Kusumaningwigati: 5 Antara Hindu dan Buddha

by membualsampailemas


Hari mendung kala itu, tapi aku tahu tiada akan hujan karena mendung di tengah musim kemarau seperti ini. Hari ini adalah hari Sima Yadnya di desa Harini, aku telah diundang untuk berkunjung ke desanya, sekadar untuk melihat dan mampir di rumah Harini. Perasaan rindu yang menggebu telah menghantuiku semalam, sulit tidur karena memikirkan Harini. Sedang apa dia sekarang? Apakah sama sepertiku punya perasaan?

Aku berangkat kala matahari sepenggalan naik, selain karena memastikan hari tidak hujan, juga karena Sima Yadnya dilakukan setelah matahari lengser dari puncaknya siang ini. Pastilah di sana sedang dilakukan persiapan upacara besar-besaran, menghiasi sudut-sudut desa dengan kembang. Dalam upacara penyerahan Sima ini biasanya diikuti dengan pembukaan tanah yang kurang menghasilkan seperti ladang dan kebun menjadi lahan yang menghasilkan seperti sawah. Ini merupakan cara untuk membuat rakyat menjadi sejahtera, jadi selain dari dibebaskan pajak, maka tanahnya pun akan dimakmurkan. Dalam rangkaian awal upacara ini biasanya digambarkan bagaimana para pemimpin desa yang menerima Sima dari raja membagi-bagikan harta kekayaannya pada seluruh warga dari berbagai lapisan. Harta yang diberikan biasanya berupa seperti wdhian untuk busana laki-laki dan ken untuk busana perempuan dengan berbagai corak yang indah, serta emas dan perak. Tetua dari desa-desa tetangga juga diundang.*)

Sesampainya di desa Harini, suasana telah ramai. Aku langsung menuju rumah Harini yang ternyata tengah mempersiapkan kain-kain yang kemarin banyak sekali dicuci Harini. Aku terhenti sejenak memandangi suasana rumah itu. Senyum tergurat di bibirku kala melihat Harini keluar dari pintu untuk membawa beberapa helai kain untuk diserahkan pada seorang ibu-ibu. Beberapa saat Harini tidak menyadari kehadiranku, tapi ketika aku hendak melangkah mendekatinya, tiba-tiba dia terhenti gerakannya dan menoleh padaku. Senyum gembira terpancar dari wajahnya.

“Kakanda Nawa!”. Katanya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya yang jenjang itu. Aku mendekat. Dia berdandan tidak seperti kemarin kala aku melihatnya, kali ini lebih elok dengan kemben yang melilit setengah tubuhnya, disertai kain putih tung menutupi pundaknya, rambutnya disanggul dengan rapi. Wajahnya berseri-seri. Aku mendekat dan meraih tangannya.

“Aku tidak bisa tidur tadi malam, memikirkanmu.” Kataku. Harini tersipu lalu menunduk. Lalu menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya. “Mana ayah dan ibumu?”

“Sudah berangkat ke tempat upacara, Kanda.”

“Apa yang bisa ku bantu?” tukasku. Tapi Harini menggelengkan kepala sembari tersenyum. Aku heran. “Tidak ada?” kataku penasaran.

“Kanda hanya perlu di sini, menemani Harini.” Kata Harini masih sambil memegang tanganku. Aku menatapnya sayu. “Harini rindu.” Katanya perlahan sekali sembari menunduk malu, nyaris tidak terdengar.

Aku balas memegang tangannya, lalu menarik tubuhnya untuk kupeluk. Agak lama kami berpelukan, kepala Harini kudekapkan di dekat pundakku. Setelah agak lama kami berpelukan, ku jauhkan sedikit tubuh Harini agar dapat menatap wajahnya, dia sungguh mempesona. Inikah tandanya daku tergila-gila pada wanita, dialah Harini namanya. Sepintas lalu kutatap mata sayunya, lalu kukecup keningnya dengan kasih sayang adanya. Harini hanya memejamkan mata, tiada melihat kecuali mendekap tubuhku begitu rupa. Aku kembali memeluknya penuh kerinduan dan cinta.

