Kusumaningwigati: 7 Cinta Bercerita

by membualsampailemas


Aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Aku seperti orang yang bingung dan kehilangan arah. Entah kenapa, rasanya aku ini menjadi asing dengan dunia ini, sepertinya baru saja kemarin aku bertemu dengan Bapak Tua itu dan Wiraksini, tapi mengapa sudah terasa lama sekali, mengapa aku melihat ada yang berbeda dengan lingkungan ini, dengan hutan ini, dengan tanah ini, aku merasa asing, begitu asing sehingga terasa tiada yang lebih aneh di alam ini selain diriku. Aku melangkah sudah agak jauh dari tempat Bapak Tua tadi, aku lupa jalan mana yang kutempuh tadi, dan aku hendak kemana rasanya aku tiada tahu. Aku berada di tengah hutan belantara!

Aku menghentikan langkahku sejenak, memandangi tanah yang terasa basah karena tiada terkena sinar matahari langsung karena begitu lebatnya pohon-pohon yang menjulang tinggi ini. Aku heran, sangat heran, bagaikan tiada lagi yang lebih heran dengan hutan ini, bagaimanapun aku telah tinggal di daerah ini begitu lama tapi aku belum pernah menjumpai pepohonan seperti ini, bahkan hutan seperti ini! Sungguh aneh, aku merasa asing di tempatku sendiri, atau memang aku adalah asing? Bagaimana mungkin aku bisa berada sangat jauh sehingga aku tiada tahu aku berada di mana. Apakah ini masih mimpi? Sekarang aku harus ke arah mana untuk menuju ke tempat Harini? Ku menengadah ke atas, hanya terlihat dedaunan rumbun yang begitu rupa hampir menutupi langit, di sela-selanya muncul sinar matahari menembus hingga sampai ke tanah, bahkan ada yang belum sampai ke tanah telah tertahan dedaunan lain yang lebih rendah. Aku mendekat ke sebuah pohon besar, kuusapkan tanganku pada batangnya, terasa lembab.

“Permisi.” Kataku. Kepada siapapun yang berada di hutan ini, kepada siapapun yang menunggui pohon rindang ini. Betapapun, aku percaya bahwa setiap pohon di hutan memiliki jiwa, sama halnya dengan manusia, mereka hidup hanya saja terlihat tak bergerak, mereka memiliki kekuatan alam yang tersembunyi. Siapakah kiranya Bapak Tua itu?

Wana

Beberapa burung kicau berlalu lalang di dahan pohon, hinggap dari satu dahan ke dahan lain. Aku menyaksikan drama alam yang sesungguhnya. Mereka berkejaran, sepasang burung yang bercicitan, mungkin hendak kawin. Kulihat juga kepik merah di daun semak yang bisa kusibak untuk memberi jalan, betapa lebatnya dedaunan di sini. Aku juga was-was jika saja ada babi hutan di sekitar sini, atau bahkan hewan buas seperti harimau.

Aku menoleh ke belakang, berusaha mencari jejak setapakku tadi, ingin ku runut jalan yang telah ku tempuh hingga sekarang ini sejak dari tempat Bapak Tua tadi, tapi aku seolah menemui kebuntuan.. seperti berbeda dari jalan yang tadi kutempuh, di belakangku terasa tiada jalan! Apakah aku disimpe? Sial, apa yang harus kuperbuat? Terpaksa aku harus memilih suatu arah yang akan kujalani, entah menuju kemana itu, setidaknya aku harus bertemu seseorang untuk bertanya dimanakah aku ini.

Betapapun, sungguh indah hutan ini, burung-burung terdengar bernyanyi bersahutan, suara dedaunan yang saling bergesekan karena angin menerpa membuat suasana makin terasa ramai walaupun sesungguhnya sepi, terik matahari pun tiada terasa hingga bawah sini karena pepohonan rindang memayungi. Aku berjalan perlahan karena belum tahu daerah ini, terus berjalan lurus entah kemana, pastilah aku harus bertemu jejak manusia, dan bagaimanapun aku memang harus bertemu manusia untuk sekedar kutanyai jalan menuju pulang.

