Kusumaningwigati: 6 Bapak Tua dan Wiraksini

by membualsampailemas


Kapalika

Aku agak khawatir dengan keadaan Harini berkaitan dengan penyerangan tiba-tiba oleh sekelompok orang berpenutup muka terhadapku. Jangan-jangan mereka memang sedang mencari mangsa lagi untuk dijadikan persembahan pada acara peribadatan mereka yang keji itu. Teringat pula aku bahwa aku sebenarnya ingin mampir ke desa Harini, sekedar melepas rindu yang menyiksaku sepanjang waktu karena tak dapat bertemu Harini, akankah aku ke sana setelah luka-lukaku selesai? Bagaimana aku membalas kebaikan orang tua yang menolongku. Sementara dalam perawatan ini, aku merasa hanya butuh waktu 2 hari untuk sembuh total, benar-benar sembuh sehingga seperti tiada yang pernah tahu telah terjadi musibah padaku sebelumnya. Aku heran mengapa hanya 2 hari? Tidakkah itu terlalu cepat untuk waktu penyembuhan? Pun luka-luka kulit yang harusnya mengoreng pun sekarang benar-benar telah tertutup meski masih terdapat bekas, tapi sungguh itu benar-benar telah sembuh. Leherku pun sudah tiada terasa sakit lagi, aku dapat berbicara sejak sehari setelah perawatan.

Mungkin ada kaitannya dengan terapi yang dilakukan orang tua itu dengan selalu menapakkan tangannya ke punggungku dan telapak kakiku sehingga terasa hangat bahkan panas yang harus kutahan, tapi alangkah mengejutkan kulitku tiada terbakar. Seingatku hanya butuh 3 kali diperlakukan seperti itu, namun sungguh ajaib benar terapi itu. Selain dengan menapakkan tangan, aku juga diberi sesuatu seperti gumpalan sebesar kerikil yang entah terbuat dari apa, yang memang rasanya sungguh sangat pahit terasa. Hampir mirip tahi kambing bentuknya, sehingga aku selalu ingin muntah ketika memakannya, tapi Wiraksini selalu memaksaku. Wiraksini yang selalu memberikan obat itu, ada 6 kali dia memberikannya padaku dan memaksaku untuk menelannya.

Sebenarnya Wiraksini tak kalah cantik dengan Harini juga dia lebih cerah kulitnya, tapi lebih galak dan judes. Aku selalu ngeri ketika dia memaksaku, mukanya yang sebenarnya cantik menjadi agak mengerikan jika memaksaku meminum obat itu. Selain itu aku belum pernah melihatnya tersenyum, mungkin senyumannya akan mempercantik dunia jika ia bersedia, namun dia sama sekali terlihat tak bersedia. Lakunya memang anggun, tapi sama sekali ekspresinya datar. Aku pernah mengajaknya bicara pada suatu ketika, namun dia mendiamkanku. Tapi walau bagaimanapun itu, aku berterimakasih pada kedua orang ini, Bapak tua yang telah menolongku, dan Wiraksini.

Ketika aku sudah sanggup berdiri, bahkan menggeleng-gelengkan kepala dalam dua hari, aku pergi mendatangi Wiraksini yang sedang memasak entah apa, sepertinya dia memasak obat, karena baunya sungguh tidak mirip makanan, bahkan kadang berbau amis dan getir. Aku heran bagaimana dia bisa tahan.

“Permisi Puan, terimakasih telah merawat sahaya yang tiada dikenal ini dengan baik, sehingga sahaya telah dapat berdiri seperti sedia kala. Kiranya sahaya juga ingin bertemu dengan Bapak Tua.” Kataku. Wiraksini tetap mengaduk-aduk cairan berwarna abu-abu hitam di dalam kuali yang terbuat dari tanah itu. Dia diam dan tiada menjawab sepatah kata apapun.