“Tidak baik kita berduaan di sini selagi upacara penyerahan Sima. Ayo kita keluar dan lihat bersama.” Kataku. Harini tidak menjawab, hanya menatapku masih dengan senyumannya. Aku menggandengnya keluar rumah untuk melihat upacara.

***

Aku tersadar dari tidurku yang terasa begitu lama. Nyeri masih menyelimuti kepalaku, rasanya sakit sekali, juga perih terasa di sekujur lengan kananku. Aku tersadar dari pingsanku entah dimana, kala aku membuka mata hanya terlihat bayangan samar seorang pria berjenggot dan berkumis putih lebat dengan sanggulan rambut ke atasnya itu. Aku pun tiada jelas melihat wajahnya karena pengelihatanku masih kabur. Tampak lelaki itu sudah cukup tua, tapi badannya tegap dan terlihat berwibawa serta bersahaja. Dia hanya memakai kain yang dilibatkan di pinggangnya begitu rupa serta selendangnya yang disampirkan pada lehernya. Aku berusaha bersuara ingin menanyakan dimana daku, tapi masih belum kuat jua.

“Beruntung lehermu tidak patah, Nak.” Terdengar suara yang besar dan berwibawa. Tampaknya itu suara bapak berselendang putih tadi. “Jangan dipaksakan untuk bicara, nanti rahangmu patah jadinya. Seorang pengecut yang menendangmu tadi siang sudah mati. Berani sekali dia menendang orang awam yang tidak memiliki ilmu kanuragan untuk membela diri. Sekarang kau aman, Nak. Tinggallah di gubukku sejenak hingga lukamu sembuh, kau cukup beruntung karena tidak terkena pisau terbang, hanya lecet di sekujur tubuh.”

Mukaku terasa tebal, mungkin lebam karena tendangan tadi. Leherku agak nyeri tapi sudah sedikit lebih baik karena aku bisa tersadar. Siapakah sebenarnya orang tua ini? Diakah yang berkelebat membunuh paksha Kapalika yang memburuku tadi? Berarti dia adalah pendekar yang sakti karena mampu menghabisi hanya dalam sekejap mata, bahkan tanpa aku sempat melihatnya!

“Cucuku akan merawatmu untuk sementara waktu, karena sebetulnya aku tidak pandai merawat seseorang. Untunglah kau tidak terkena serangan tenaga dalam sama sekali, baik itu pukulan maupun tapakkan. Bahkan orang yang menendangmu pun mungkin karena terlalu menyepelekan sehingga tidak menggunakan tenaga dalamnya.” Katanya sambil duduk di ranjang tempatku berbaring. Aku hanya mampu melihatnya dengan mata yang hampir tertutup karena memang agak sulit membuka mata. “Wiraksini! Kemarilah, ambilkan kain baru untuk mengganti perbannya.” Teriaknya kepada seseorang di luar. Wiraksini lah namanya, mungkin dia adalah cucu dari pendekar itu.

Suasana telah gelap, lampu minyak telah dinyalakan, dari kejauhan terlihat sesosok wanita yang anggun cara berjalannya, dia berpakaian seperti Harini, terbalut kemben setengah dadanya, memperlihatkan kulit pundaknya yang cerah terpantul cahaya dari lampu minyak, sehingga tampak berkilat-kilat, rambutnya digelung ke atas sehingga terlihat lehernya yang jenjang. Tapi masih sulit bagiku untuk melihat secara jelas wajahnya. Dalam hati aku bersyukur sekali masih selamat, dan masih ada yang menolongku. Bagaimana jadinya jika tidak ada pendekar itu, tapi aku sama sekali belum mengetahui nama beliau. Terbayang olehku wajah Harini yang sayu, menatap mataku penuh makna, aku rindu padanya. Mungkin aku akan lama tidak menemui Harini jika keadaanku begini, rindu berpacu dengan waktu, makin kesana makin menggebu dan mengharubiru. Tunggu aku Harini.

