Rehat Penulis

by membualsampailemas


Pembaca yang budiman, ijinkan saya rehat sejenak dan berpikir bagaimana kelanjutan nasib Nawa dan Hairni kelak di serial cerita bersambung ‘Kusumaningwigati’ yang sedang saya tulis ini. Bagaimana pun, saya masih amatiran dan masih perlu banyak belajar dari banyak penulis, oleh karenanya saya terus menerus membaca apa yang bisa saya baca, demi mendapatkan ilmu pengetahuan baru tentang menulis, baik itu dari segi bahasa, majas, kosa kata, sajaknya, ceritanya, dan sebagainya.

Rehat

Jujur, dalam menulis serial cerita bersambung ini sebenarnya awalnya saya iseng karena barusaja selesai membaca novel karangan Seno Gumira Ajidarma, Nagabumi II, yang tentu saja banyak menginspirasi saya dalam pembuatan cerita bersambung ini, antara lain latar dari cerita ini adalah tahun 700-800 an Masehi. Begitu sulit menggambarkan bagaimana sebenarnya kehidupan di jaman itu, pun sedikit kesana-kemari telah saya pertimbangkan untuk mengedit beberapa kejadian atau kebudayaan yang sebenarnya. Misal mengenai pakaian wanita jawa waktu itu, sebenarnya mereka menerut literatur tidak memakai kemben, tapi memakai kain seperti pria yaitu tanpa menutupi dada alias telanjang dada, tentu saja saya tidak ingin pembaca salah mengartikan semua itu. Juga tentang pembangunan Prambanan (Sivagrha), yang saya kaitkan dengan Kapalika yang memang itu benar-benar ada di India sana. Ada literatur yang mengatakan begitu.

Pembaca yang budiman, sebenarnya cerita ini telah terkonsep hampir matang di kepala saya. Namun karena saya masih belum dapat merealisasikan hingga selesai tulisan ini,–yang sebenarnya ingin menonjolkan sisi romantisme– sehingga saya masih bingung bagaimana menentukan takdir tokoh di dalamnya kelak. Jadi, mohonlah maklum jika beberapa tulisan mungkin ada yang penerbitannya kurang berkenan, atau bahkan tulisannya dan ceritanya kurang berkenan. Menulis ini sebenarnya lebih mudah dari menulis cerpen yang bermutu, karena sebuah cerpen itu sebenarnya merupakan cerita yang sangat padat dan penuh makna yang dijejalkan dalam kata, sedangkan cerbung hanyalah rentetan cerita yang tak perlu dipadatkan penyampaian isinya, karena penulis bebas menaruh bagian mana yang mengajarkan, menuturkan sesuatu, dan bagian mana yang tidak.

Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, jika pembaca pernah mendengarnya di waktu SD dulu atau SMP dulu, adalah pasangan yang berbeda agama dari dua Wangsa (Dinasti) yang berbeda yang pernah ada di tanah jawa. pada masa itu, Hindu mulai menemukan kebangkitannya kembali di Jawa setelah beberapa saat Buddha mendominasi. Agama Buddha menjadi berpusat di Sumatera, sedangkan Hindu di Jawa. Saya juga menggunakan rujukan bahwa Balaputradewa tidaklah kalah perang dengan Rakai Pikatan, namun karena memang dia tidak memiliki kuasa apapun lagi di Jawa sehingga dia memilih untuk pergi ke Suvarnadvipa dan memimpin Sriwijaya. Juga Balaputradewa yang selama ini digambarkan sebagai adik dari Pramodawardhani, tapi saya gambarkan sebagai paman dari Pramodawardhani. Adapun sebenarnya hanyalah Tuhan yang tahu sejarah itu yang sebenarnya, manusia hanya menduga-duga dari prasasti yang pernah ditemukannya.

Nawa adalah tokoh yang tadinya ingin saya gambarkan sebagai seorang pendekar, namun alangkah lebih enaknya dan familiarnya jika dia saya gambarkan sebagai orang yang biasa saja. Sedangkan Harini adalah wanita yang lemah-lembut dan agak manja. Dua tokoh ini adalah tokoh utama dalam cerita, sehingga inti dari cerita bersambung ini sebenarnya adalah sejarah dan romantisme di antara mereka berdua. Sambil bercerita, sambil mengingatkan sejarah tanah Jawa.