“Bolehkah kiranya sahaya membantu?” sambungku. Aku menunggu jawabannya, namun dia tiada menjawab pula. Aku memberanikan diri untuk mendekat sekedar untuk membantu mengaduk. Tiba-tiba dia berdiri, aku berhenti dalam langkahku. Dia menatapku lalu pergi keluar, aku bingung hendak bagaimana. Aku memutuskan untuk mengikutinya saja.

Kulihat di luar dia menemui Bapak Tua itu, dia berbicara sedikit padanya. Bapak Tua menoleh padaku.

“Kau sudah sembuh, Nak?”

“Sudah, Bapak. Terimakasih atas segalanya. Entah bagaimana saya dapat membalas kebaikan Bapak.” Kataku sambil menundukkan kepala berkali-kali.

“Tidak perlu kau membalasnya. Aku hanya menunaikan kewajibanku untuk menolong orang yang tiada berdaya.” Katanya. Aku melirik Wiraksini yang berdiri di sebelah Bapak Tua itu.

“Sahaya belum tahu siapakah kiranya nama Bapak ini. Berkenankah Bapak memberitahukannya agar sahaya kelak dapat menemui atau mencari Bapak untuk sekedar berterimakasih?” kataku. Dia tersenyum.

“Aku seorang tabib yang selalu berkelana. Tempatku disini pun hanya sementara, Nak. Namaku Chandramerta.” Katanya ramah, beda sekali dengan ekspresi Wiraksini yang masih menatapku tajam, tatapan curiga tapi tak curiga. “Kemanakah Anak hendak pergi setelah ini?”

“Mungkin sahaya hendak pergi ke desa Amertabhumi.”

“Disanakah rumahmu?” katanya sambil mengerutkan alis.

“Tidak, disana ada seseorang yang hendak sahaya temui, Bapak.”

Bapak Tua itu mengelus jenggot putihnya yang lebat. Masih mengerutkan alisnya, dia berkata,

“Aku khawatir terhadap orang di sana.” Katanya sejenak. Lalu menalanjutkan kembali, “Segeralah pergi,”. Aku tertegun mendengarnya. Adakah sesuatu terjadi di sana? Harini?! Ya, bagaimana keadaannya?! “Aku tahu kau juga pasti hendak segera pergi, namun ingat walau lukamu sudah benar-benar pulih, tapi jangan tergesa untuk berlari.”. Aku menundukkan kepala, sepintas kulihat wajah Wiraksini, dia masih juga berekspresi seperti itu.

“Terimakasih kepada Bapak, dan juga Wiraksini atas segalanya yang telah diberikan pada saya.” Kataku. Kulihat lagi wajah Wiraksini, kali ini dia sedikit tertegun. Mungkin karena aku menyebut namanya baru sekali ini. Kami secara resmi belum pernah berkenalan. Aku pun belum memberi tahu namaku pada mereka berdua.

“Sudahlah. Tidak apa, Anak. Mengenai pil yang telah kau makan itu, sebenarnya adalah racun yang baru ku uji.” Katanya dengan tenang. Aku terbelalak!

“AH?”

“Hmm. Jangan kaget. Aku adalah tabib pengembara, aku telah mengembara hingga Jambhudvipa dan Negeri Atap Langit, bagaimanapun obat pun adalah racun bagi orang sehat, namun racun dapat menjadi obat pada orang sakit. Aku berkewajiban memberitahukanmu tentang hal itu karena kau menjadi tanggungjawabku, jika suatu saat kau mengalami sesuatu yang aneh pada keadaanmu, mungkin itu karena pil itu. Tapi melihat kau tidak apa-apa sekarang, berarti itu berakibat baik untukmu. Maaf telah membuatmu sebagai bahan uji coba.”

“Bagaimanapun sahaya haruslah tetap berterimakasih karena pengobatan itu, Bapak. Ijinkan sahaya undur diri, karena ada seseorang yang benar-benar ingin ditemui di sana.”

“Aku mengerti, pergilah.”

Iklan