 

Aku ingat ketika itu, ketika Harini dan aku lari dari desa yang sedang mengadakan Sima Yadnya.

“Kanda, lihatlah, sungguh ramai..!” kata Harini sambil tersenyum gembira, dia terlihat sungguh gembira bagaikan anak kecil yang menemukan mainannya. Aku memandanginya saja dari samping belakang. Memang sungguh sangat ramai di desa ini sekarang, seperti pesta saja. Bunga merah dan kuning terletak di setiap sudut desa yang penghuninya sekitar 25 rumah ini.

“Harini…” panggilku.

“Ya??”

“Kau sungguh cantik.” Kataku.

Harini tersipu seketika, dia menundukkan kepala. Memang dia sungguh sangat cantik dengan dandanannya itu, bagaikan bidadari yang turun dari langit, hanya untukku.

“A.. ak.. aku,. Ssung..guh mennn… mencintaimu, Harini!”. Aku terbata-bata mengatakannya, sungguh sulit rasanya mengatakan kalimat pendek itu.

“hihi..” Harini cuma tertawa kecil. Apa ini lucu? Aku bingung. “Kanda, sudahlah, tanpa dikatakan pun Harini sudah tahu. Sebenarnya aku ingin mengajak Kanda ke suatu tempat yang mungkin belum pernah Kanda lihat.”

“Ah..?”

“Hmm.. Ayo..!”

Sebenarnya aku sedikit malu pada Harini, karena telah mengatakan itu tiba-tiba. Memang perasaan ini sulit kukendalikan, muncul begitu rupa tanpa peringatan. Harini yang manis, Harini yang cantik, haruskah cintaku mengemis tanpa kau jawab setitik?

Kami berdua menelusupi kerumunan orang-orang yang tumpah di sepanjang jalan desa, Harini menggandeng tanganku, dia berada di depan sebagai penunjuk arah. Aku tak tahu hendak kemana kami ini, dia sangat bersemangat. Saat mencoba keluar dari kerumunan, aku melihat banyak sekali orang dan itu aku yakin tidak hanya berasal dari desa ini saja, melainkan dari banyak desa sekitar. Para ibu menggandeng anak-anaknya yang masih kecil, ada yang digandeng, ada yang digendhong karena masih kecil. Kebanyakan para ibu memiliki anak lebih dari satu, dan itu adalah biasa. Ingus yang meler dari hidung anak-anak menghiasi desa. Lucu, namun beginilah tanah jawa.

Kami menelusup diantara semak-semak yang tak terlalu rimbun, tapi dapat kulihat ada bekas jalan atau setidaknya jalur ini biasa dijadikan jalan walaupun tidak terlalu sering digunakan. Hendak kemana Harini membawaku?

“Kita hendak kemana?” tanyaku. Harini hanya menolehkan kepala tanpa melihatku, tapi ku tahu dia tersenyum geli, sepertinya ada yang lucu, mungkin karena aku sedikit bingung. Dia masih saja terlus berjalan, kini agak cepat, mungkin sudah hampir sampai.

“hihi..”. Hairni masih saja cekikikan di depan. Aku tersenyum melihatnya dari belakang.

Semak demi semak kami lewati, tangan kami menghalau dedaunan yang menghadang di jalan. Daerah ini masih hijau, bagai tak pernah dirambah manusia. Lama kelamaan, aku mendengar suara menderu dan gemricik air. Makin lama, suara itu makin terdengar keras. Air terjun!

“Air terjun!” kataku. Sungguh indah pemandangan dihadapanku sekarang.

Harini berhenti di depanku, memutar tubuhnya menghadapku dan menatapku sambil masih tersenyum riang, sungguh riang, bagai anak kecil yang tiada berdosa dan selalu tersenyum-senyum. Sungguh bahagia. Rambutnya yang panjang dan disanggul  ke atas itu coba diurainya sambil menghadapku. Aku tertegun melihatnya, sungguh cantik betul dia, bagai hapsari yang turun dari kahyangan. Lalu dia menggandeng tanganku kembali menuju sumber suara gaduh air terjun itu.

Kami memulai cinta di sini, di air terjun ini.

Iklan