**

Jika mendengar tentang cerita dunia persilatan, banyak sekali pendekar yang mahasakti mengembara begitu rupa, menyelinap diantara orang-orang awam, bahkan menjadi paria (pengemis). Pernah kudengar jejak Pandyakira Tan Pangaran (Pendekar Tanpa Nama) yang kondang kaloka, termasyhur bukan karena dia tidak memiliki nama yang dapat menjadikannya terpanggil oleh orang lain, namun karena ilmu silatnya yang begitu rupa sehingga tiada yang dapat mengalahkannya hingga sekarang ini. Kukira umurnya sudah sangat tua jika dia belum mati. Pernah kudengar cerita-cerita seperti cerita legenda, tapi entah itu nyata ataupun tidak, bahwa terjadi peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar oleh Pendekar Tanpa Nama berpuluh-puluh tahun lalu, aku sendiri tidak tahu pastinya kapan. Tapi sungguh cerita itu sangat kondang kaloka, menyebar dari kedai ke kedai, diceritakan dari mulut ke mulut begitu rupa, sehingga kebenarannya telah samar. Aku sendiri sebagai orang awam kurang mempercayai cerita seperti itu, melainkan aku sendiri yang melihatnya. Aku percaya pendekar itu ada, karena aku telah diselamatkannya dari paksha Kapalika. Terjadi begitu saja hingga hampir saja tanpa disadari mata, bayangan berkelebat dengan cepat, sangat cepat bagaikan tiada yang lebih cepat lagi darinya, sehingga mampu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan sangat singkat, bahkan sekedipan mata pun tak sampai!

Satru

Rakai Pikatan adalah pemeluk Hindu Siwa, sedangkan istrinya, Sri Kahulunan Pramodawardhani adalah pemeluk Buddha Mahayana, keselarasan yang terjadi di bumi Yavabhumi pala ini tetaplah harus dijaga, agar tiada orang yang berperang atas nama agama. Bukankah orang Yavabhumipala pun sebenarnya tiada jelas beragama apa? Mereka mengaku pemeluk Buddha tapi masih saja mabuk-mabukan, sama sekali tidak mencerminkan keBuddhaannya, juga yang beragama Hindu, tiada berbeda dari mereka. Jika aku selama ini yang merupakan orang awam, melihat dari sudut pandang manusia bawahan, artinya aku bukanlah orang yang berkuasa, tapi langsung berbaur dengan masyarakat lainnya, bahwa mereka semua sama saja, entah beragama apa. Dari kedai ke kedai, dari rumah ke rumah, aku melihat memang mungkin yang membuat orang-orang Yavabhumipala terlihat selaras, tidak mempermasalahkan agama karena mereka sendiri tidak peduli dengan agama mereka, khususnya orang-orang kebanyakan yang langsung berada di bawah. Mungkin beda halnya dengan golongan atas, yang berkuasa, mereka kadang mengatasnamakan agama agar rakyatnya menyembah pada satu tertentu. Bukan tidak mungkin bahwa bisa saja terjadi perang yang mengatasnamakan agama di Yavabhumipala.

Ku dengar dari suatu kedai waktu itu, bahwa sepeninggal Samaratungga yang hanya memiliki puteri semata wayang yaitu Pramodawardhani yang telah menikah dengan Rakai Pikatan, sehingga tahta dengan sendirinya akan jatuh pada Rakai Pikatan. Meski Samaratungga memiliki adik laki-laki yaitu Balaputradewa yang juga beragama Buddha. Karena Balaputradewa tidak melihat adanya celah untuk mendapatkan tahta kerajaan Medang ini, maka dia pergi ke Suvarnadvipa dan konon katanya telah menaklukkan sebuah kerajaan besar. Sekarang telah jadi sebuah kerajaan pusat agama Buddha di Suvarnabhumi sana, aku pun belum pernah melihatnya. Cerita seperti itu hanya kudapatkan dari kedai ke kedai. Jika Rakai Pikatan dan Pramodawardhani bisa bersatu, tidakkah aku dan Harini bisa bersatu pula?

*) beberapa bagian dipetik dari Novel Nagabumi II karangan Seno Gumira Ajidarma

Iklan