yang berada di kedai terkejut dan panik, semua melarikan diri dan berhamburan menuju ke luar. Orang-orang terbirit-birit menuju pintu, sehingga suasana dalam kedai berbilik bambu itu kacau. Kuda-kuda meringing panik, aku yang sedari tadi menyimak pembicaraan pun ikut panik dan berlari. Namun ketika berlari mencari perlindungan, tiba-tiba ada lagi suara pisau tertancap, kali ini bukan hanya satu, melainkan 3 kali secara berurutan. Masing-masing kulihat sepintas mengenai orang-orang yang kulihat sempat berbicara di kedai itu! Celaka! Aku tadi sempat berbicara di sana! Akankah aku jadi sasaran selanjutnya?! Aku tiarap dan merangkak keluar hampir terinjak oleh orang-orang yang berhamburan keluar.

Setelah berhasil keluar, aku berlari sekencangnya tanpa sempat berpikir untuk mengambil kayu milikku yang tadi kubawa. Aku tak tahu berlari ke arah mana, setidaknya aku tidak mengambil jalan bersamaan dengan orang lain. Benar, aku lari sekencangnya entah kemana, nafasku memburu karena panik luar biasa. Selain itu aku tidak memiliki ilmu kanuragan apapun, melainkan hanya tenaga kasar, tentu saja aku tidak dapat membela diri terhadap orang-orang pelempar pisau yang menggunakan tenaga dalamnya, sehingga pisau yang dilemparkannya itu melesat sangat cepat, bagai tiada lagi yang lebih cepat! Dalam lariku, aku sempat berpikir apakah kiranya yang tadi membunuh adalah paksha Kapalika, atau orang-orang yang lain yang berkepentingan dengan itu.

Tiba-tiba saja kakiku terjerat, seperti terikat secara tiba-tiba. Aku yang dalam lariku yang kencang itu langsung jatuh tersungkur tak berdaya. Jatuh pada jalan yang berbatu dan berrumput liar, membuat beberapa bagian tubuhku lecet dan berdarah seketika. Tak sempat aku menyadari hal itu, aku terus berusaha merangkak maju sebelum akhirnya aku tersadar ada sosok bayangan berkelebat dan tiba-tiba saja di depanku. Aku hanya melihat kakinya yang tidak beralas itu, lalu mendongakkan kepalaku untuk melihat orang itu, ternyata dia berpenutup wajah! Benarkah dia anggota Kapalika?! Sontak kepalaku ditendang dalam keadaan tersungkur itu, aku terpental sebelum akhirnya rasanya dunia berputar-putar. Aku mencoba menahan sekuatnya agar kesadaranku tetap terjaga. Belum sempat aku bangkit dari keadaanku yang terpental, tiba-tiba ada sosok lain yang berkelebat menyerang orang yang menendangku tadi. Cukup sekali serang, maka dia sudah mati, peristiwa itu sangat cepat, tapi aku masih samar-samar melihat sosoknya. Karena sudah tidak kuat menahan kesadaran, dunia makin berputar cepat rasanya, lalu aku pingsan. Tiba-tiba gelap!